Dunia Lisa
  • Home
  • Category
    • Mom's Corner
    • Curhat
    • Review
    • Literasi
      • Resensi Buku
      • Artikel
      • Cerita Anak
      • Reportase
      • Puisi
  • Lifestyle
    • Parenting
    • Traveling
    • Kuliner
  • Event
    • SETIP
    • ODOP Estrilook
    • ODOP Blogger Muslimah
    • Tantangan
  • About Me
  • Contact
Terhidang di atas tikar pandan menu yang telah dipesan. Dua ekor ayam kampung bakar, gurame bakar tiga kilogram, berbagai lalapan, dan sayur asem serta sambal. Mata Sasya sudah lirik sana lirik sini hendak mencomot makanan kesukaannya. Badannya yang kecil bukan berarti porsi makannya sedikit. Biasanya tak akan berhenti mengunyah sebelum makanan habis, itu prinsip Sasya yang akhirnya diikuti oleh dua sahabatnya, Altamira dan Helena. Para suami mereka hanya tersenyum jika istri-istri mereka masih sibuk menghabiskan makanan, sedangkan mereka sudah selesai. 

"Aku mau makan pake ayam bakar dulu. Say mau makan pake apa?" tanya Sasya. Tangannya sibuk memindahkan nasi ke piringnya, kemudian mengambil ayam bakar bagian paha. 

Yang ditanya tersenyum. "Samaan saja ya, sepiring berdua saja, Yank. Nanti kalau mau nambah gurame, ambil lagi."
Dijawab anggukan kepala oleh Sasya. Helena dan Altamira juga sudah mulai menyantap makanan.

Sibuk menikmati makanan dengan sesekali ditimpali obrolan ringan dan gurauan. Hanya Awan yang masih sibuk dengan ponsel pintarnya. Mungkin ada bisnis atau apalah. Helena sering mengeluhkan perbuatan Awan ini kepadanya dan Altamira.

Terlahir sebagai sulung, tidak serta merta membuat Helena menjadi gadis yang mandiri. Sifat manjanya masih kuat meskipun dia mendapat tugas pengabdian di Bogor, jauh dari orang tuanya. Banyak hal dan pemikiran bahkan sikap dari Helena yang sering membuat Sasya ataupun Altamira harus geleng-geleng kepala. Si kepala batu yang susah diberi nasehat. 

"Sebel sama si Awan. Bosen ah, pengen udahan saja. Nggak mau nerusin pernikahan ini." Keluh Helena siang itu sepulang sekolah di kontrakan Sasya. Sejak Helena menikah disusul Altamira, Sasya akhirnya memilih pindah kontrakan lebih kecil. 

Altamira dan Sasya memandang wajah ayu Helena. Ada bekas tangisan sisa semalam sepertinya. Sudah berkali-kali hal begini dikeluhkan oleh Helena. Sikap Awan yang cuek, nyaris tak perduli dengan Helena dan anak-anaknya. Padahal usia pernikahan mereka belum lama. Tahun 2012 pertengahan Helena memutuskan untuk serius dengan Awan. Perkenalannya yang singkat di desa ini, tak membuat Helena ragu memilih Awan. Padahal kedua orang tuanya sudah menyiapkan pasangan untuk Helena. Lebih kaya dan mapan dibandingkan Awan. Sekalipun mendapat pertentangan dari orang tuanya, Helena tetap keras kepala memilih Awan. Dengan bujuk rayu, akhirnya luluh juga orang tua Helena. 

"Ingat nggak, dulu bagaimana berjuang mendapatkan restu hingga bisa menikah?" sindir Altamira. Sasya mengiyakan dengan anggukan kepala. Helena hanya nyengir tak berarti.

"Nggak ingat kali ya, bagaimana nangisnya berdua dulu, jika tetap tak dapat restu. Ingat juga ketika kita harus bermain petak umpet agar kamu bisa bertemu dengan Awan, sedangkan calon suami yang dibawakan ibumu datang." tambah Sasya tak kalah kerasnya.

