Dunia Lisa
  • Home
  • Category
    • Mom's Corner
    • Curhat
    • Review
    • Literasi
      • Resensi Buku
      • Artikel
      • Cerita Anak
      • Reportase
      • Puisi
  • Lifestyle
    • Parenting
    • Traveling
    • Kuliner
  • Event
    • SETIP
    • ODOP Estrilook
    • ODOP Blogger Muslimah
    • Tantangan
  • About Me
  • Contact


Lama ya, nggak nulis cernak. Postingan kali ini sengaja diisi ini, karena melihat duo bocil yang di rumah sering begini. Pas dibacakan ini, mereka tertawa karena namanya ada dalam cerita yang emaknya bikin. Ulasan dari segi parentinganya, bisa dibaca di sini.


Boneka Beruang Hawa

Oleh El-lisa

cerita anak boneka beruang hawa


            “Mama ...!” teriak Hawa dengan suara melengking. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan yang tidak kalah volumenya dengan teriakan tadi.

Mama dengan tergopoh-gopoh segera berlari ke ruang depan. Dilihatnya Hawa sudah menangis. Sedangkan Kamil, adiknya yang berusia 3 tahun sedang tertawa sambl memeluk boneka milik Hawa.

“Ada apa, Kak?” tanya Mama meskipun dalam hatinya sudah bisa menebak apa yang terjadi.

“Mainanku direbut adik,” adu Hawa sambil sesenggukan.

“Aku pinjam,” bantah Kamil dengan logat cadelnya.

“Bilang nggak ke kakak kalau minjam bonekanya?” tanya Mama.

“Adik nggak bilang, Ma,” Hawa yang menjawab.

Mama mendekati Kamil dan memeluknya. “Kalau mau pinjam harus bilang dulu sama kakak ya, Dik.”

“Hawa, aku pinjem ya,” kata Kamil sambil menunjukkan boneka beruang kepada Hawa.

“Nggak boleh!” sahut Hawa sambil merebut boneka yang sedang dipegang Kamil dengan cepat.

Melihat boneka beruang direbut dari tangannya, Kamil dengan gerakan cepat kembali menarik tangan kakaknya dan menggigitnya.


Lama nggak nyernak, kali ini saya akan tuliskan cerita anak jenis misteri. Cerita ini masih perlu revisi ulang, tapi saya masih bingung untuk merevisinya. Bagian apa yang perlu diubah agar ceritanya menjadi lebih menarik.

Jam Tua Ayah

Oleh El-lisa

Ding ... dong ... ding ... dong ....!

Rendi menutup telinganya ketika mendengar bunyi jam berdentang  saat jarumnya tepat menunjukkan angka 12.00 tengah malam. Rendi sebal sekali dengan jam tua yang dibawa oleh ayah. Sejak kedatangan jam itu, beberapa keanehan terjadi di rumahnya.

Suara jam tua itu sangat keras dan menyebabkan bulu kuduk Rendi berdiri. Tidak hanya itu saja. Suara jam yang keras tersebut membuat lampu di ruang tengah juga mati. Rendi mencoba menyalakannya, tapi tidak bisa. Padahal ketika pagi hari, lampu di ruang tengah bisa dinyalakan. Rumah Rendi menjadi menyeramkan baginya.

Rendi melangkah keluar dari kamar. Dia berjalan mengendap-endap, kepalanya menyembul dari balik pintu. Ruangan tengah telah gelap. Rendi memicingkan matanya untuk menajamkan penglihatannya. Jam tua di kamar tengah sudah tidak berbunyi, tapi ruangan tengah tidak lagi terang seperti sebelum kedatangan jam tua.

Rendi sebal sekali dengan jam tua itu. Malam ini dia ingin membuat jam tua itu berhenti berbunyi. Sebelum pukul 12.00, Rendi telah membungkus jam tua ayah dengan karton tebal dan kain. Namun, usahanya tidak membawa hasil. Jam tua tetap berbunyi dengan keras dan membuat ruang tengah menjadi gelap.

