Dunia Lisa
  • Home
  • Category
    • Mom's Corner
    • Curhat
    • Review
    • Literasi
      • Resensi Buku
      • Artikel
      • Cerita Anak
      • Reportase
      • Puisi
  • Lifestyle
    • Parenting
    • Traveling
    • Kuliner
  • Event
    • SETIP
    • ODOP Estrilook
    • ODOP Blogger Muslimah
    • Tantangan
  • About Me
  • Contact


“Ayo, Dik, jam 08.30 harus sudah siap untuk belajar bareng bu guru di google meet.”

“Mbak, disiapkan pembelajaran daring nanti jam 09.00.”


Itu rentetan pesan dari WAG sekolah anak-anak ketika ada pemberitahuan tentang belajar via LMS. Maklum, pembelajaran melalui LMS ini tidak setiap hari, mengingat pemakaian gawai yang bergantian dengan kakak atau saudara lainnya. Sehingga ada kebijakan dari sekolah untuk bergantian belajar daringnya. Selebihnya, komunikasi aktif tentang pengambilan tugas-tugas ada di dalam WAG.

Nah, menyiapkan anak-anak yang terkadang belum siap ketika jam belajar akan mulai, tuh, kadang bikin saya rada gemes. Ada saja alasan yang mereka ungkapkan ketika bu guru sudah masuk ke dalam LMS sedangkan anak-anak belum siap. Apalagi El, si bungsu yang baru masuk TK dan harus belajar secara daring. Ini sungguh di luar perkiraan ketika awal mendaftarkan dia ke TK. Padahal bayangan El, dia akan bermain ayunan, perosotan, gelantungan, dan permainan Tk lainnya saat saya mengatakan dia akan sekolah. 

Kenyataan ini sering membuat El bertanya, kapan aku sekolahnya? Satu minggu sekali pengambilan tugas oleh orangtua, dan 2-3 kali seminggu ada pertemuan di google meet, tetap membuat El menganggap dia belum sekolah. Alhasil, saya sering dibuat gemes untuk menyiapkannya. Terkadang mood El juga kurang mendukung. Google meet sudah siap, dia malah ngumpet dan nggak mau belajar dengan bu gurunya. Kalau pun dia mau, suaranya nggak keluar saat bu gurunya meminta dia untuk menunjukkan progres hapalannya. Super banget deh! Belum lagi si kakak yang di SD, rasa bosannya yang belajar daring juga sering membuat dia malas untuk bertatap muka secara daring. Padahal anak-anak sudah berharap tahun ajaran baru ini mereka bisa belajar secara tatap muka walaupun terbatas.

Kalau sudah begini, saya kembali mengingatkan pada diri sendiri, bahwa “Belajar itu harus dilakukan dengan bahagia”. Kemudian saya membayangkan, apa yang harus saya lakukan agar anak-anak tetap belajar daring dengan bahagia? Walaupun pandemi sudah berlangsung cukup lama, nyatanya tetap memberikan dampak yang luar biasa bagi anak. Apa saja dampak negatif yang telah ditimbulkan dari PJJ selama pandemi?

 

penyebab bayi rewel dan cara mengatasi
www.dunialisa.com

Memantau tumbuh kembang bayi adalah hal yang penting dilakukan oleh orang tua, bukan tanpa alasan, melainkan untuk mencegah buah hati mengalami kelainan. Seperti di antaranya adalah kurangnya nutrisi atau masalah tumbuhkembang yang lainnya. Karena, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya, bukan?

Apalagi jika baru pertama kali memiliki buah hati. Ketika bayi mulai rewel atau sering menangis, orang tua baru sering dibuat panik atau kebingungan. Sudah digendong, dinyanyikan, diayun, tetap saja bayi masih rewel dan menangis. Hal ini tentu saja akan membuat pasangan muda atau orang tua baru menjadi kebingungan cara mengatasinya.

Bayi yang sedang rewel sebenarnya memiliki banyak arti. Tidak selalu bayi rewel diartikan sedang lapar. Namun yang pasti saat bayi rewel, dia merasa tidak nyaman. Tangisan bayi juga merupakan ungkapan dia terhadap apa yang didengar, dilihat, atau sensasi lainnya yang terlalu kuat bagi bayi. Bahkan bayi yang sedang menangis juga bisa membantunya untuk melepaskan ketegangan. Hal ini membantunya menyingkirkan kelebihan energi sehingga bayi bisa kembali ke keadaan yang lebih tenang dan nyaman.


Pernah nggak kamu ngalami kayak gini?