Helena semakin menunduk. Tanpa disadari air matanya jatuh perlahan dari bulat matanya. "Jujur aku masih sayang dengan Awan. Tapi kenapa dia cuek? Dia asyik bermain dengan dunianya, yaitu telefonnya. Kalian ingat tentang si Jurik?" pelan Helena menjawab.


Bersambung....

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung
Sasya, Altamira, dan Helena memutuskan tinggal dalam satu kontrakan. Mereka menyewa satu rumah dengan tiga kamar. Memilih tempat tinggal dekat dengan sekolah, agar lebih irit biaya ongkos. Sekolah  mengabdi mereka adalah sebuah SD di bawah kaki bukit dengan suguhan pohon-pohon hijau di sekelilingnya. Udara dingin, kabut terkadang turun memberi warna pada desa tersebut. Jalanan khas kampung berbatu, berkelok, membuat enggan penghuninya keluar rumah, menyebabkan rumah kontrakan itu selalu ramai dengan cerita setiap harinya. Kebersamaan yang menyenangkan. Bercerita dalam senang dan sedih. Asyik mendalami watak satu sama lainnya. Dengan keunikan masing-masing bawaan dari asalnya. Sedikit selisih dari bertiga, masih dianggap wajar. Yang penting mereka selalu berkomunikasi agar tidak terjadi salah paham.

Kejadian yang Sasya ingat, setelah dua minggu mereka bersama dalam satu sekolah dan kontrakan. Siang itu sepulang sekolah Altamira masuk kamar dengan wajah usai menangis. Sasya dan Helena yang asyik berbincang di ruang tengah, bergegas menghampiri pintu kamarnya. Mengetuk perlahan, menanti jawaban dari empunya kamar. Sepi tanpa jawaban. Hanya isak tangis mulai terdengar menjawab ketukan pintu sahabat.

"Tata, buka pintu dulu!" Sasya mengetuk pintu semakin gugup mendapati suara isak tangis Altamira. Helena pun ikut berteriak menggedor pintu.

"Tata, ada apa? Buka pintunya dahulu!" kembali Sasya meminta. Kembali tanpa respon.

Hening, Sasya dan Helena berdiri di depan pintu, menanti Altamira membukakan pintu. Sasya jongkok, menyandarkan punggungnya ke pintu kamar Altamira. Kepalanya tertunduk. Helena berdiri, lengan kanan bersandar pintu, matanya menatap Sasya, menunggu perintah apa yang akan dilakukan agar Altamira mau membuka pintu.

Detik berputar dengan menit. Hampir dua puluh menit mereka mematung tak bergerak dari posisi semula. Ketika terdengar gerakan engsel pintu dibuka, reflek Sasya berdiri dari jongkoknya. Kakinya sudah mulai terasa kesemutan.

Muncul wajah kusut, mata merah usai menangis, dari balik pintu, telfon genggam ada di tangan kanan. Sepertinya selesai menelefon seseorang. Mungkin keluarganya yang jauh. Kasihan Altamira, pasti dia merasa sendiri dan jauh dari keluarganya.

Sasya memeluk Altamira, Helena melakukan hal yang sama. 

"Aku nggak apa-apa," lirih Altamira menerangkan kondisinya kepada sahabatnya. Terlihat mereka sangat panik, wajah cemas, saat Altamira masuk kamar tadi.

Sasya melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang pundak Altamira. "Ceritakan pada kami, apa yang terjadi?"

Altamira menggandeng tangan kedua sahabatnya, duduk di tepi busa kasur. 

"Aku tadi nyaris adu pendapat dengan Bu Popi. Kalian tahu kan, bagaimana beliau melihatku. Selama ini Bu Popi tak pernah mau bersalaman tangan denganku. Senyum juga enggak, apalagi ngobrol. Kalaupun bercakap, yang keluar kata-kata berbumbu cabe sekilo. Tadi aku bertanya ke beliau, apakah aku berbuat salah sehingga perlakuan beliau judes bin ketus ke aku."

