Dunia Lisa
  • Home
  • Category
    • Mom's Corner
    • Curhat
    • Review
    • Literasi
      • Resensi Buku
      • Artikel
      • Cerita Anak
      • Reportase
      • Puisi
  • Lifestyle
    • Parenting
    • Traveling
    • Kuliner
  • Event
    • SETIP
    • ODOP Estrilook
    • ODOP Blogger Muslimah
    • Tantangan
  • About Me
  • Contact

Hasil gambar untuk gambar mudik
zonamobilsuzuki.com


Lebaran sebentar lagi ....
Eh, kok sudah ngomongin lebaran ya. Puasa saja belum angan saya kok rasanya sudah ingin berlebaran. Duh, efek dijanjiiin mudik sama suami. Maklum, saya termasuk golongan orang yang nggak pernah mudik setelah tidak ada ortu di kampung halaman. Alhasil, setiap kali lebaran menghabiskannya bersama keluarga di tanah rantau. Padahal saat masih ada Ibu, saya selalu mudik setiap liburan anak sekolah.


Ketika mendapatkan tugas untuk menghadiri sebuah acara di gedung PGRI di Bogor, sepulang dari acara saya melihat gerobak penjual kue ini di pinggir jalan. Sayangnya cuaca sedang tidak mendukung. Hujan sebentar lagi akan turun, jadinya saya memutuskan untuk secepatnya pulang. Saya melewatkan kesempatan emas untul bernostalgia dengan kue masa kecil ini. 

Apa tujuan saya ketika masuk ke dalam komunitas One Day One Post? 

Sudah tahu makanan gado-gado kan? Makanan kesukaan saya. Gado-gado adalah makanan yang sangat lengkap sekali. Ada sayuran, lontong, lengkap dengan tahu dan tempe lalu disiram dengan saus kacang yang, hmm...  sungguh nikmat sekali disantap.

Mataku menatap kosong, tanpa arah. Berjuta rasa yang entah apa namanya, tak mampu kusebutkan satu persatu. Yang pasti, ada rasa sedih luar biasa yang menancap kuat dalam hati. Tanpa sadar air bening menetes dari retinaku.


Ah, siapa sih saya? Baper euy ketika berhadapan dengan sistem yang terkadang nggak paham. Ditambah pula ketika diminta harus menghubungi ini dan itu. Lha, siapa saya? Kenalan nggak punya pula untuk sedikit memperlicin urusan agar lebih cepat. 



Hari ini kegiatan sekolah sudah memasuki TUC kedua. Tes Uji Coba untuk anak kelas enam SD. Hari kedua setelah keseling libur nyepi. Semoga anak-anak tetap semangat. 


Adakah agenda rutin yang dilakukan bersama keluarga? 
Foto Delly Supardi.
gallery fb bu delly




 “Titibah ...! Tolongin Dede ... !” teriaknya sambil tangan kanannya melambai meminta tolong. Kupeluk tubuh kecilnya, meskipun suaranya terdengar memekakkan telingaku. Ya, dia menangis dalam pelukanku, dalam paksaanku yang tidak mengijinkannya untuk menginap di rumah seseorang.


Iseng kubuka lagi status di BBM nya.
Aku hanya ingin masuk ke dalam ruang rindu milikmu, yang kini sudah berbatas dinding. Aku tak bisa melampauinya, meski hanya sekedar melihatmu sejenak. Tembok itu begitu tinggi...
Rupanya dia belum tidur. Kubaca statusnya, ada ngilu yang mendadak mengiris hatiku. Duh, Tuhan, apa yang ada dalam benaknya? Apakah dia benar merindukanku? Kenapa tanganku begitu angkuh untuk mengetik beberapa kata sekedar memastikan keadaannya?

Kutekan tombol off, agar hatiku tak merintih. Biarkanlah semuanya begini. Yakin, waktu akan menyembuhkan luka. Jika aku kembali menghubunginya, aku takut akan membuatnya makin terluka. Rekaman tangis dan suaranya saat menanyakan kenapa aku marah, sudah membuatku seperti ditusuk-tusuk ribuan pisau.