“Jam itu tetap berbunyi. Rupanya kain dan karton tebal tidak mampu membuat jam itu tidak berbunyi,” keluh Rendi.

Rendi memandang jam tua. Tinggi jam melebihi tinggi badannya. Rendi merinding, ketika ditutup dengan kain, jam ini justru terlihat makin menakutkan. Rendi bergidik, lalu lari masuk ke dalam kamarnya lagi.

“Besok aku harus bilang kepada Ibu agar jam tua itu disimpan saja di gudang,” putus Rendi.

Rendi menutup tubuhnya dengan selimut hingga ujung kepala. Matanya tak bisa terpejam. Dia ketakutan, membayangkan akan muncul makhluk meyeramkan dari jam tua yang ada di ruang tengah.

“Wajahmu kenapa kusut begitu, Rendi?” tanya Ibu ketika Rendi sarapan di meja makan sebelum berangkat ke sekolah.

“Ibu,” panggil Rendi pelan.

“Iya, ada apa, Nak?”

Rendi tidak langsung menjawab. Dia terdiam, bingung merangkai kalimat menjelaskan kepada Ibu tentang keanehan jam tua.

“Kok malah diam?” Ibu menyentuh pundak Rendi.

“Anu, Bu. Aku boleh minta sesuatu ke Ibu nggak?” tanya Rendi.

“Mau minta apa?”

“Hmm ... boleh nggak jam tua yang ada di ruang tengah dipindahkan saja ke gudang?” kata Rendi pelan. Dia takut Ibu mengetahui kalau dia ketakutan dengan adanya jam tua.

“Memangnya kenapa dengan jam itu?” tanya Ibu heran.

“Anu, Bu, suaranya keras sekali,” jawab Rendi berbohong.

“Oh, kalau hanya suaranya yang keras, nanti bisa dikecilkan,” jawab Ibu.

Rendi tidak bisa berkata apa-apa mendengar jawaban ibunya. Dia malu mengatakan hal sebenarnya.

Ding dong ... ding dong ... ding dong ....

Jam tua tersebut tetap berbunyi, meskipun suaranya tidak lagi keras seperti baru pertama datang. Tepat ketika bunyi jam yang terakhir, pet! Rendi tidak bisa melihat apa-apa di ruang tengah. Hanya terlihat hitam pekat dan sepi mencekam. Bulu kuduk Rendi pun berdiri.

Dengan gerakan cepat, Rendi menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut hingga pagi tiba.

“Ibu, jam tua itu dibuang saja,” ucap Rendi pelan sepulang sekolah.

Ibu menghentikan kegiatan membacanya. “Kamu masih terganggu dengan suaranya?”

Rendi menggelegkan kepalanya.

“Lalu?” tanya Ibu heran.

“Nggak jadi deh, Bu!” jawab Rendi setelah lama terdiam tidak menjawab pertanyaan ibunya.

“Pokoknya sebelum jam itu berdentang pukul 24.00 nanti, aku sudah harus menyimpannya ke gudang,” kata Rendi berencana.

Tepat ketika kedua orangtua Rendi telah masuk ke dalam kamarnya, Rendi mengendap-endap keluar dari kamar. Dengan susah payah dia mencoba memindahkan jam tua dengan cara menggesernya pelan-pelan.

“Jam ini berat sekali,” keluh Rendi mengusap peluh di keningnya.

Sedikit demi sedikit Rendi berhasil menggeser jam tua menuju gudang. Rendi pun membuka pintu gudang dan mendorong jam tua agar masuk ke dalam gudang. Tak lupa, Rendi membungkus jam tersebut dengan bedcover miliknya agar suaranya tidak terdengar sampai ke ruang tengah.