Sasya dan Helen mendengarkan penjelasan Altamira. Mereka tahu betul siapa Bu Popi. Guru senior, cantik, berkerudung lebar, tapi desas desus yang ada, beliau memang judes. Apalagi sikapnya kepada Altamira yang berbeda keyakinan. Nyaris tak pernah mau bercakap ramah atau sekedar bersalaman tangan. Entah apa yang ada dalam pikiran Bu Popi mengenai Altamira. Pernah mendengar bahwa Bu Popi mengatakan hal buruk tentang Altamira dan keyakinannya. Sehingga beliau merasa kotor jika bersentuhan dengannya.

"Aku sedih, aku memang beda agama dengan kalian semua. Tapi apa segitu buruknya aku di mata agama kalian?" ada nada amarah, geram, dari kata-kata Altamira.

"Aku harus berbuat apa?" dua tangan Altamira menangkup di wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Sasya dan Helena erat kembali memeluk sahabatnya.

"Untuk sementara kita cuekin dulu Bu Popi. Kamu sahabatku, Ta. Kita memang berbeda. Tapi karena perbedaan itulah kita menjadi indah. Agamamu ya agamamu, agamaku ya agamaku." Sasya semakin erat memeluk Altamira yang menangis kembali. 

Bersambung....

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung
Duduk berkumpul melihat daftar menu, membacanya untuk menentukan pilihan. Helena dan Awan menawarkan ayam kampung dan ikan gurame bakar saja. Tambah lalapan dan sayur asem. Sasya mengiyakan pilihan Helena. Sedangkan Altamira meminta ikan gurame diperbanyak. Bosan dengan ayam kampung bakar, katanya. 

Sasya duduk merapat ke tubuh Ayub, sesaat setelah merasakan hawa dingin kembali menyergap. Hidungnya mulai terasa gatal, bersin-bersin, pertanda tubuhnya mulai melakukan penolakan terhadap udara dingin. Tangan kanan Ayub merangkul tubuh mungil Sasya, mengelus pundaknya, sekedar membantu mengusir hawa dingin dari tubuh Sasya.

"Dingin, Yank?" tanya Ayub. Wajahnya menatap Sasya yang mulai sibuk dengan tisu.

"Nggak bawa jaket, lupa," lirih Sasya menjawab. Matanya tak lepas membalas tatapan Ayub. Lelaki yang dicintainya mulai terlihat khawatir setiap ia bersin-bersin karena kedinginan.

Tangan Ayub kembali mengusap lengan kanan Sasya. Menyumbangkan hawa hangat miliknya, sekedar mengurai hawa dingin agar pergi dari Sasya. Ingin rasanya ia memeluk Sasya, agar lebih hangat. Tapi tak mungkin dilakukan. Ada Helena, Awan, Altamira, dan Alphon yang belum juga kembali dari kamar mandi. 

"Ehem...ehem...!" deheman dari Altamira dan Helen menyadarkan Sasya dan Ayub, ada mereka juga.

"Romantisnya dilanjutkan nanti lagi ya," kata Altamira tegas disambut tawa oleh Ayub dan Sasya. 

"Heran deh, nggak di rumah, nggak di luar, bikin iri saja!" kembali Altamira melanjutkan serangannya. Dijawab juluran lidah oleh Sasya, dengan tubuh makin merapat ke Ayub, memeluk dengan sengaja. Ayub hanya tertawa kecil mendapat perlakuan seperti itu. Awan melirik sekilas, tersenyum melihat tingkah sahabat istrinya. Pun Helena melakukan hal yang sama.

"Kakak lama amat sih ke kamar mandinya?" semprot Altamira ketika melihat Alphon baru bergabung. Yang mendapat semburan hanya tertawa kecil. Ia sudah hafal dengan istrinya, meskipun terdengar galak, tapi sesungguhnya ia sangat baik. Sehari tanpa teriakan Altamira seperti sayur tanpa garam, begitu Alphon menggambarkan tentang istrinya.