Mencoba merebahkan penatnya tubuh di atas kasur. Memejamkan mata meski kantukku sudah menguap pergi. Elok, andai kautahu, hatiku begitu merindukanmu.tapi aku nggak tahu harus memulai dari mana lagi?

Berbagai bayangan hadir berseliweran. Wajah Elok yang tertawa manis saat aku berhasil membuat hal lucu. Atau hanya sekedar wajah manyunnya saat aku berpamitan pergi dari sisinya. Semuanya bergantian memenuhi langit kamarku. Tak mampu mengusirnya pergi. Aagghhh, aku berteriak tertahan.

Keputusanku untuk diam hanya tak ingin menambah lukanya. Aku merasa tak pantas untuk gadis sebaik dia. Biarlah Elok belajar mencintai lelaki lain. Meskipun aku tahu, Elok bukan gadis yang mudah jatuh cinta. Tak sanggup rasanya harus melihatnya menangis. Semoga dia mengerti keputusanku.


Kantuk yang sudah menguap memaksaku berjalan menuju ruang depan. Menyalakan TV, memencet asal stasiun TV yang masih tayang. Sedangkan pikiran masih saja penuh dengan bayangan Elok. 

#OneDayOnePost
Tak pernahkah kamu tahu, wahai jiwa yang kucintai? Ketika aku merindukanmu, aku sungguh akan menjadi seseorang yang sangat menyebalkan bagimu. Aku hanya ingin perhatianmu untukku seorang. Bukan kepada lainnya. Sulitkah memahami ini?

Sesaat saja sapamu untukku sudah cukup mengobati rinduku. Tanyakan bagaimana perasaanku. Jangan hanya tidak tahu harus berbuat apa. Bukan hanya berkabar jika aku yang memintanya.

Berulangkali selalu kukatakan apa inginku. Aku ingin berbincang denganmu banyak hal. Aku tak pernah meminta apapun yang sulit kau penuhi. Tapi rupanya dua hal itu pun menjadi hal tersulit yang kamu rasakan. 

Diammu bukan bukti bahwa kau perhatian denganku. Bukan juga sebagai wujud tak ingin memyakitiku. Diammu justru membuat lukaku semakin melebar. Luka kecil di saat diammu beberapa waktu lalu belum sembuh benar. Kini kau buat makin menganga.

Ya, sudahlah. Mungkin kamu memang tak pernah ingin berkabar denganku. Mungkin juga kamu lelah dengan sifat ngambekku jika kamu cuek. Dan mungkin pula kau memang tak pernah merindukanku. Tak pernah ingin tahu kabarku dari mulutku sendiri.







“Aduh!” teriakku saat sekantong plastik besar menimpaku. Pasti ada lagi yang secara sengaja menjatuhkan kantong kresek berbau ini ke sini. Padahal tempat ini sudah penuh sesak dengan berbagai barang yang teronggok. Ada tumpukan karung bekas dengan segala isinya yang tak pernah kutahu. Paling banyak mendominasi adalah kantong-kantong plastik beraneka warna. Terikat dan sekali lagi, aku tak pernah tahu apa isi di dalamnya. Semua yang dijatuhkan ke tempatku dalam keadaan terikat.

Aku tak ingat secara pasti kapan orang-orang di sekitarku mulai melakukan hal ini. Dengan seenaknya menjatuhkan benda-benda yang tak kukenal ke tempatku. Bahkan orang yang sengaja hanya melewati jalanku, lebih sering melakukannya. Bukan orang asli sini yang aku kenal, tapi orang asing yang hanya sekedar lalu lalang.

Jembatan ini memang bukan jembatan dengan air yang mengalir. Aku ada di sini, sebuah jembatan yang di bawahnya kokoh dipasang rel kereta api panjang. Menghubungkan ke arah kota menuju Jakarta. Hanya sesekali kereta melewatiku. Lebih sering kereta barang yang mengangkut puluhan sak semen yang akan dikirim.

Aku hanya sebuah tempat yang berada di bawah jembatan, di tepian rel kereta api. Tapi kini aku mulai nampak tak nyaman dalam pandangan setiap orang yang lewat. Ada banyak barang yang dijatuhkan. Banyak lalat mengerubuti tempatku. Kucing-kucing liar sibuk mengais makanan sekedar mengenyangkan perutnya. Bau busuk selalu menyebar ke sekitarku.