Si kecil usianya sudah lima tahun, tak jarang, anak suka membawa teman-temannya ke rumah untuk bermain bersama. Atau kadang mereka yang sengaja nyamper ke rumah untuk membongkar mainan El yang lumayan berbeda dibandingkan teman-temannya. Terkadang, muncul beberapa kejadian yang membuat saya miris. Kok begini ya?

Kejadian apa, tuh? Misalnya begini nih: temannya El terkadang suka tiba-tiba masuk ke dalam rumah menuju dapur ngikuti El. Lha, saya kan kadang nggak pakai kerudung lengkap. Atau suatu waktu temannya El ini suka naik ke kasur juga, atau ikutan mencet-mencet laptop yang terbuka karena saya tinggal sebentar. Suka risi nggak sih, kalau begini?

Saya hanya menegurnya lembut, sambil mengingatkan kepada El untuk tidak melakukannya di rumah temannya. Namun, saya juga jadi mikir, apakah benar aturan social saat berkunjung ke rumah temannya ini sudah tidak diajarkan lagi oleh orangtua? Saya ingat dulu, bagaimana ibu dan bapak saya menekankan sekali nggak boleh ini, nggak boleh begitu ketika bertamu atau bermain ke rumah orang lain. Sampai sekarang, saya masih mengingatnya.


Saya senang sekali, saat berada di toko buku dan melihat anak-anak yang dengan antusias memilih buku untuk dibawa pulang. Atau seorang dua orang anak yang duduk bahkan ada yang tengkurap membaca buku yang segelnya sudah terbuka. Rasanya kok mak nyess, seperti disiram air es gitu ya. Hehehe ….

Syukurlah, anak pertama menjadi contoh dua adiknya untuk mencintai buku sejak kecil. Si kakak selalu mampu membeli buku incarannya menggunakan uang jajannya yang disisihkan. Hal ini juga membuat anak nomor dua pun terpancing untuk mengukutinya.

Moms, Memiliki anak yang suka membaca ketika besarnya, tentu menjadi dambaan semua orangtua ya. Namun, mewujudkan keinginan ini bukanlah perkara yang tinggal membalik telapak tangan dan berucap ‘sim salabim’ maka anak akan mulai cinta membaca dengan sendirinya. Bahkan beberapa orang ada yang memulainya ketika anak masih dalam kandungan. Jika kamu salah satu orangtua yang menginginkan anaknya kelak cinta buku, maka bisa dimulai ketika usia anak balita.

Apakah anak balita sudah bisa diajari ‘membaca’ dan mencintai buku? Berikut saya tuliskan 10 cara mudah yang bisa kamu terapkan:

Keputusan sendiri

Pernah nggak sih, kita selalu mengatakan kepada anak-anak bahwa mereka masih anak-anak? Padahal usianya sudah memasuki remaja atau dewasa. Namun, di mata kita anak-anak tetaplah anak-anak. Lalu, apa dampak dari anggapan seperti ini? Terkadang tanpa sadar orangtua yang menganggap anak-anak tetaplah anak-anak akan berperan besar dalam kehidupan anak. Misalnya saja dalam pengambilan sebuah keputusan.

Memang benar sih, tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya hidup menderita. Maka sangat wajar jika orangtua ikut memutuskan dan menentukan segala hal yang berkaitan dalam hidup anak. Mulai dari apa yang akan dimakan anak, hal-hal yang berkaitan dengan benar dan salah, membuat keputusan yang berkaitan dengan hidup anak agar anak tidak gagal dalam hidup, tidak melukai orang lain, dan tidak dilukai oleh orang lain. Tapi ikut memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan si anak, tidak bisa dilakukan selamanya bukan?   Ketika mereka masih kecil, tentu saja hal itu sangat wajar. Pasti akan ada waktunya orangtua melepas anak-anak untuk hidup dan berdiri sendiri di dalam kehidupan masyarakat dan menentukan keputusan sendiri dalam kehidupannya.
Stimulasi bahasa


Memperhatikan perkembangan si kecil dari hari ke hari adalah kewajiban sebagai orangtua. Dan ini merupakan kewajiban yang sangat menyenangkan. Bahkan tak jarang sebagai orangtua, kita memberikan stimulasi kepada si kecil agar perkembangan bahasanya melebihi kemampuan teman sebayanya. Bisa kah kita memberikan stimulasi kepada anak agar kemampuan bahasa anak meningkat dengan pesat?

Jawabannya tentu saja bisa!

Sebelum kita membahas stimulasi apa saja yang bisa kita berikan kepada si ekcil untuk perkembangan bahasanya, alangkah baiknya kita mengetahui perkembangan bahasa  pada usia 5 tahun.