"Tata kebiasaaan! Jangan galak-galak sama Bang Alphon!" kata Sasya. Tata adalah panggilan sayang dari Sasya untuk Altamira. Terlalu panjang jika panggil nama lengkap, makanya ia hanya ambil nama singkatnya. Dan Altamira tidak keberatan dengan panggilan barunya.

Sasya mengamati kedua sahabatnya. Altamira yang dikenal galak, cerewet terhadap suaminya. Hampir setiap bertemu diwarnai dengan perdebatan kecil khas mereka. Bumbu pernikahan milik mereka. Herannya jika Altamira dalam sehari tidak adu argumen dengan Alphon, ia merasa rindu, ada yang hilang katanya. Menurut Altamira, dengan berantem mereka akan tambah mesra. Pernyataan yang aneh menurut Sasya yang selalu bengong mendapati mereka terkadang berdebat di depannya.

Lain Altamira, lain dengan Helena. Helena yang menginginkan romantis dengan suaminya, sering tak ditanggapi. Hanya gerutuan jika Helena melakukannya. Yang dianggap lebailah kata Awan. Awan sendiri dianggap suami yang super duper cuek menurutnya. Bahkan ke anak-anaknya juga. Seperti sekarang ini, melihat Ratu yang mulai mengantuk dan minta gendong, Awan tidak menawarkan untuk menggendong Ratu. Jadilah Helena menggendong tubuh Ratu yang perlahan matanya mulai tertutup kalah oleh rasa kantuk menunggu pesanan yang belum datang.

Bagi Sasya memiliki dua sahabat seperti Altamira dan Helena seperti memiliki harta benda yang berlimpah. Ia ingat betul bagaimana mereka dipertemukan dalam satu tugas, ditempatkan di daerah paling timur dari Kabupaten Bogor, tahun 2012 silam. Ingatan Sasya terbang sejenak menikmati waktu pertama kali dikumpulkan dalam satu tugas mulia, mengabdi menjadi guru SD.

"Aku Helena," gadis berkerudung itu menjabat tangan Sasya setelah urusan pemberkasan dan pelaporan di sekolah yang ditugaskan selesai. Sedangkan di sebelah Helena berdiri wanita yang tinggi, hitam manis dengan model rambut sebahu. Membawa travel bag. 

Sasya tersenyum menanggapi perkenalannya dengan Helena. Berasal dari Garut, gadis Sunda yang ramah, putih, pipi agak tembem, tidak terlalu tinggi tapi yang jelas lebih tinggi dari Sasya. Kemudian gadis sebelah Helena memperkenalkan diri sebagai Altamira. Jauh dari Ambon mengikuti seleksi CPNS dan ditempatkan bersamaan dalam satu sekolah. Awalnya Altamira sedikit canggung. Dia yang berbeda keyakinan, takut tidak diterima. Sasya sendiri berasal dari Jawa. Paling pendek dari mereka. Hingga akhirnya bertiga memutuskan tinggal dalam satu kontrakan.


Bersambung...

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung
Rumah Makan Banoraya 2 merupakan tempat yang sengaja dipilih oleh Helena untuk bertemu dengan kedua sahabatnya yang lain. Awalnya Helena memilih Rumah Makan Banoraya 1, yang letaknya ke atas lagi. Makanan yang disajikan pun lebih beragam. Bisa memesan ikan bakar ataupun ayam kampung bakar. Bahkan masih ada menu pilihan berbagai pepes dan sayur. Lalapan juga disediakan cukup banyak. Tinggal memilih petai, terong bulat, kacang panjang, daun singkong rebus, kol, timun, selada, dan daun-daunan lalapan lainnya. Sedangkan di sini, tidak ada aneka pepes. Sayur juga hanya ada sayur asem, lalapan juga terbatas terong, selada dan timun. Tapi tak apa-apalah, daripada berdebat lagi dengan Sasya si bawel. Takut hujanlah, takut kemalemanlah, takut licinlah, dan masih banyak lagi tadi argumen Sasya diiringi cemberut Helena karena tak bisa membantah sahabatnya yang satu ini.