Ingin berkata kepada mereka. Aku ingin menjadi bersih seperti dulu. Sebelum ada rel kereta memanjang. Aku dijadikan tempat duduk orang yang berolah raga di pagi hari. Atau anak-anak kecil yang berlarian. Aku lebih senang seperti itu. Bukan seperti sekarang, berbau dan sangat jelek dilihat.

Kepedulian orang di sekitarku tentang kebersihanku mulai tak ada. Hanya beberapa saja yang aku dengar berteriak marah jika ada yang menjatuhkan kantong ke tempatku. Ah, andai semua orang peduli dengan kebersihan. Tentunya aku tidak akan berbau dan penuh lalat seperti sekarang ini. Tulisan di papan “DILARANG BUANG SAMPAH DI SINI” nampaknya tak pernah berlaku bagi orang yang tak sadar akan kebersihan.

#OneDayOnePost


Duduk menatap teras yang basah oleh siraman air dari langit tanpa berkedip. Dan sisanya masih setia menemani bumi bersama nyanyian katak yang mulai riuh terdengar. Mataku tak berkedip menatap setiap tetesan yang jatuh mengenai rumput. Basah. Ada sejuta angan yang melintas saat hujan seperti ini. Membayangkan ingin bersamamu, di bawah air hujan  untuk beberapa saat saja.

Tak sadar senyumku terukir. Membentuk siluet indah tentangmu. Secangkir coklat panas dan hujan menjadi kombinasi yang lengkap untuk menghadirkanmu sore ini.

"Hei, nglamunin apaan?" kagetmu pada sore ini. Masih lengkap dengan pakaian kerjamu, menghampiriku yang masih asyik bercanda dengan siluetmu. Nyatanya kamu sungguh menjelma di hadapanku.

Kupeluk tubuhmu yang masih penat. Kusentuh pipi kananmu dengan tanganku. Kuelai lembut dan kubisikkan satu kata untukmu. "Sini, Yank!" kataku sambil menarik tanganmu untuk keluar dari teras. Melangkah menuju halaman yang penuh rumput. Aku ingin mewujudkan angan liarku sore ini, di bawah sisa air langit. Kau hanya tertawa kecil saat kita sampai di halaman, berbasah ria.

Kulingkarkan tanganku di lehermu. Kakiku sedikit terangkat, mengimbangi tinggi badanmu. Tak mau kalah, tanganmu memeluk pinggangku. Kukecup sekilas bibirmu yang mulai basah. 

"Aku mencintaimu, Yank, dengan segenap hati yang kupunya. Jangan lelah menemaniku di sepanjang usiamu," kusentuh bibirmu dengan aroma cinta yang kumiliki, menularkan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Tanganmu mulai berpindah memegang kedua wajahku. Kurasakan hal yang sama, saat kita mulai menyatu dalam guyuran hujan yang kembali deras.

#OneDayOnePost
#Imajinasisaathujan

Kepalaku sakit lagi, vertigo ini kembali mampir

Status yang kubaca delapan belas menit yang lalu. Ditulis tengah malam, saat orang terlelap. Ada rasa khawatir menyerangku, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Tidak berani lebih tepatnya. Hanya dengan mengamati status di media sosialnya aku tahu kabarnya.

Namanya  Elok, gadis dengan wajah manis, yang menurutku wajah dan namanya seimbang. Senyumnya yang selalu membuatku betah menatap lama tanpa berkedip. Tubuhnya tidak terlalu tinggi. Cenderung lebih pendek, bahkan mungil. Hatinya begitu lembut, perasaannya mudah tersentuh jika melihat hal-hal yang menyedihkan. Meski cepat ngambek, tapi aku takluk dengan perasaan cinta yang dihadirkan untukku. Keceriaan yang dimiliki mampu ia sebarkan kepadaku.

Aku mengenalnya empat tahun lalu, di akhir tahun 2012. Bukan pertemuan yang berarti, hanya kembali dipertemukan oleh media sosial. Perasaan yang pernah membuatku tak bisa tidur beberapa tahun ke belakang, kembali hadir. Dan aku merasa, Elok menyambut perasaanku. Gayung bersambut hingga jarak yang terbentang tak membuatku mundur. Rindu adalah tabungan kami di saat jarak memisahkan dua raga.