Sistem imun


Sistem Imun atau daya tahan tubuh merupakan sistem pertahanan tubuh pada manusia. Sistem imun ini merupakan pasukan penjaga did alam tubuh kita, yang menjaga tubuh dari serangan mikroorganisme yang akan mengganggu kesehatan. Sistem imun berbentuk sel-sel sebagai sebagai pasukan pertahanan tubuh. Ibaratnya sistem imun adalah tentara yang siap sedia berperang untuk melawan penyakit.

Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak memiliki sistem imun yang belum sekuat sistem imun yang dimiliki oleh orang dewasa. Hal ini disebabkan sistem imun pada anak-anak belum terbentuk secara sempurna. Berbeda dengan orang dewasa, terbentuknya sistem imun pada anak-anak dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Faktor yang Memengaruhi Lemahnya Sistem Imun Pada Anak
1. Kurangnya Olahraga
Mengapa anak bisa lemah sistem imunnya jika kurang beraktivitas? Jika tubuh si kecil kurang melakukan gerakan olahraga, maka sel-sel darah putih tidak akan mengalir ke seluruh tubuh dengan baik. Dampaknya Leukosit tidak dapat bekerja secara maksimal untuk melawan bakteri atau virus yang datang menyerang. Jadi, dengan rutin berolahraga, akan emmbuat kerja leukosit menjadi lebih gesit.

Percobaan sains sederhana

Berpikir ilmiah? Mungkin bagi sebagian orang akan menganggap hal ini sesuatu yang terlalu berlebihan. Masa sih, masih anak-anak mau diajak berpikir ilmiah? Kesannya kok anak diajak mikir berat gitu. Padahal kalau kita tahu tentang konsep berpikir ilmiah, maka kita akan mengatakan, “Oalah” ternyata nggak serumit yang dibayangkan. Lalu, apa hubungannya percobaan sains sederhana dengan proses berpikir ilmiah pada anak?

Proses mengubah rasa keingintahuan menjadi sesuatu yang kreatif adalah pengertian dari percobaan sains sederhana. Berawal dari rasa penasaran seorang anak kemudian melahirkan proses kreatif untuk memuaskan penasaran tersebut, maka si anak tersebut sesungguhnya telah melakukan percobaan sains sederhana.
kecerdasan majemuk


Setiap anak yang dilahirkan memiliki kecerdasan yang berbeda dan unik. Bahkan dua anak yang terlahir dengan kembar identik sekalipun, mereka akan tetap memiliki kecerdasan yang tidak sama serta gaya belajar yang berbeda. Howard Gardner menuliskan ada 9 kecerdasan yang terdapat pada diri seorang anak. Sembilan kecerdasan tersebut dinamakan dengan Kecerdasan Majemuk.
Mungkin sebagian orangtua masih ada yang menganggap anak dengan nilai matematika bagus adalah anak yang pandai, sedangkan anak dengan nilai mata pelajaran eksaknya rendah, dianggap anak yang kurang pandai. Padahal untuk menjadi seorang atlit tidak dibutuhkan nilai matematika yang tinggi, karena anak tersebut sudah cerdas kinestetik. Atau anak yang memiliki kecerdasan verbal lebih tinggi, maka dia tak perlu mengejar kecerdasan angka yang memang bukan bagian dari kecerdasannya.

Lalu, bagaimana kecerdasan ini dikaitkan dengan Gaya Belajar Anak? Apakah hanya dengan memahami bahwa kecerdasan anak terdiri dari sembilan, maka kita tidak perlu menyeimbangkan dengan gaya belajar yang sudah dimiliki oleh anak?

Gaya Belajar didefiniskan sebagai cara seseorang memproses informasi dalam situasi belajar. Gaya belajar anak terdiri dari Visual, Auditory, dan Kinestetik. Setiap anak memiliki kecenderungan terhadap satu gaya belajar di atas.

Gaya Belajar Visual
Anka dengan gaya belajar ini biasanya akan lebih mudah mengingat dengan cara melihat. Memiliki hobi membaca dan lebih suka membaca daripada dibacakan.

Gaya Belajar Auditory
Anak dengan gaya belajar audiotory lebih cepat menyerap materi pelajaran dengan mendengarkan. Mereka juga lebih suka membaca dengan suara yang keras. Bahkan anak dengan tipe ini tidak suka belajar dalam situasi yang berisik.

Gaya Belajar Kinestetik
Selalu bergerak dan berorientasi pada  fisik merupakan ciri dari gaya belajar Kinestetik. Tipe ini ketika belajar akan lebih sering meenggunakan isyarat tubuh dan tidak bisa duduk atau diam dalam waktu yang lama.