Helena turun dari X Over putihnya, menggendong si cantik Ratu anaknya yang kedua. Memakai celana hitam dipadukan dengan blouse coklat muda, kerudung warna senada menambah ayu paras putih Helena. Sepatu sandal hitam teplek ia kenakan kali ini. Bahu kirinya menyangga tas kecil berwarna coklat. Kaca mata hitam kotak masih bertengger di atas kepalanya. Ratu yang digendong dengan tangan kanannya tampak tertawa gembira. Berjalan di sebelahnya lelaki tampan, tubuh atletis, sibuk dengan telefon pintarnya, adalah ia, suami dari Helena. Awan namanya. Berkaos putih dan bercelana hitam. Sandal carvil coklat menjadi pilihan kakinya. Melihat Helena kerepotan menggendong Ratu, Awan hanya melirik sekilas. Selama istrinya tidak meminta bantuan kepadanya, maka ia kembali sibuk dengan teleponnya. Menjawab pesan singkat ataupun BBM sepertinya.

Masuk Rumah Makan Banoraya 2 akan disambut senyum oleh waitres cantik, mempersilahkan tamu untuk memilih tempat yang paling nyaman. Bangunan berbentuk panggung dengan kolam ikan di bawahnya menambah asyik pemandangan. Tatapan mata akan disuguhkan dengan eloknya bukit-bukit kecil yang menghampar di sekelilingnya. Pohon-pohon besar dan rindang menghadirkan udara sejuk, sehingga pengunjung akan merapatkan jaket ataupun sweaternya. Tidak besar bangunan panggung ini,  tapi cukup luas untuk menerima tamu, dengan tikar pandan menikmati makanan ala lesehan. Ada dua bangunan rumah panggung. Satu bangunan lagi ada di seberang kolam ikan. Lebih besar dari rumah panggung yang pertama. Halaman parkir yang disediakan cukup luas untuk lima sampai sepuluh mobil. Parkir kendaraan roda dua ada di sebelah kanan bangunan, terpisah dari parkir roda empat.

Di belakang mobil Helena, dua sepeda motor beriringan. Satu sepeda motor N Max hitam dikendarai oleh Altamira dengan suaminya Alphon. Keduanya berperawakan tinggi besar dengan kulit hitam manis khas orang timur. Rambut Altamira sebahu, tebal hitam. Keduanya berjalan bersisian setelah memarkir sepeda motornya di sebelah X Over putih Helena. Turun dari motor menunggu satu sepeda motor lagi yang baru saja parkir di sebelahnya.

Sasya berboncengan dengan suaminya, Ayub. Memeluk mesra punggung suaminya. Turun dari Vario hitam terdengar suara tertawa lepas. Sasya bertubuh mungil, mengenakan celana hitam dengan blouse panjang kembang-kembang kecil warna biru. Dipadu dengan kerudung biru gelap. Wajah manis dengan bola mata bulat, bibir tidak terlalu tipis. Tapi cukup ramai bila  bercerita apalagi berdebat.  Berbanding terbalik dengan suaminya, Ayub. Bertubuh tinggi, rambut belah tengah, manis, dan terlihat agak pendiam. Bercelana jeans sedengkul dengan kaos garis merah marun. Tas kecil diselempangkan di bahu. Merangkul Sasya berjalan mendekati Altamira dengan suaminya.

"Nggak jadi ke atas? Katanya ke Banoraya 1?" tanya Ayub ke Altamira. Altamira hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan sahabatnya.

"Mmhh, " Sasya menggumam menanggapi jawaban Altamira. "Apa karena tadi aku ngomel ya? lanjut Sasya. Ia ingat, sebelum ke sini tadi mereka bertiga sempat ramai memilih tempat. Mungkin Helena memilih mengalah.