Harusnya ini menjadi tahun keempat bagiku dan Elok. Sebelum hal menyedihkan yang kami alami. Dan tahun 2016 menjadi tahun terberat bagiku.

Aku pilih mundur ya. Tak ingin memaksamu hanya pada satu keinginanku. Sadar diri jika selama ini mungkin aku tak pernah kau harapkan. Walau hanya lewat sebait kabar.

Dan bodohnya aku mengiyakan. Jadilah seperti ini. Tak ada lagi kabar dan cerita yang kudapatkan darinya. Ia terdiam, aku juga lebih diam. Memilih tinggal dalam kebisuan yang sebenarnya aku tahu, Elok tak pernah menyukainya.

Berkali-kali Elok selalu menyapaku, meskipun aku sering mendiamkannya. Bagaimana perasaan dia, itu adalah alasan kenapa aku mulai membisu. Rasanya selama mengenalku, aku hanya membuatnya bersedih dan menangis. Tak ingin berlama-lama membuatnya sedih, hingga bulat keputusankku di tahun 2016, aku tak memedulikannya.

Awal keputusanku, Elok masih setia bercerita apa saja kepadaku. Lama-lama nampaknya dia mulai lelah, karena hanya kubaca setiap ceritanya. Panggilan darinya juga kuabaikan. Hatiku benar-benar menjadi monster yang jahat baginya.  Kupikir  dengan diamku, dia akan menyerah dan meninggalkanku. Ternyata satu sisi yang belum kukenal, Elok gadis yang pantang menyerah.


Kusesap sisa kopi yang mulai mendingin. Tak ada lagi status baru. Mungkinkah sudah tidur? Atau hanya memeluk rasa sakit? Yang kutahu, keras kepalanya enggan untuk berobat. Jika saja dekat, aku akan menggendongnya pergi ke dokter, memeriksakan kesehatannya.

Tunggu lanjutannya...

#OneDayOnePost
Ah, melihatmu pulas berteman mimpi malam ini, tak tega rasanya membangunkanmu hanya sekedar untuk menemani kebiasaan malamku yang enggan terpejam sebelum bercerita banyak kepadamu.

Nampak lelah dari wajahmu. Entah apa yang sudah kau lakukan seharian ini tanpaku, hingga kau begitu lelap dan aku kau abaikan. 

Tapi di saat malam memelukmu, aku bisa puas menatap wajahmu yang selalu menemaniku. Wajah yang menghadirkan senyum untukku, kapan saja saat aku membutuhkanmu. Mataku semakin lekat memandangnya, menghadirkan sejuta rasa yang selalu sama untukmu.

Tidurlah, sayang. Masih ada esok hari untuk mendengarkan ceritaku, memelukku sepanjang aku di sampingmu hingga aku terlelap.

#OneDayOnePost
Dari hari Jumat malam El kecil menangis, ada sesuatu yang dirasakan. Badannya demam. Sampai malam ini kondisinya belum membaik. Saya rindu celotehnya saat bertanya banyak hal, saya rindu suara tertawanya ketika melihat kucing kecilnya melompat-lompat karena sedang bermain. Kakaknya juga merindukan keramaian El.

Saat sakit, bukan main rewelnya El kecil. Apa-apa salah di matanya. Saya hanya diajaknya berbaring, tidak boleh bergeser. Jika bergeser sedikit saja, dengarlah suara tangisnya akan pecah melengking. Meminta saya untuk kembali ke posisi yang dia inginkan. Tak mau ditinggal barang sejenak. Hingga saya nyaris tak bisa ngapa-ngapain.

Diajak oleh siapapun juga tidak mau. Hanya ingin berada dalam gendongan saya. Yang biasanya akan tertawa kepada siapapun, kali ini hanya menatap lesu. Sedih melihatnya.

Yang semakin membuat saya sedih, ketika saya berusaha meminumkan obat, adegan itu selalu berakhir penolakan. Jika saya memaksanya, El akan berontak hingga hanya sedikit obat yang tertelan. Hanya madu yang bisa saya berikan. Memaksanya minun obat, membuat air mata saya selalu ikut menetes, rasa tak tega menyergap.