Setelah memahami Gaya Belajar Anak, mari kita hubungkan dengan Kecerdasan Majemuk!

1. Kecerdasan Linguistik
Anak-anak dengan kecerdasan bahasa biasanya memiliki kemampuan imajinasi yang tinggi. Mereka akan dengan mudah mengeskpresikan pikirannya dan menuliskannya dengan sangat baik.

Orangtua bisa mengembangkannya dengan menyesuaikan gaya belajar anak yang cerdas bahasa.

Visual
Orangtua bisa membantu anak untuk membuat rangkuman dengan cara mind mapping dan bermain dengan banyak warna

Auditory
Orangtua bisa membacakan cerita atau materi yang sedang dipelajari oleh anak dan meminta anak untuk menceritakan ulang.

Kinestetik
Mengajak si cerdas bahasa dalam permainan kata akan mampu memenuhi gaya belajar si anak kinestetik. Ajak anak untuk memegang sendiri kartu dalam permainan kata tersebut.

2. Kecerdasan Angka/Matematika
Jika kita menjumpai anak yang sering bertanya tentang sebab akibat, maka bisa jadi anak tersebut adalah anak dengan kemampuan cerdas angka atau matematika. Mereka juga sangat menyukai teka-teki dan senang untuk membuktikan dugaannya melalui eksperimen.

Stimulus yang bisa dilakukan oleh orangtuanya berdasarkan gaya belajar yang dimilik oleh anak adalah:

Visual:
Ajak anak dengan menunjukkan gambar-gambar bentuk sederhana yang berkaitan dengan angka atau bentuk geometris.

Auditory
Menceritakan kepada anak tentang suatu materi yang berkaitan dengan matematika, seperti tentang perbedaan ukuran besar atau kecil, tinggi, rendah dan panjang serta pendek dalam sebuah cerita yang dikemas menarik. Ini akan membuat si cerdas angka dengan gaya belajar Auditory makin menyukai.

Kinestetik
Anak kinestetik akan senang jika diajak untuk memnyentuh langsung obyek yang sedang dipelajari. Biarkan anak mengambil benda atau angka yang disebutkan oleh orangtua.

3. Kecerdasan Visual Spasial
Anak dengan kecerdasan visual biasanya akan mudah mengingat melalui gambar. Anka juga sekali bermain dengan bentuk, pandai menyelesaikan masalah melalui pola kejadian.

Visual
Anak cerda visual sudah pasti gaya belajar visual menjadi dominannya. Maka orangtua bisa lebih mengoptimalkan dengan berbagai gambar yang bisa ditunjukkan kepada anak.

Auditory
Orangtua bisa menceritakan secara terperinci tentang ciri-ciri dari sebuah benda atau binatang.

Kinestetik
Si cerdas visual bisa dengan gaya belajar kinestetik bisa dioptimalkan dengan menagjaaknya berkeliling untuk mengenali bentuk benda dengan cara mengeksplorasi ruangannya.


4. Kecerdasan Musik
Anak dengan tipe kecerdasan Musik akan nyaman belajar dengan menggunakan rime, peka terhadap suara, nada, dan musik. Bahkan anak dengan cerdas musik akan memiliki kemampuan bernyanyi, memainkan alat musik atau bahkan mampu menciptakan karya musik baru.

Visual
Anak dengan cerdas musik dan gaya belajar visual, bisa kita berikan stimulus berupa menyanyikan lagu dengan menunjukkan ekspresi yang disesuaikan dengan irama musiknya.

Auditory
kita bisa memberikan iringan musik untuk anak dengan cerdas musik untuk belajarnya. Sering-seringlah memperdengarkan musik dan lagu kepada si cerda musik dengan gaya belajar auditory.

Kinestetik
Anak dengan cerdas musik dan gaya belajar kinestetik akan sangat senang jika diajak bernyanyi sambil menggerakkan tubuhnya mengikuti irama.

5. Kecerdasan Interpersonal
Jika menemukan anak dengan empati yang tinggi terhadap orang lain, memiliki kepekaan terhadap motivasi, perasaan, suasana hati, dan temperamental adalah anak dengan kecerdasan interpesrsonalnya yang tinggi. Anak-anak dengan tipe kecerdasan ini biasanya sangat menyukai sebuah diskusi dan perdebatan.

Visual
Cara termudah menstimulus anak yang cerdas interpersonal dengan gaya belajar visual adalah dengan sering-sering mengajaknya jalan-jalan ke taman sehingga akan bertemu dengan orang banyak.

