 |
| Sumber Gambar: www.samishare.com |
Bahunya
masih terguncang. Berarti air matanya masih belum tuntas untuk meminta
penyelesaian. Aku hanya sanggup mematung. Menatap dari jarak sekian meter
asalkan bayangnya masih berada dalam jangkauanku. Tubuh ringkihnya selalu
melemah, dan aku seperti tak pernah bisa membuatnya yakin.
Bahumu berguncang. Tak perlu kamu katakan kesedihanmu. Cukup hanya dengan melihatmu yang menutup wajah dengan kedua tangan dan isakan yang terdengar dari mulutmu, itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskannya.
“Duduk depan,” kata El sedikit
cadel.
“Pakai kursi, Dik?” tanya Kak Bila. El
kecil mengangguk. Kak Bila lantas mengambil kursi rotan dan dia letakkan di
depan untuk duduk adiknya.
Chila dan Chilo adalah kurcaci kembar. Wajah keduanya sangat mirip dan tidak dapat dibedakan. Hanya warna pakaian yang mereka kenakan menjadi pembeda kurcaci kembar tersebut. Jika Chila menyukai warna hijau, maka Chilo lebih memilih warna biru untuk pakaian yang ia pakai.
"Hawa, ini buatku saja, ya?" kata Tania kepada Hawa, putri keduaku.
 |
| www.reinfhatiha.com |
Kerajaan
Alegria sedang berduka. Tadi malam Kerajaan Alegria telah kehilangan sebuah
batu permata, yaitu batu kebahagiaan. Batu kebahagiaan merupakan simbol kebahagiaan
dari Kerajaan Alegria. Ketika batu tersebut hilang dari ruangannya, maka seluruh
penghuni kerajaan dan penduduk yang tinggal di wilayah tersebut tidak mampu
tersenyum.
 |
| image by google |
Ditemani uap
susu yang lembut, kami duduk di dapur ibu. Retinaku menatap sekeliling dapur
yang tidak banyak berubah sejak dua tahun lalu kutinggalkan. Meja bundar dengan
empat kursi yang terbuat dari rotan, tempat kami menyantap makanan masih
terletak di sebelah pintu keluar. Kulkas dua pintu milik ibu juga masih
diletakkan tak jauh dari lemari kecil tempat ibu menyimpan berbagai piring
koleksinya. Lampu hias yang menggantung di atas meja makan saja yang sudah berganti
dengan lampu hias lebih klasik.
"Boleh aku bertanya?" Mata indahmu menatapku tak berkedip. Seolah mencari kebenaran akan jawaban yang terlontar.
"Kenapa sih, kamu nggak pernah ngerti apa mauku?" sedikit tinggi nada yang kuucapkan. Kamu hanya nyengir memasang wajah tak berdosa.
Mataku menyipit,
menatap tajam kepadanya. Lihatlah, tangan kanannya terulur kepadaku. Mengajak
kenalan.
Mendengar penjelasan
mamang, tubuhku semakin lemas. Aku terisak, mama kakak Rara sudah memelukku,
mencoba menguatkan.
Pengalaman dengan Ojek
Menulis kisah atau pengalaman ketika naik ojek, hmm, membuat saya sedikit berpikir. Mencoba menggali ingatan saya, karena saya termasuk orang yang jarang memggunakan jasa ojek. Ke mana pun saya pergi, biasanya saya lebih senang dengan membawa sendiri kuda besi yang saya miliki. Melaju memecah jalanan aspal menuju ke tempat yang saya inginkan. Tapi, baiklah, saya ingat. Saya pernah menggunakan jasa ojek. Dan ini pengalaman yang membuat saya agak takut memakai jasa ojek. Wah, apa tuh?
Tahun 2012 bulan Desember saya menyempatkan liburan ke Ngawi, salah satu kota tempat tinggal kakak saya yang pertama. Tinggal di sana sekitar satu minggu. Nah, kejadian ini bermula ketika saya pulang menginap dari rumah teman saya di Solo. Pagi sekali saya sudah pamit pulang. Naik bis dari Solo. Untuk turun dari bis, saya masih hapal tempatnya. Nggak tahu namanya, tapi saya ingat. Pokoknya mata saya melihat sisi jalan agar tidak salah turun.
Turun dari bis, saya segera menelepon kakak minta dijemput. Maklum, saya baru dua kali ke tempat kakak ini. Lokasi rumahnya yang jauh dari jalan raya, membuat saya sulit menghapal. Hanya tahu nama desanya. Ternyata kakak sedang tidak di rumah, dan beliau menyarankan kepada saya agar naik ojek dengan petunjuk turun yang harus saya katakan kepada ojek nantinya.
Singkatnya saya paham, dan meluncurlah saya dengan ojek. Saya yang agak susah dalam mengingat jalan, berusaha mengumpulkan ingatan agar tidak tersesat. Namun, ketika akan naik tadi, saya sudah bilang sesuai pesan kakak. Di tengah jalan, kami harus mengambil jalan yang sungguh saya tidak tahu arahnya dan belum pernah saya lewati. Kata si bapak, karena ada hajatan, jadi lewat sini. Ya sudah, saya ngikut. Karena pikir saya, bapak ojek sudah tahu jalan dan alamat yang saya katakan.