"Ya sudah, kita nyeberang. Helen sudah menunggu tuh." Kata Sasya melihat lambaian tangan Helena yang sudah mengambil tempat di panggung kedua. Menempati karpet paling ujung dekat dengan pinggir kolam. Ratu asyik melihat ikan nila, mujair, dan ikan mas yang berada di bawahnya. Sesekali tangan Ratu melambai dan tertawa kecil melihat ikan yang muncul ke permukaan air.

Berempat berjalan mendekati Helena dan Awan. Sasya bergelanjut manja berpegang tangan kanan Ayub. Altamira berjalan di depannya. Alphon sudah mendahului mereka berjalan dengan tergesa karena ingin ke belakang, panggilan alam katanya.  Sasya, Ayub, dan Altamira menghampiri Helena.


Bersambung...

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung
Memutar semua kenangan tentang pernikahanku dengan Mei, menghadirkan warna tersendiri dalam hatiku. Meskipun dalam catatan buku birunya, Mei banyak menuliskan kesedihan dibandingkan kebahagiaannya. Rentang waktu yang boleh dibilang bukan pernikahan seumur jagung, aku ingin bukan hanya dalam lima tahun ke depan atau sepuluh tahun ke depan, tetapi selamanya. Membenahi lubang-lubang dalam kapal rumah tangga kami dengan menutupnya. Tidak membuat lagi lubang lainnya dalam kapal, agar kapal ini tidak tenggelam.

Mei banyak melukiskan perasaannya, terluka dalam pernikahannya denganku, namun bertekad tetap memberikan yang terbaik sebagai istri. Aku yakin, seiring waktu Mei akan mencintaiku. Ah, tanpa cinta pun Mei sudah mampu menunjukkan baktinya kepadaku dengan baik. Tak perlulah cintanya. Aku tersenyum menanggapi perbincangan kecil dalam hatiku.

Satu lembar dalam catatan Mei membuatku melambung terbang tinggi.

Sesakit apapun yang pernah tergores, mungkin akan tetap membekas. Tapi yakin akan bisa memudar. Akan berusaha menjadi akar. Tak nampak dari luar keberadaannya, akan tetapi selalu memberikan kekuatan untuk batang agar tetap berdiri kokoh, menjadi sandaran, dan tetap kokoh hingga tak diperlukan lagi.

"Assalamu'alaikum," terdengar suara salam dari pintu depan. Sepertinya itu adalah suara tiga bidadariku. Mei istriku, Bintang sulung kami, dan Bulan adiknya Bintang. Segera kututup buku biru Mei dan kumasukkan lagi ke dalam laci berkumpul dengan benda simpanan Mei.

"Wa'alaikumussalaam..." jawabku beranjak dari kursi kerja Mei membukakan pintu. Bertiga bidadariku tersenyum mencium tangan kananku. 

Usai mencium tanganku, Mei menuju dapur. Meletakkan beberapa barang ke dalam lemari kecil. Aku mengekor di belakangnya. Dua bidadariku yang lain sudah asyik ada dalam kamarnya. Kupandangi wajah Mei yang terlihat dari samping. Masih tirus namun tetap terlihat ayu. Janji yang sudah kupatri kuat untuk tidak melukainya, kini bertambah kuat setelah membaca buku birunya. Aku memang bukan suami yang diharapkan Mei di awal pernikahan, tapi aku akan memintanya kuat bertahan ketika badai menghantam perahu kami.

"Ada yang ingin Ayah bicarakan dengan Ibu?" tanya Mei risih aku perhatikan sedari tadi.

"Bu, jika nanti seiring perjalanan pernikahan kita, ada masalah besar yang menghadang, berjanjilah kepadaku, agar Ibu tetap bersamaku. Apapun yang terjadi."

Mei menatapku dan tersenyum menganggukan kepalanya. Kupeluk Mei sambil kubisikkan permintaan maafku.