Auditory
Anak cerdas interpersonal dengan gaya belajar auditory bisa diajak belajar dengan cara mengajak saudara-saudaranya untuk bercakap-cakap dengan anak. Bisa kakek, nenek, paman, atau bibi yang kebetulan dekat dengan kita.

Kinestetik
Biarkan anak menyentuh kakek neneknya atau saudara lainnya dan biarkan anak bermain bersama mereka.

6. Kecerdasan Intrapersonal
Ada kecerdasan Interpersonal, maka ada juga kecerdasan Intrapersonal. Anak yang memiliki kecerdasan Intrapersonal bisanya memunyai kemandirian dan rasa percaya diri yang tinggi, fokus, dan selalu ingin tampil berbeda dengan lainnya.

Visual
Membiarkan anak dengan mengamatai berbagai macam ekpresi emosi seperti bahagia, marah, menangis, sedih, dan lain-lain adalah cara mengoptmalkan kecerdasan intrapersonal dengan gaya belajar visual.

Auditory
Orangtua bisa membacakan sebuah cerita lalu menanyakan kepada anak perasaannya setelah mendengarkan cerita.

Kinestetik
Berikan pelukan saat anak merasa ketakutan atau merasa sakit sekadar untuk membuatnya tenang.

7. Kecerdasan Kinestetik
Memiliki anak yang tidak bisa diam, suka sekali memanjat, melompat, dan mampu mengingat hal yang dilakukannya daripada dikatakan atau yang didengarnya merupakan ciri-ciri anak dengan kecerdasan kinestetik.

Visual
Meminta anak untuk meraih mainannya atau menggambarkan gerakan-gerakan yang dilakukannya.

Auditory
Memberikan instruksi kepada anak untuk menggerakkan anggota tubuhnya mengikuti sebuat irama.

Kinestetik
Melatih anak menjaga keseimbangan saat belajar tentang gerakan. Minta anak untuk mempraktikkan langsung sebuah gerakan.

8. Kecerdasan Natural
Selalu tertarik dengan alam dan mengeksplorasi kegiatan lingkungan merupakan ciri-ciri anak dengan kecerdasan natural.

Visual
Ajaklah anak mengamati benda-benda yang ada di sekitar, seperti hewan dan tumbuhan yang ada di sekitar rumah.

Auditory
Orangtua bisa bisa menceritakan tentang hewan dan tumbuhan pada anak.

Kinestetik
Mengijinkan anak untuk memelihara binatang atau merawat tanaman

9. Kecerdasan Spiritual/Moral

Pernah menghadapi situasi seperti ini?

“Dik, tidur siang yuk!”
“Emang kenapa harus tidur siang?”
“Kan biar sehat, Dik. Biar bobok malamnya nggak rewel,” si Emak masih berusaha menjelaskan alasan tidur siang.
“Aku kan sudah sehat. Nggak usah tidur siang.’
Emak mulai tahan napas nih!
“Kalau tidur siang, tubuh kita akan tetap sehat, Dik. Badan Adik juga nggak akan terasa lelah.”
“Nggak ah, aku sehat kok. Nanti kalau aku sakit, aku minum madu aja biar sehat lagi.”
Duh, Emak mulai garuk-garuk kepala yang sepertinya tidak gatal. Ini bocil baru empat tahun, tapi sudah bisa memberikan alasan beragam.
“Adik kalau nggak tidur siang malamnya pasti rewel. Kakinya nendang-nendang,” Emak masih berusaha, “yuk tidur siang sambil dibacain buku!”
“Adik nggak mau tidur siang!” lari deh tuh bocil main lagi sama temannya.

Itu kejadian nggak hanya sekali dua kali biasanya, bisa berkali-kali. Sebetulnya si anak tidak bermaksud melawan orangtua, tapi si anak hanya ingin mengasah negosiasi dirinya dengan si emak. Namun, terkadang kita sebagai ortu suka gemes-gemes gimana gitu ya, menganggap anak itu seolah melawan ucapan kita. Jika bertemu dengan anak model ini, kudu gimana nih?

Membantah/melawan ucapan orangtua bukanlah perbuatan yang baik, bisa jadi merupakan kebiasaan si anak yang awalnya dibiarkan saja oleh orangtuanya atau karena salah penanganan sehingga menjadi kebiasaan yang buruk. Bahkan ada orangtua yang menganggap sikap melawan ucapan orangtua akan hilang seiring umur si anak, sehingga akan cenderung membiarkan sikap anak yang membantah ucapan orangtua.