“Asyik, malam ini lampu di ruang tengah pasti tidak akan padam. Karena jam tua ini sudah kupindahkan,” ucap Rendi senang. Dua tangannya menepuk-nepuk dada, tanda bangga dengan ide yang telah dilakukan.

Rendi duduk di ruang tengah dan mulai menyalakan VCD player dengan volume yang disetel rendah. Rendi mulai memutar film kesayangannya dan asyik menikmati film yang sedang diputar.

Tiba-tiba....

“Huwa!” teriak Rendi berlari ke arah kamarnya tanpa mematikan vcd player. Rendi sudah ketakutan dan bersembunyi di dalam selimut. Perkiraannya salah. Meskipun jam tua milik Ayah sudah dipindahkan, lampu ruang tengah tetap saja mati.

“Rendi, kamu nonton film lagi tadi malam?” tegur Ibu pada pagi harinya.

Rendi mengangguk lesu.

“Lihatlah, sekarang kamu pasti ngantuk karena nonton film sampai lupa matiin vcd playernya.”

“Rendi lupa, Bu, maaf,” kata Rendi.

“Hari ini bukan hari libur, Rendi. Kamu tidak boleh nonton film hingga larut malam. Bisa ngantuk di kelas nanti,” kata Ibu.

“Aku nggak bisa tidur, Bu, sejak ada jam tua Ayah,” ucap Rendi terus terang.

“Lho, mana jam tua Ayah?” tanya Ibu terkejut melihat jam tua yang sudah tidak ada di ruang tengah.

“Aku pindahkan ke gudang, Bu.”

“Kenapa?”

“Ibu, buang saja jam tua itu. Aku takut,” kata Rendi tanpa menjawab pertanyaan Ibu.

“Itu jam antik, Ren,” kata Ayah yang muncul dari kamar.

“Kenapa harus dibuang?” lanjut Ayah.

“Jam itu membuat lampu di ruang tengah menjadi mati, Yah,” jawab Rendi tertunduk.

Ayah dan Ibu tertawa mendengar jawaban Rendi.

“Rendi jadi takut,” tambah Rendi. Ayah dan Ibu masih tertawa. Merasa ditertawakan, Rendi cemberut.

“Tapi, Yah, kenapa setelah jam itu kupindahkan, lampu di ruang tengah kok masih mati?” tanya Rendi penasaran.

“Jam itu tidak menyeramkan, Rendi. Ayah dan Ibu hanya ingin kamu menghilangkan kebiasaan menonton film hingga larut malam. Makanya Ayah menyetel lampu di ruang tengah mati saat tengah malam persis. Bukan karena jam tua itu,” jelas Ayah.

Wajah Rendi tersipu. Rupanya kebiasaan buruknya sudah diketahui orangtuanya.

“Nah, nanti sepulang sekolah kembalikan jam tua ke ruang tengah ya!” pinta Ayah.

Rendi mengangguk. Dalam hatinya dia tertawa telah menganggap jam tua itu memiliki kekuatan gaib.

 

Kangen nulis cerita anak, meski akhirnya agak kaku juga memulainya. Semoga masih enak dibaca ya. 


Jangan Dekat-Dekat Aku, Rara!
Oleh Lisa Lestari

          “Kamu ngapain ke rumahku, Ra?” tanya Lili ketika melihat Rara temannya mengetuk pintu rumahnya.
          “Aku bosan, Li.”
          “Tapi kita nggak boleh keluar rumah, Ra. Ingat kata bu guru. Kita harus tetap di rumah selama corona masih ada,” Lili masih berusaha menahan Rara masuk. Rara dibiarkan di depan pintu yang hanya setengah terbuka.
          “Aku mau masuk, Li. Boleh ya?” pinta Rara dengan wajah melas.
          “Nggak! Sana pulang lagi! Kamu juga nggak pakai masker!” usir Lili.
          “Lili, kok kamu tega sih!” teriak Rara histeris.
          Lili terdiam, iya juga sih. Perkataan Rara benar, dia tega sekali. Namun, ingat pesan bu guru dan Ibu. 
Ini adalah cerita anak yang berhasil lolos di Kabupaten Bogor untuk mengikuti seleksi di tingkat Provinsi JAwa Barat dalam rangka HUT PGRI pada bulan November tahun 2018. Konon kabarnya sih masuk lima besar tingkat nasional. Meskipun hadiahnya nggak ada. Hehehe ...