"Maafkan Ayah, ya, Bu."
"Iya, Yah. Maafkan Ibu juga, belum bisa menjadi istri yang sempurna buat ayah."


Tamat

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung
Mei kembali pada aktifitas kesehariannya. Tak ada yang berubah dari Mei setelah peristiwa permintaan tak masuk akalnya sebab pertanyaanku. Janji yang sudah kuucapkan untuk tidak bertanya lagi hal yang menyakitkan bagi Mei, aku lakukan. Mei ku sudah tersenyum kembali, menjadi bidadariku dan malaikat bagi Bintang. Bintang mampu menjadi penerang di rumah kontrakan kami, tak hanya malam hari, tetapi setiap waktu yang kami lalui. Bintang begitu dekat dengan Mei, ibunya. Denganku Bintang tak pernah bermanja. Meminta apapun juga ke ibunya, bukan kepadaku.

Awal-awal aku merasa tersingkir. Penghasilan Mei yang lebih besar dariku sering membuatku sedikit perasa. Meskipun Mei tak pernah merendahkanku. Ia tetap menghormatiku sebagai suami. Terkadang muncul rasa bangga, aku tak perlu pusing seperti suami-suami yang lain. Bingung memikirkan mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Aku nyaris tak pernah tahu. Aku terlena dan merasa enak. Ditambah Mei tak pernah meminta gajiku jika aku tak pernah memberinya. Semua dicukupi oleh Mei. Perlahan dan pasti gengsiku sebagai kepala rumah tangga tersingkir dengan sikap lembut Mei yang tak pernah mempersoalkan. Pernah kutanyakan hal itu kepadanya.

"Gaji Ibu makin besar, tidak malu punya suami seperti Ayah? Buruh pabrik dengan gaji jauh dari UMR. Mudah-mudahan Ibu selalu menghormati Ayah."

Kulihat Mei tersenyum dengan ucapanku. Diciumnya punggung tangan kananku sebelum berucap.

"Ayah adalah suami Ibu. Penghasilan Ibu ya uang kita. Mungkin saat ini beban keluarga ada di pundak Ibu, Allah memberikan lewat Ibu. Tapi kita tak tahu beberapa tahun ke depan. Bisa jadi Ayah yang akan mendapatkan kesempatan memiliki penghasilan lebih besar."

Adeeem rasanya mendengar penjelasan Mei. Spontan kupeluk tubuhnya. Bintang yang melihat kami berpelukan, berlari ikut masuk dalam pelukan sambil tertawa lucu.

"Ayah dan Ibu seperti Teletubbies."

Kami menimpali perkataan Bintang dengan pelukan berpindah kepadanya. Saat itu aku merasakan dunia hanya milik kami bertiga. Bahagia tak tergambarkan, semoga seperti ini selamanya.

Bersambung...

#OneDayOnePost
#TantanganMenulisCerbung
Newer Posts Older Posts Home

Mama Daring

Mama Daring

Seru-seruan

1minggu1cerita

About Author

PENULIS & BLOGGER

Hallo, Saya adalah muslimah penyuka kucing, senang traveling meski belum berkunjung ke banyak tempat, senang kuliner walau hanya makanan tertentu, membaca berbagai jenis buku, menulis cerita anak, dan berpetualang ke negeri dongeng untuk menciptakan berbagai keajaiban dalam ke dunia anak-anak yang sedang saya tekuni. Hubungi saya via email : lestarilisa8@gmail.com