Padahal seiring berjalannya waktu, kita tidak bisa menunggu perubahan akan terjadi berdasarkan usia anak tanpa ada usaha pendisiplinan dari orangtuanya. Nggak kan? Jangan mimpi, Marimar!
Mengapa? Karena anak akan menganggap bahwa usahanya melawan ucapan orangtua merupakan acara bagi dia untuk mengungkapkan pendapatnya , sehingga sering dijadikan senjata oleh anak.

Hasil gambar untuk gambar anak sekolah paud
pinterest.com
“Kok El belum dimasukkan TK, Mi?” tanya salah seorang tetangga yang melihat El masih belum masuk TK padahal usianya sudah 4 tahun.

“Nanti saja kalau sudah 5 tahun,” jawab saya.

Dan tetangga pun akhirnya menjelaskan panjang kali lebar tentang usia anak seharusnya masuk TK. Bahkan ke PAUD yang memang ada di dekat rumah pun saya tidak memasukkan El ke sana. Banyak pertimbangan saat itu kenapa saya tidak menyekolahkan El tepat ketika usianya 4 tahun. Tidak seperti duo kakaknya yang sudah sekolah ketika usianya 4 tahun. Tapi yang ini kan beda? Tiga bocil saya tentu saja tidak bisa disamakan.

Apalagi setelah membaca dan mengikuti kelas online dari School of Parenting, keputusan saya saat itu tepat. Kelas online ini diikuti oleh member School of Parenting dan diadakan pada hari Rabu, 26 Februari 2020 pukul 14.00 bersama mitra ahli Anggiastri Hanantyasari Utami, M. Psi., Psikolog

Lalu, usia berapa sih anak bisa dimasukkan ke sekolah? Apakah hanya berpatokan pada usia saja? Atau ada hal lainnya yang dijadikan pertimbangan untuk memasukkan anak ke sekolah? Tentunya setiap orangtua akan menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Bonding Dengan Buah Hati Untuk Ibu Bekerja

Memutuskan untuk menjadi ibu yang bekerja di luar, tentu saja membuat waktu saya bersama buah hati menjadi berkurang. Meskipun saya hanya seorang guru SD yang kata orang enak, karena siang hari sudah pulang. Itu salah besar, Marimar! Menjadi guru SD memang pulang lebih awal dibandingkan jika kita bekerja di kantoran. Tapi, jangan salah. Beban pekerjaannya itu terkadang dibawa ke rumah. Lha, kalau mengerjakan di sekolah semua, bisa-bisa melebihi jam lembur para karyawan kantor.

Emang apa pekerjaan guru SD?
Menyiapkan perangkat pembelajaran yang bejibun banget, mengoreksi pekerjaan siswa yang jumlahnya lebih dari 40 siswa, membuat perencanaan untuk mengajar keesokan harinya, dan pekerjaan lainnya seperti menyiapkan media. Ibaratnya kita itu sutradara di dalam kelas yang ingin film dalam kelasnya berjalan dengan sukses tanpa mengulang lagi. Kata suami saya kalau membela istrinya, guru SD itu pekerjaannya 24 jam, salah kalau banyak yang bilang pekerjaannya sedikit.

Nah, dengan berkurangnya waktu 24 jam untuk anak-anak di kelas, hal ini tentu saja mengurangi waktu saya untuk bersama anak-anak di rumah. Tapi tenang, sedikitnya waktu yang saya miliki bersama anak-anak bukan berarti saya nggak bisa membangun bonding dengan anak.

Berikut beberapa cara yang saya lakukan untuk membangun kedekatan bersama anak:
Seni Menegur Anak


Pernahkah kita sebagai orangtua menegur anak? jawabannya tentu saja pernah ya. Nggak mungkin dong, kita sebagai orangtua apalagi dengan label sebagai emak nggak pernah negur anak.

Lalu, bolehkah menegur anak? Seperti apakah cara menegur anak itu? Apakah ada aturan baku bagi orangtua dalam menegur anak?

Menegur anak haruslah disentuh, bukan disinggung. Tahu kan ya, bedanya disentuh dengan disinggung? Kalau disentuh mah, pasti megangnya juga pelan, lembut, halus, beda dengan disinggung. Ibarat sebuah guci jika disentuh guci tersebut tidak akan pecah. Lain halnya jika guci tersebut disinggung, apalagi dengan singgungan yang keras, guci tersebut akan terjatuh dan ... prang! Pecah!

Nah, di sinilah sebagai orangtua kita memerlukan seni, memerlukan keindahan dalam menegur anak. tidak hanya asal negur, tapi dilakukan dengan hati dan keindahan.