Di sini saya baper sebagai penulis, ketika penghargaan dan apresiasi menjadi barang mahal saat literasi buat guru begitu didengungkan dengan hebat. Tapi saya bahagia mampu membawa nama sekolah, Kabupaten Bogor, dan tentunya Provinsi Jawa Barat. Tetap semangat!

Ini adalah cerita fabel milik saya yang berhasil menjadi juara 2 dalam lomba yang diadakan oleh Jejak Publisher pada tahun 2018.

Add caption

           
Leo adalah seekor singa jantan yang gagah. Dia memiliki hobi yang unik, berjalan-jalan mengelilingi hutan dan menyapa semua penghuni hutan setiap pagi hari sambil memamerkan surainya yang lebat. Dari kejauhan tubuh Leo yang tegap selalu terlihat gagah saat berjalan. Apalagi surai lebatnya, akan bersinar ditimpa cahaya matahari. Dan Leo begitu bangga dengan surainya.

Di bawah ini adalah contoh cerita anak yang belum pas. Tapi saya belum ada niat buat merombaknya. Simpan sini saja dulu ya.
Hasil gambar untuk gambar perkakas
mainananakonline.com
Tuan Wilson sedang sibuk memperbaiki sebuah pintu rumah milik Nyonya Vio menggunakan perkakasnya. Ada Toto, si obeng berbentuk pipih yang sedang melakukan tugasnya mengencangkan sebuah baut. Sedangkan Titi, obeng berbentuk bunga berada di dalam kotak perkakas. Gio, sebuah tang juga terlihat sibuk bersama Toto. 

"Kok makanannya tidak dimakan?" tanya Ayah melihat Nesya hanya mengaduk-aduk sarapannya.


Hasil gambar untuk gambar semut hitam
kompasiana.com

Nuli, seekor semut hitam tak berani mengangkat wajahnya, ketika ayah dan ibu menegur perbuatannya. Nuli telah melakukan kesalahan. Dia telah masuk ke dalam kamar Bobi. Selama ini kawanan semut hitam telah lama menempati ruangan di bawah lantai kamar Bobi. Pada saat kawanan semut bekerja mencari makanan, mereka akan meninggalkan rumahnya dan keluar dari ruangan Bobi. Nuli yang belum cukup usia, hanya bisa menunggu ayah dan ibunya. Awalnya menyenangkan, bisa bermain di sekitar rumahnya. Lama-lama dia bosan juga. Nuli keluar dari sarangnya dan melihat-lihat apa saja yang ada di luar rumahnya.

Hari ini, Dila rajin sekali bantu Mama. Menyapu lantai depan, merapikan sepatu di rak sepatu, dan menyiram tanaman di pot bunga. Selesai membantu, Dila mendekati Mama. 


Hasil gambar untuk gambar anak teriak
Add caption
Edo suka sekali berteriak. Di rumah dan di sekolah. Teman-teman Edo sudah mengingatkan. 

"Tubuhmu cantik sekali," puji Lulu kepada seekor Kupu-kupu.

Loli tersenyum. "Kamu juga akan berubah sepertiku."


"Aku bosan, hanya didorong saja oleh tuanku," keluh Trio, sepeda roda tiga. Kepalanya menunduk, memperhatikan bagian rodanya yang masih bersih, bagian stangnya masih terbungkus plastik dengan rapi. 