Ayo, El, sayang, lekas sehat kembali. Lihatlah, Kakak dan Ummi sudah kangen tertawamu. Hush, sana sakit, pergi jauh dari dd El soleh.

#OneDayOnePost
#SehatElSayang
"Kenapa tulisanmu selalu tentangku?" tanyamu suatu hari setelah membaca tulisanku yang kuposting di salah satu akun medsosku.

Aku tertawa ringan, entah apa yang aku tertawakan. Sepertinya aku juga tidak tahu kenapa selalu dia yang menjadi penggambaran tokoh dalam ceritaku.

"Entahlah," jawabku

Kau tertawa mendengar jawabanku.

"Nggak ada jawaban lainnya?" masih penasaran rupanya.

"Karena kau yang di hatiku. Sehingga selalu kau yang akan menjadi tokoh dalam tulisanku. Aku ingin kau abadi selalu, dalam karya yang aku lahirkan."



#OneDayOnePost
Dari jauh sudah terlihat bayangnya. Tubuh tinggi, hidung mancung, rambut dibelah tengah, senyum khasnya sudah terbayang di mataku. Tanpa sadar senyumku mengembang. Sebentar lagi tanganku akan menyentuh raganya. Sungguh aku merinduinya. Membayangkan akan memeluknya, dadaku bergemuruh seperti ombak di lautan.

Takzim kucium tangan kanannya kala ia hanya berjarak kedipan mata di hadapanku. Masih dengan senyumnya dipeluknya tubuhku. Kuresapi aroma tubuhnya, kupejamkan mata agar wangi ini meresap ke hatiku.

"Aku merindukanmu, melebihi orang yang baru jatuh cinta," bisikmu lirih di sela-sela pelukanmu.

Kueratkan pelukanku, tanda aku merasakan hal yang sama. 

Mataku terbuka. Bayangmu menghilang dari pelukanku. Dan ternyata....

Ah, hanya mimpi sesaat yang singgah menemani malam panjangku.


#OneDayOnePost



Ah, Daring. Satu kata yang akhir-akhir ini ngetrend kembali seiring kesibukan untuk memulai kegiatan tersebut. Daring atau disebut Dalam Jaringan, atau online, adalah salah satu model pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh guru di Indonesia yang berdasarkan nilai UKG tahun 2015 kemarin mendapatkan raport merah sebanyak tiga sampai lima kompetensi. Maka yang bersangkutan wajib ikut kelas daring. Asal jangan darling ya, hehehe...

Bicara Daring, membuat saya sedikit garing. Mengapa? Karena saya ditunjuk sebagai mentor. Dengan keterbatasan saya yang minim IT, hal inilah yang membuat saya menjadi garing. Meskipun saya kebagian mentor Daring Kombinasi, online tapi ada pertemuan untuk tatap muka dengan guru peserta. Hanya saja saya merasa program ini terlalu dipaksakan, kesannya. Entah karena pemikiran saya pribadi atau karena keterbatasan saya. Mengapa saya katakan begitu?

Pertama, program Guru Pembelajar ini adalah programnya Bapak Anis Baswedan ketika beliau menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Begitu beliau lengser, kita sempat berpikir program ini akan batal. Ternyata tidak. Tetapi selama perjalanannya, program ini serasa berhenti. Dan tiba-tiba dimunculkan lagi untuk segera bergerak. Kemudian ada pemberitahuan lagi akan diundur sampai waktu yang tidak ditentukan. Nah...

Dan kabar terakhir, program ini serentak harus berjalan per tanggal 14 September 2016, dengan sistem yanng ternyata belum siap semua. Apa yang saya pelajari sebagai mentor ketika pelatihan, jauh berbeda untuk bisa masuk dalam sistem. Sedangkan awal pemberitahuan, sistem untuk program ini akan siap. Ternyata tidak. Dan ini membuat kami sedikit kelabakan.