Bagaimana Seni Menegur Anak itu?

“Dik, ayo minta maaf sana sama temanmu! Kan kamu yang salah, Dik!”
“Kalau Adik salah duluan, harus minta maaf lebih dulu. Nanti Adik nggak punya teman loh.”

Pernah nggak sih, kita sebagai orang tua mengatakan itu kepada anak? Tujuan setiap orang tua mengatakan itu kepada anaknya adalah agar anak tahu kalau perbuatannya tidak tepat dan anak memperbaikinya dengan meminta maaf. Alih-alih agar anak belajar meminta maaf saat melakukan kesalahan dengan temannya, tapi nyatanya anak hanya sekadar mengucapkan kata maaf dan akan mengulangi lagi pebuatannya yang keliru.


Suatu waktu, saat berkumpul dengan beberapa rekan guru, keluarlah sesi curcol ala guru di antara kami.

Hasil gambar untuk gambar anak bossy
health.detik.com



“Kak, beresin mainanku!” kata El suatu waktu.
“Mbak Hawa, ambilin minum. Aku haus!” perintah El di waktu yang lain.

Duh, El kok mulai sering nyuruh-nyuruh kakaknya atau mbaknya untuk hal-hal yang biasanya dia kerjakan sendiri ya. Saya kok mulai khawatir dengan sikapnya yang terkesan “bossy” ini.  Benar nggak sih sikap El yang begini?

Hasil gambar untuk gambar remaja belanja
cnnindonesia.com

 “Paket!” seru pengantar paket suatu sore.
Si bungsu El paling semangat untuk mengambil paket dari mas pengantar. Padahal itu paket biasanya bukan milik dia.
Si Mbak nomor dua pasti akan membaca paket tersebut ditujukan kepada siapa.
“Kakak belanja mulu ya, Ma,” ucap Mbak Hawa.
Kebetulan si kakak masih belum pulang sekolah. Saya juga mikir, iya ya, kok si kakak belanja online lagi. Kemarin baru saja dia dapat kiriman paket, sekarang kok dapat lagi. Duh, sulungku sepertinya berubah jadi konsumtif nih! Saya nggak boleh tinggal diam, khawatir perilaku ini akan terbawa hingga dewasa.
Hasil gambar untuk gambar anak menyikat gigi
iphonelivewallpaper.blogspot.com


  “De, sikat giginya yang bener ya!” ujar saya ketika mengoleskan pasta gigi ke sikat gigi El.
“Aku aja yang nyikat!” pinta El.

Pixabay.com
Pernah nggak ikutan heboh seperti ini setiap tahun ajaran baru dimulai?

Sudah menjadi tradisi di Indonesia ya, pagi-pagi buta para orangtua sudah ada di kelas anaknya dan booking tempat duduk paling depan. Bookingnya dengan cara meletakkan tas sekolah milik anaknya. Bahkan ada yang rela menunggu sampai bel berbunyi agar tempat duduk yang sudah dibooking tidak diambil siswa lainnya. Katanya, jika anaknya berhasil duduk di deretan paling depan maka anaknya akan pandai. Kalau duduknya kebagian di belakang nggak akan jadi pinter. Weleh-weleh, segitunya ya.

Hasil gambar untuk gambar berebut mainan
wajibbaca.com


Pernah nggak sih ngalami kayak gini?

“Aku mau guling yang dipake Mbak!” teriak El kecil dengan sedikit cadel.
“Ini guling aku. Guling Dede yang itu!” tunjuk Hawa.
“Maunya guling Hawa!” El kembali teriak hingga lupa manggil Mbak pada kakaknya.
Merasa nggak ditanggapi oleh kakaknya, El pun mengambil tindakan. Ditariknya guling yang sedang dipeluk oleh kakaknya. Adegan tarik menarik guling akhirnya terjadi. Hingga akhirnya....
“Kasih gulingnya buat Dede! Mbak Hawa pake guling adiknya. Ngalah dong buat adiknya!” kata Ayah.
Ayahnya kasih solusi karena adegan tarikan guling sudah bersaing dengan suara teriakan kedua bocil.