Bee telah menguap berkali-kali selama pelajaran berlangsung. Matanya terlihat hampir menutup. Penjelasan dari guru lebah Fio tidak lagi masuk. Bagi Bee, suara guru lebah Fio tak lebih seperti nenek yang menceritakan dongeng seru. Sebentar lagi kepala Bee akan tertunduk. Sungguh, Bee sedikit keterlaluan. Tingkahnya yang sering tertidur ketika jam belajar sudah tak terhitung. 

“Ummi, lihat sarung Abi yang warna abu-abu itu nggak?” tanya Abi ketika tiba di rumah sepulang kerja.

Aku tentu saja sedikit berpikir, mengingat-mengingat di mana menyimpan sarung yang ditanyakan oleh Abi.

“Wah, Ummi lupa, Bi. Buat apa, sih?”



“Kakak, ini kue buat Kakak!” kata Hawa menyodorkan kue putu ayu. Naila memandang adiknya. Rasa kesal dan marah ketika kuenya dimakan sudah lenyap mellihat wajah imut Hawa.



Ummi pergi mengajar setiap hari. Jadi mereka ditinggal bekerja. Kalau abinya masuk kerja pagi, barulah dia dan Hawa akan dititip ke pengasuh. Namun, jika ada abi, dia yang akan menjaga adiknya sampai Ummi pulang. Karena abi kerjanya dishift, tidak setiap hari masuk pagi. Terkadang berangkat kerja sore hari atau malam hari.



“Ini punya dedek!” teriak Hawa tepat di telinga kakaknya, Naila. Naila hanya mematung, wajahnya menahan marah. Bibirnya mengerucut, dengan dua tangan siap merebut kembali mainan yang dipegang adiknya. Tapi diurungkan, ia ingat pesan Umminya.







Hasil gambar untuk gambar gadis dan segelas susu
image by google

“Mas Ken, ada Mbak Rien. Dari tadi duduk di luar,” kata Nies membuat Ken sedikit shok. Terlihat dari wajahnya yang terkejut dan salah tingkah. Tyas menatapku, tanpa curiga. Mungkin dia menganggap aku adalah saudara atau tetangganya.

Yeay... akhirnya aku dua tahun. Dua puluh empat bulan lho. Kata Ummi, aku makin gede, makin ganteng. Lihatlah, kalau setahun lalu ketika aku tersenyum, gigiku hanya beberapa saja yang sudah tumbuh. Kini gigiku sudah siap untuk makan daging. Hahahaha... 
Hasil gambar untuk gambar bermain sepatu roda
widiyar.wordpress.com




“Hawa, main yuk!” panggil Aya dari depan. Hawa yang baru selesai mandi bergegas berlari menuju pintu.

“Wah, bagus banget sepatu rodamu,” kata Hawa begitu pintu terbuka. Melihat Aya sudah memakai sepatu roda warna merah. “Aku belum dibeliin.”

Older Posts Home

Mama Daring

Mama Daring

Seru-seruan

1minggu1cerita

About Author

PENULIS & BLOGGER

Hallo, Saya adalah muslimah penyuka kucing, senang traveling meski belum berkunjung ke banyak tempat, senang kuliner walau hanya makanan tertentu, membaca berbagai jenis buku, menulis cerita anak, dan berpetualang ke negeri dongeng untuk menciptakan berbagai keajaiban dalam ke dunia anak-anak yang sedang saya tekuni. Hubungi saya via email : lestarilisa8@gmail.com