Follow us

Featured Post

Popular Posts

  • Review Scarlett Brightening Series (Facial Wash, Esssence Toner, dan Serum)
    Review Scarlett: Brightening Facial Wash, Brightly Essence Toner, dan Brightly Ever After Serum  Ngaku, nih? Siapa yang suka banget coba-cob...
  • Mampirlah ke Dunia Lisa, Blog dengan Wajah Baru
    Eh, siapa sih yang nggak ingin tampilan blognya menjadi cantik dan enak dilihat? Semuanya pasti akan menjawab mau dong! Nggak ada yang pe...
  • Lebih Asyik ke Candi Borobudur Atau Candi Prambanan Untuk Menghabiskan Libur Akhir Tahun?
    ruangbelajarbahasainggris.com Libur tlah tiba Libur tlah tiba Hore ... hore ... hore! Apa sih hal yang membahagiakan bagi ...
  • Seperti Inilah Karakter Shio Babi Berdasarkan Elemennya
    Karakter shio babi dengan shio lainnya tentu saja berbeda. Karena beberapa shio dianggap memiliki pengertian berbeda. Apakah Anda sud...
  • Aturan Sosial yang Perlu Dikenalkan pada Si Kecil saat Bermain ke Rumah Temannya.
    Pernah nggak kamu ngalami kayak gini? Si kecil usianya sudah lima tahun, t ak jarang, anak suka membawa teman-temannya ke rumah untuk be...

Buku Terbit

Dunia Lisa

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  March 2025 (1)
      • Tradisi Membangunkan Sahur: Antara Romantisme Rama...
  • ►  2024 (1)
    • ►  September 2024 (1)
  • ►  2023 (4)
    • ►  July 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  March 2023 (1)
    • ►  February 2023 (1)
  • ►  2022 (14)
    • ►  September 2022 (2)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  July 2022 (1)
    • ►  June 2022 (1)
    • ►  May 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  March 2022 (2)
    • ►  February 2022 (2)
  • ►  2021 (32)
    • ►  December 2021 (5)
    • ►  November 2021 (2)
    • ►  October 2021 (5)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  May 2021 (2)
    • ►  April 2021 (3)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (39)
    • ►  December 2020 (4)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  September 2020 (3)
    • ►  August 2020 (3)
    • ►  July 2020 (5)
    • ►  June 2020 (6)
    • ►  May 2020 (4)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  March 2020 (5)
    • ►  February 2020 (3)
    • ►  January 2020 (2)
  • ►  2019 (78)
    • ►  December 2019 (2)
    • ►  November 2019 (3)
    • ►  October 2019 (4)
    • ►  September 2019 (3)
    • ►  August 2019 (6)
    • ►  July 2019 (8)
    • ►  June 2019 (7)
    • ►  May 2019 (18)
    • ►  April 2019 (6)
    • ►  February 2019 (9)
    • ►  January 2019 (12)
  • ►  2018 (49)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  October 2018 (8)
    • ►  September 2018 (10)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  April 2018 (3)
    • ►  March 2018 (6)
    • ►  February 2018 (3)
    • ►  January 2018 (10)
  • ►  2017 (116)
    • ►  December 2017 (4)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (21)
    • ►  September 2017 (8)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  July 2017 (4)
    • ►  June 2017 (7)
    • ►  May 2017 (6)
    • ►  April 2017 (11)
    • ►  March 2017 (28)
    • ►  February 2017 (11)
    • ►  January 2017 (12)
  • ►  2016 (198)
    • ►  December 2016 (12)
    • ►  November 2016 (24)
    • ►  October 2016 (31)
    • ►  September 2016 (29)
    • ►  August 2016 (6)
    • ►  July 2016 (5)
    • ►  June 2016 (18)
    • ►  May 2016 (22)
    • ►  April 2016 (21)
    • ►  March 2016 (26)
    • ►  February 2016 (4)

Total Pageviews

Komunitas

Dunia Lisa

Categories

  • Blog Competition 10
  • Cermin 6
  • Cerpen 128
  • Curhat 29
  • Flash Fiction 2
  • Lebih Dekat 2
  • ODOP Estrilook 7
  • Parenting 30
  • Puisi 29
  • SETIP Estrilook 3
  • Satu Hari Satu Karya IIDN 5
  • Serba-serbi Cerita Anak 13
  • Tantangan 3

Followers

About Me

My photo
Lisa Lestari
View my complete profile

Instagram

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram

Copyright © 2017-2019 Dunia Lisa. Created by OddThemes