Kedua, Video Call yang harusnya sudah siap, ternyata juga mengalami banyak kendala di lapangannya. Guru peserta tidak semuanya bisa mengakses jaringan internet dan menguasai IT. Untuk login saja kita harus bergantian. Dan ini sedikit menghambat pelaksanaan di lapangan. Ada juga beberapa peserta yang tidak memiliki laptop, padahal video call hanya bisa dilaksanakan melalui install di PC atau laptop.

Saya jadi berpikir, jikalau memang belum siap dengan semuanya, sistem dan segala MOU dengan Telkom, kenapa kita tidak menggunakan satu model saja? Yaitu model Tatap Muka. Tanpa ada online. Kita langsung berhadapan dengan peserta, belajar bersama, buka modul bersama, berdiskusi, dan akan selesai. Itu dalam bayangan saya yang rasanya memang awam dengan ini.

Akhirnya, sudahlah. Saya yang harus belajar lagi lebih baik menguasai IT, tetap bersemangat melaksanakan tugas sebagai mentor, agar program ini berjalan baik. Meskipun kenyataan di lapangan, banyak guru yang belum siap.

#OneDayOnePost
#CurcolDikit

Kubaca dan kuletakkan kembali di atas meja. Ya, hanya membaca saja pesannya, tanpa ingin untuk membalasnya. Ada marah yang masih tersimpan di hati. Sadar atau tidak, aku yakin, yang mengirimiku pesan pasti menyadarinya. Sebuah kesalahankah? Entahlah, aku juga tidak tahu namanya.

Dulu, sebelum kejadian yang membuat jiwa lelakiku terusik, aku selalu menunggu ceritanya. Wanita manis, dengan lesung pipit yang aduhai kala tersenyum. Dia akan mampu mengubah cerita keseharianku menjadi lebih penuh warna. Apa saja sanggup dia ceritakan. Mulai dari kegiatannya di tempat kerja, siapa saja yang dia jumpai hari itu, apa yang akan dan sedang dia lakukan, bahkan bisa jadi seekor kucing kesayangannya akan menjadi topik perbincangan yang seru di antara kita. 

Tapi sekarang? Aku mengabaikannya! Hanya demi sebuah harga diriku yang sudah terluka. Dia mengusik sisi terdalam yang kupunya. Meskipun aku sungguh merindukan ceritanya, tapi aku lebih suka dia merayuku. Memohon maaf dan memintaku seperti dulu. Bisa saja sebenarnya, namun biarlah. Dirayu olehnya seperti kebanggan bagiku. Aku merasa sangat dibutuhkan.

"Kesalahanku yang sebesar gunung, mungkin tak bisa engkau maafkan. Entahlah, aku juga mulai lelah meminta maafmu. Jika kita benar saling jatuh cinta, kita tak akan pernah membiarkan hati menjadi luka."

Sebuah pesanmu. Aku keterlaluan? Iya menurutmu. Berkali-kali dia meminta maaf, aku tak bergeming sama sekali. Aku terlalu angkuh memberikan maaf. Apakah benar aku mencintainya? 

Pertanyaan itu mengusikku. Hatiku tak bisa menjawabnya. Mungkin benar aku lelaki egois seperti katanya, aku lelaki yang tak pernah mengerti hatinya. Tapi benarkah aku mencintainya? 

Jawaban yang kusiapkan dari hatiku adalah, aku pernah mencintainya. Sebelum dia melukaiku. Dan kini, aku melepaskan rasa itu. Maafkan aku.

#OneDayOnePost
#NunggusiHitamditambal
Older Posts Home

Mama Daring

Mama Daring

Seru-seruan

1minggu1cerita

About Author

PENULIS & BLOGGER

Hallo, Saya adalah muslimah penyuka kucing, senang traveling meski belum berkunjung ke banyak tempat, senang kuliner walau hanya makanan tertentu, membaca berbagai jenis buku, menulis cerita anak, dan berpetualang ke negeri dongeng untuk menciptakan berbagai keajaiban dalam ke dunia anak-anak yang sedang saya tekuni. Hubungi saya via email : lestarilisa8@gmail.com