Follow us

Featured Post

Popular Posts

  • Review Scarlett Brightening Series (Facial Wash, Esssence Toner, dan Serum)
    Review Scarlett: Brightening Facial Wash, Brightly Essence Toner, dan Brightly Ever After Serum  Ngaku, nih? Siapa yang suka banget coba-cob...
  • Mampirlah ke Dunia Lisa, Blog dengan Wajah Baru
    Eh, siapa sih yang nggak ingin tampilan blognya menjadi cantik dan enak dilihat? Semuanya pasti akan menjawab mau dong! Nggak ada yang pe...
  • Lebih Asyik ke Candi Borobudur Atau Candi Prambanan Untuk Menghabiskan Libur Akhir Tahun?
    ruangbelajarbahasainggris.com Libur tlah tiba Libur tlah tiba Hore ... hore ... hore! Apa sih hal yang membahagiakan bagi ...
  • Seperti Inilah Karakter Shio Babi Berdasarkan Elemennya
    Karakter shio babi dengan shio lainnya tentu saja berbeda. Karena beberapa shio dianggap memiliki pengertian berbeda. Apakah Anda sud...
  • Aturan Sosial yang Perlu Dikenalkan pada Si Kecil saat Bermain ke Rumah Temannya.
    Pernah nggak kamu ngalami kayak gini? Si kecil usianya sudah lima tahun, t ak jarang, anak suka membawa teman-temannya ke rumah untuk be...

Buku Terbit

Dunia Lisa

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  March 2025 (1)
      • Tradisi Membangunkan Sahur: Antara Romantisme Rama...
  • ►  2024 (1)
    • ►  September 2024 (1)
  • ►  2023 (4)
    • ►  July 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  March 2023 (1)
    • ►  February 2023 (1)
  • ►  2022 (14)
    • ►  September 2022 (2)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  July 2022 (1)
    • ►  June 2022 (1)
    • ►  May 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  March 2022 (2)
    • ►  February 2022 (2)
  • ►  2021 (32)
    • ►  December 2021 (5)
    • ►  November 2021 (2)
    • ►  October 2021 (5)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  May 2021 (2)
    • ►  April 2021 (3)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (39)
    • ►  December 2020 (4)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  September 2020 (3)
    • ►  August 2020 (3)
    • ►  July 2020 (5)
    • ►  June 2020 (6)
    • ►  May 2020 (4)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  March 2020 (5)
    • ►  February 2020 (3)
    • ►  January 2020 (2)
  • ►  2019 (78)
    • ►  December 2019 (2)
    • ►  November 2019 (3)
    • ►  October 2019 (4)
    • ►  September 2019 (3)
    • ►  August 2019 (6)
    • ►  July 2019 (8)
    • ►  June 2019 (7)
    • ►  May 2019 (18)
    • ►  April 2019 (6)
    • ►  February 2019 (9)
    • ►  January 2019 (12)
  • ►  2018 (49)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  October 2018 (8)
    • ►  September 2018 (10)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  April 2018 (3)
    • ►  March 2018 (6)
    • ►  February 2018 (3)
    • ►  January 2018 (10)
  • ►  2017 (116)
    • ►  December 2017 (4)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (21)
    • ►  September 2017 (8)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  July 2017 (4)
    • ►  June 2017 (7)
    • ►  May 2017 (6)
    • ►  April 2017 (11)
    • ►  March 2017 (28)
    • ►  February 2017 (11)
    • ►  January 2017 (12)
  • ►  2016 (198)
    • ►  December 2016 (12)
    • ►  November 2016 (24)
    • ►  October 2016 (31)
    • ►  September 2016 (29)
    • ►  August 2016 (6)
    • ►  July 2016 (5)
    • ►  June 2016 (18)
    • ►  May 2016 (22)
    • ►  April 2016 (21)
    • ►  March 2016 (26)
    • ►  February 2016 (4)

Total Pageviews

Komunitas

Dunia Lisa

Categories

  • Blog Competition 10
  • Cermin 6
  • Cerpen 128
  • Curhat 29
  • Flash Fiction 2
  • Lebih Dekat 2
  • ODOP Estrilook 7
  • Parenting 30
  • Puisi 29
  • SETIP Estrilook 3
  • Satu Hari Satu Karya IIDN 5
  • Serba-serbi Cerita Anak 13
  • Tantangan 3

Followers

About Me

My photo
Lisa Lestari
View my complete profile

Instagram

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram

Copyright © 2017-2019 Dunia Lisa. Created by OddThemes