Older Posts Home

Mama Daring

Mama Daring

Seru-seruan

1minggu1cerita

About Author

PENULIS & BLOGGER

Hallo, Saya adalah muslimah penyuka kucing, senang traveling meski belum berkunjung ke banyak tempat, senang kuliner walau hanya makanan tertentu, membaca berbagai jenis buku, menulis cerita anak, dan berpetualang ke negeri dongeng untuk menciptakan berbagai keajaiban dalam ke dunia anak-anak yang sedang saya tekuni. Hubungi saya via email : lestarilisa8@gmail.com

Follow us

Featured Post

Popular Posts

  • Review Scarlett Brightening Series (Facial Wash, Esssence Toner, dan Serum)
    Review Scarlett: Brightening Facial Wash, Brightly Essence Toner, dan Brightly Ever After Serum  Ngaku, nih? Siapa yang suka banget coba-cob...
  • Mampirlah ke Dunia Lisa, Blog dengan Wajah Baru
    Eh, siapa sih yang nggak ingin tampilan blognya menjadi cantik dan enak dilihat? Semuanya pasti akan menjawab mau dong! Nggak ada yang pe...
  • Lebih Asyik ke Candi Borobudur Atau Candi Prambanan Untuk Menghabiskan Libur Akhir Tahun?
    ruangbelajarbahasainggris.com Libur tlah tiba Libur tlah tiba Hore ... hore ... hore! Apa sih hal yang membahagiakan bagi ...
  • Seperti Inilah Karakter Shio Babi Berdasarkan Elemennya
    Karakter shio babi dengan shio lainnya tentu saja berbeda. Karena beberapa shio dianggap memiliki pengertian berbeda. Apakah Anda sud...
  • Aturan Sosial yang Perlu Dikenalkan pada Si Kecil saat Bermain ke Rumah Temannya.
    Pernah nggak kamu ngalami kayak gini? Si kecil usianya sudah lima tahun, t ak jarang, anak suka membawa teman-temannya ke rumah untuk be...

Buku Terbit

Dunia Lisa

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  March 2025 (1)
      • Tradisi Membangunkan Sahur: Antara Romantisme Rama...
  • ►  2024 (1)
    • ►  September 2024 (1)
  • ►  2023 (4)
    • ►  July 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  March 2023 (1)
    • ►  February 2023 (1)
  • ►  2022 (14)
    • ►  September 2022 (2)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  July 2022 (1)
    • ►  June 2022 (1)
    • ►  May 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  March 2022 (2)
    • ►  February 2022 (2)
  • ►  2021 (32)
    • ►  December 2021 (5)
    • ►  November 2021 (2)
    • ►  October 2021 (5)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  May 2021 (2)
    • ►  April 2021 (3)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (39)
    • ►  December 2020 (4)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  September 2020 (3)
    • ►  August 2020 (3)
    • ►  July 2020 (5)
    • ►  June 2020 (6)
    • ►  May 2020 (4)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  March 2020 (5)
    • ►  February 2020 (3)
    • ►  January 2020 (2)
  • ►  2019 (78)
    • ►  December 2019 (2)
    • ►  November 2019 (3)
    • ►  October 2019 (4)
    • ►  September 2019 (3)
    • ►  August 2019 (6)
    • ►  July 2019 (8)
    • ►  June 2019 (7)
    • ►  May 2019 (18)
    • ►  April 2019 (6)
    • ►  February 2019 (9)
    • ►  January 2019 (12)
  • ►  2018 (49)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  October 2018 (8)
    • ►  September 2018 (10)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  April 2018 (3)
    • ►  March 2018 (6)
    • ►  February 2018 (3)
    • ►  January 2018 (10)
  • ►  2017 (116)
    • ►  December 2017 (4)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (21)
    • ►  September 2017 (8)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  July 2017 (4)
    • ►  June 2017 (7)
    • ►  May 2017 (6)
    • ►  April 2017 (11)
    • ►  March 2017 (28)
    • ►  February 2017 (11)
    • ►  January 2017 (12)
  • ►  2016 (198)
    • ►  December 2016 (12)
    • ►  November 2016 (24)
    • ►  October 2016 (31)
    • ►  September 2016 (29)
    • ►  August 2016 (6)
    • ►  July 2016 (5)
    • ►  June 2016 (18)
    • ►  May 2016 (22)
    • ►  April 2016 (21)
    • ►  March 2016 (26)
    • ►  February 2016 (4)

Total Pageviews

Komunitas

Dunia Lisa

Categories

  • Blog Competition 10
  • Cermin 6
  • Cerpen 128
  • Curhat 29
  • Flash Fiction 2
  • Lebih Dekat 2
  • ODOP Estrilook 7
  • Parenting 30
  • Puisi 29
  • SETIP Estrilook 3
  • Satu Hari Satu Karya IIDN 5
  • Serba-serbi Cerita Anak 13
  • Tantangan 3

Followers

About Me

My photo
Lisa Lestari
View my complete profile

Instagram

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram

Copyright © 2017-2019 Dunia Lisa. Created by OddThemes