Lama saya dibawa muter-muter. Dalam hati kok nggak sampai-sampai. Ada rasa takut karena melewati jalanan sepi. Akhirnya saya beranikan kembali bertanya, "Maaf, Bapak sebenarnya tahu tidak alamat yang saya katakan tadi?"
Apa coba jawaban ojek? Jawabannya membuat saya ingin menangis. "Maaf Bu, sebenarnya saya nggak tahu alamat yang Ibu katakan tadi. "
Aduh, rasanya ingin marah tapi nggak tega. Dalam hati saya menggerutu, kok tadi ngaku tahu to pak, alamat yang saya katakan. Dengan berat hati, saya minta berhenti, saya bayar ojeknya, dan saya menelepon kakak agar dijemput. Sebelumnya saya harus bertanya terlebih dahulu kepada orang yang lewat, posisi saya ada di mana.
Setelah mengatakan posisi saya ada di mana, dijemputlah oleh kakak ipar yang curiga juga, saya kok belum sampai dengan ojek. Saya pun diminta menunggu dan tidak ke mana-mana.
Alhamdulillah, tidak jadi hilang, batin saya. Berhasil pulang ke rumah kakak.
Sejak itu, setiap naik ojek saya akan pastikan dengan benar, tukang ojeknya tahu dengan pasti alamat yang saya minta. Agar tidak terulang kejadian ini lagi.
#KabolMenulis7
#Day-12
 |
| image by google |
Berhari-hari Ruyu mengikuti permintaan temannya. Tidak berkokok di
dekat kandanng mereka, melainkan pergi menjauh. Selama itu pula Bebek, Mentok,
dan Angsa selalu terlambat mencari makan. Mereka terbangun ketika matahari
sudah tinggi. Tentu saja makanan yang biasa mereka cari dengan mudah di pagi
hari sudah menjadi santapan ayam-ayam lainnya. Perut mereka lebih sering kosong
hingga sore menjelang kepulangan ke kandang.
 |
| image by google |
Pagi yang cerah menyuguhkan indahnya pahatan alam. Embun pagi masih
menyisa di dedaunan. Suasana belum begitu terang, karena matahari juga nampak
malu-malu menyembul. Burung masih enggan keluar dari saranngnya yang hangat. Namun,
tidak untuk Ruyu. Ayam jago yang satu ini dengan lincah melompat keluar dari
kandangnya. Dengan gagah, dada membusung, siap menyuarakan nyanyiannya yang
merdu.
 |
| image by google |
“Nduk, nggak pareng bobok lho. Ayo, melek sek!” Bapak menepuk tanganku yang mulai lemah pegangan tangannya di
pinggang bapak. Aku hanya diam tak menjawab. Mataku rasanya sudah lengket
sekali. Sulit diajak untuk bertahan. Padahal rumah masih jauh lagi.
 |
| pixabay.com |
Aku melihat ada sebuah baskom kosong di sebelah air berada. Aku meloncat
dengan sekuat tenaga agar sampai dalam baskom. Hup!
“Hore ... aku bisa keluar dari gelas yanng sempit!” teriakku dengan
senang. Aku segera bergerak denngan lincah. Berlari tak tentu arah ke setiap
tepian baskom. Tapi itu tak lama. Aku kembali merasa sempit. Tubuhku masih saja
terantuk dengan baskom. Bibirku kembali mengerucut, pertanda kesal.
 |
| pixabay.com |
“Huf, lega rasanya, aku bisa juga keluar dari ruangan yang
berdesakan dan dingin,” kataku senang.
Ketika pertama kali tubuhku dilepaskan dari kotak beku, aku langsung
meluncur ke dalam gelas. Suhu yang tidak terlalu dingin membuatku senang bukan
main. Kuedarkan pandanganku. Berkeliling menatap ruangan. Menurut yang
kudengar, ini namanya dapur. Ada rak piring kecil dekat dengan bak pencucinya.
Berderet pasukan piring dan gelas berbaris dengan rapi. Badan mereka sungguh
kinclong mengkilap. Bersih dan wangi.
 |
| pixabay.com |
Mataku tak berkedip menatap makhluk aneh yang muncul di hadapanku. Tinggi,
berwarna hijau, dengan tubuh dan bentuk tak beraturan. Kepalanya bergelantungan
plastik dan botol bekas. Seluruh tubuhnya penuh dengan lumpur, semua jenis
sampah tertempel di sana. Mulutnya tidak bisa tertutup. Terbuka lebar dan
dari dalam mulutnya mengeluarkan belatung dan cacing. Tubuhku bergidik ngeri.
Hujan pagi ini benar-benar membuat dingin udara di sekitar. Memeluk
si putih Daring yang pules, rasanya lebih nyaman. Namun, tidak bisa, hari ini
belum libur. Masih satu hari untuk menunaikan kewajiban.
 |
| jagofashion.com |
Wangi menarik napas untuk melanjutkan cerita. “Aku dulu dipakai
oleh kaki orang kaya. Masuk ke sekolah elit. Bertemu dengan teman-teman yanng
bagus semua. Sayangnya aku hanya dipakai tidak lebih dari tiga bulan. Lalu aku
dibiarkan saja beerada di rak hingga berdebu.” Wajah Wangi mulai muram.
Terbayang bagaimana sedihnya ketika sudah tidak bermanfaat. Hanya menjadi
penghuni rak sepatu.