Follow us

Featured Post

Popular Posts

  • Review Scarlett Brightening Series (Facial Wash, Esssence Toner, dan Serum)
    Review Scarlett: Brightening Facial Wash, Brightly Essence Toner, dan Brightly Ever After Serum  Ngaku, nih? Siapa yang suka banget coba-cob...
  • Mampirlah ke Dunia Lisa, Blog dengan Wajah Baru
    Eh, siapa sih yang nggak ingin tampilan blognya menjadi cantik dan enak dilihat? Semuanya pasti akan menjawab mau dong! Nggak ada yang pe...
  • Lebih Asyik ke Candi Borobudur Atau Candi Prambanan Untuk Menghabiskan Libur Akhir Tahun?
    ruangbelajarbahasainggris.com Libur tlah tiba Libur tlah tiba Hore ... hore ... hore! Apa sih hal yang membahagiakan bagi ...
  • Seperti Inilah Karakter Shio Babi Berdasarkan Elemennya
    Karakter shio babi dengan shio lainnya tentu saja berbeda. Karena beberapa shio dianggap memiliki pengertian berbeda. Apakah Anda sud...
  • Ramalan Shio Ayam Tahun 2020 Lengkap dari Cinta Hingga Keuangan
    Hanya tinggal menyisakan kurang dari dua bulan saja, kita semua akan menyambut tahun 2020. Tentu berbagai harapan dilontarkan dan pe...

Buku Terbit

Dunia Lisa

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  March 2025 (1)
      • Tradisi Membangunkan Sahur: Antara Romantisme Rama...
  • ►  2024 (1)
    • ►  September 2024 (1)
  • ►  2023 (4)
    • ►  July 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  March 2023 (1)
    • ►  February 2023 (1)
  • ►  2022 (14)
    • ►  September 2022 (2)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  July 2022 (1)
    • ►  June 2022 (1)
    • ►  May 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  March 2022 (2)
    • ►  February 2022 (2)
  • ►  2021 (32)
    • ►  December 2021 (5)
    • ►  November 2021 (2)
    • ►  October 2021 (5)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  May 2021 (2)
    • ►  April 2021 (3)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (39)
    • ►  December 2020 (4)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  September 2020 (3)
    • ►  August 2020 (3)
    • ►  July 2020 (5)
    • ►  June 2020 (6)
    • ►  May 2020 (4)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  March 2020 (5)
    • ►  February 2020 (3)
    • ►  January 2020 (2)
  • ►  2019 (78)
    • ►  December 2019 (2)
    • ►  November 2019 (3)
    • ►  October 2019 (4)
    • ►  September 2019 (3)
    • ►  August 2019 (6)
    • ►  July 2019 (8)
    • ►  June 2019 (7)
    • ►  May 2019 (18)
    • ►  April 2019 (6)
    • ►  February 2019 (9)
    • ►  January 2019 (12)
  • ►  2018 (49)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  October 2018 (8)
    • ►  September 2018 (10)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  April 2018 (3)
    • ►  March 2018 (6)
    • ►  February 2018 (3)
    • ►  January 2018 (10)
  • ►  2017 (116)
    • ►  December 2017 (4)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (21)
    • ►  September 2017 (8)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  July 2017 (4)
    • ►  June 2017 (7)
    • ►  May 2017 (6)
    • ►  April 2017 (11)
    • ►  March 2017 (28)
    • ►  February 2017 (11)
    • ►  January 2017 (12)
  • ►  2016 (198)
    • ►  December 2016 (12)
    • ►  November 2016 (24)
    • ►  October 2016 (31)
    • ►  September 2016 (29)
    • ►  August 2016 (6)
    • ►  July 2016 (5)
    • ►  June 2016 (18)
    • ►  May 2016 (22)
    • ►  April 2016 (21)
    • ►  March 2016 (26)
    • ►  February 2016 (4)

Total Pageviews

Komunitas

Dunia Lisa

Categories

  • Blog Competition 10
  • Cermin 6
  • Cerpen 128
  • Curhat 29
  • Flash Fiction 2
  • Lebih Dekat 2
  • ODOP Estrilook 7
  • Parenting 30
  • Puisi 29
  • SETIP Estrilook 3
  • Satu Hari Satu Karya IIDN 5
  • Serba-serbi Cerita Anak 13
  • Tantangan 3

Followers

About Me

My photo
Lisa Lestari
View my complete profile

Instagram

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram

Copyright © 2017-2019 Dunia Lisa. Created by OddThemes