15 Oktober 2017

Kesalahan dalam Menulis Cerita Anak


Judulnya keren ya, padahal ini hanya sharing kecil yang saya alami ketika berproses belajar menulis cerita anak bersama mentor, Pak Bambang Irwanto.



Sederhana ya cerita anak itu, tapi menurut beberapa orang, justru paling sulit dibandingkan dengan cerpen remaja atau dewasa. Menuliskan bahasa agar mudah dipahami anak-anak, itu menjadi alasan sebagian penulis. Berawal dari ide sederhana, konflik juga sederhana, ternyata merangkai kalimatnya terkadang menjadi terlalu tinggi untuk dipahami oleh anak.

Berikut kesalahan yang sering saya buat ketika mengikuti kelas beliau:

1. Kalimat terlalu panjang.
Ini yang sering saya lakukan. Lupa bahwa tulisan saya nantinya akan berhadapan dengan anak-anak usia SD. Usahakan kalimatnya mengandung SPOK, tak perlu panjang. Cukup kalimat sederhana saja.

2. ‎Lupa menambahkan koma
Ketika membuat kalimat dengan anak kalimat di awal, saya sering lupa menambahkan koma dalam kalimat tersebut. Atau kalimat yang saya buat terlalu panjang, main kasih titik saja, tanpa memberinya jeda sebentar.

3. ‎Bahasa yang saya gunakan terlalu tinggi
Ini nggak sering-sering amat sih, tapi pernah saya alami. Mengambil kata yang menurut saya itu pas, ternyata bagi anak iyu kata yang membingungkan. Ingat, cerita anak nggak perlu diksi yang terlalu indah.

4. ‎Sering membuat kalimat tidak efektif
Alih-alih agar cerita saya hidup, banyak menggunakan kata yang sebetulnya bisa diefektifkan. Tadinya dua kalimat, ternyata cukup menjadi satu kalimat saja.

5. ‎Cerita terkadang tidak masuk logika
Ini yang sering saya lakukan. Membuat sebuah cerita yang sudah pas, dari ide, konflik, dan alurnya. Eh, saya lupa dengab logikanya. Contohnya, pada saat melempar ide sebuah dongeng tentang tokoh kesatria, saya memasukkan konflik bahwa putri raja tersesat di hutan. Lalu ditemukan oleh kesatria dan diantar pulang. Logikanya kan, nggak mungkin seorang putri raja pergi ke hutan tanpa dikawal sehingga menyebabkan tersesat. Sederhana, tapi harus berdasarkan logika. Atau saat saya belajar dongeng dengan tokoh benda mati. Saya menuliskan tokoh saya bersalaman. Padahal mereka benda mati yang tentunya tak punya tangan. Sekali lagi, cerita anak yang kita buat harus tetap masuk dalam logika.

6. ‎Alurnya sederhana atau kurang berliku
Menurut Pak Bambang, sebuah ide sederhana bisa menjadi cerita yang menarik jika alurnya dibuat sedikit berliku. Nah, ini yang masih menjadi PR bagi saya. Terkadang ide yang saya lemparkan sudah bagus dan unik, tetapi karena alurnya kurang berliku, jadilah cerita yang saya buat biasa sekali hasilnya. Kunci membuat alur berliku adalah meningkatkan jam terbang dalam membuat cerita anak. Satu ide bisa menjadi banyak cerita dengan alur yang berbeda.

7. ‎Secara nggak sadar berpindah pov
Niatnya sih dari awal memang menggunakan pov 3, ternyata dalam perjalanan saya menceritakan tokoh lainnya juga. Padahal itu nggak boleh. Harus tetap fokus dengan satu tokoh yang kita pilih meskipun menggunakan sudut pandang orang ketiga. Begini rumusnya, jika memilih pov 1 seolah-olah kita bercerita kepada teman. Kalau pov 3 seolah-olah kita menceritakan teman kita kepada teman lainnya.

8. ‎Pembahasannya terlalu meluas
Ini nih, lagu lama milik saya. Suka sekali melebarkan konflik jadi beberapa anak konflik. Kan jadi boros kata dan penyelesaian.

9. ‎Mengulang penjelasan karakter tokoh
Jika di awal cerita kita sudah menjelaskan karakter tokoh yang digunakan, maka tak perlu mengulangnya di tengah cerita. Seperti di awal cerita kita menjelaskan bahwa si mobil tua bernama Gero, maka paragraf berikutnya cukup disebutkan namanya saja.

10. ‎Pemilihan nama untuk tokoh
Walaupun cerita anak, memilih nama tokoh menjadi hal menyulitkan buat saya. Seringkali saya membuat nama tokoh yang hampir mirip antara satu tokoh dengan tokoh lainnya. Titi, Tito, Meti ... Itu adalah nama-nama tokoh yang hampir mirip. Kasihan anak, jika harus membaca ulang karena susahnya mengingat nama tokoh yang hampir mirip.

Itulah sepuluh kesalahan yang pernah saya ciptakan ketika belajar menulis cerita anak. Semoga bermanfaat.

Yuk, semangat lagi menulis cerita anak untuk anak-anak kita.

#Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia.

10 komentar:

Bambang Irwanto mengatakan...

Keren sekali, Mbak Lisa.
Menganalisa proses menulis sendiri itu keren, Mbak. Jadi bisa kita ketahui mana kekurangan kita saat menulis, dan selanjutnya, memperbaiki diri.

Terus semangat menulis, Mbak Lisa.

denik mengatakan...

Huaaah .. mba ae bilang gitu saat nulis cerita anak. Bagaimana dengan aku?!!

lisa lestari mengatakan...

Iya, Pak, itu tadi tulis,tulis,ee ternyata sampai 10 kesalahan yang sering saya buat. Hahahhaha.. Terima kasih ya, Pak, atas bimbingannya. Siap, Bapak, semangat!!

lisa lestari mengatakan...

Hahahaha.. Itu aku mbak, kan tiap orang berbeda. Ini saking murid kurang konsentrasi.. Hahahha

Nurin Ainistikmalia mengatakan...

mau dong baca-baca cerpen Mbak Lisa..��

Damar Aisyah mengatakan...

Simpen, penting buat yang sedang belajar.

Dian Ravi mengatakan...

Nulis cerita anak itu harus sederhana jadi ya. Aku belum pernah nulis cerita anak. Nulis cerita aja udah lama enggak. Makasih tipsnya, Mbak.

Muyassaroh mengatakan...

Dan benar sekali, nulis cerita anak satu halaman aja lama banget buat saya...hiks. Pengen gigitin meja..huaaa...

Arina Mabruroh mengatakan...

Iya Mba, bagiku nulis cerita anak itu jauh lebih rumit dibanding nulis cerpen biasa.
Makasih sharingnya Mba.. mantabs!

Dian Restu Agustina mengatakan...

Trims tipsnya Mbak..
Saya nggak lulus-lulus nih nulis cerita anak ...

Posting Komentar