Dunia Lisa
  • Home
  • Category
    • Mom's Corner
    • Curhat
    • Review
    • Literasi
      • Resensi Buku
      • Artikel
      • Cerita Anak
      • Reportase
      • Puisi
  • Lifestyle
    • Parenting
    • Traveling
    • Kuliner
  • Event
    • SETIP
    • ODOP Estrilook
    • ODOP Blogger Muslimah
    • Tantangan
  • About Me
  • Contact

Hasil gambar untuk gambar kucing putih dan kucing abu
image:google

Dia berjalan perlahan. Kalung yang membelit lehernya nampak mulai kekecilan. Bandul yang menggantung di lehernya memantulkan cahaya karena terkena sinar matahari. Aku seperti tidak asing melihatnya. Tubuhnya tidak berbeda denganku. Hampir sama malah. Hanya warna kami yang berbeda. 

Ingin rasanya segera berlari menghampiri. Tapi aku takut salah. Jangan-jangan aku hanya terbawa ilusi.

Kembali mataku beralih ke burung-burung kecil yang ikut bergoyang di atas rumput. Senangnya melihat mereka asyik berayun di batang yang tak berkayu itu. Tak pernah aku berniat untuk menerkamnya. Hanya sesekali iseng ingin mengajaknya bermain. Dan tentu saja untuk mengasah kecepatan berlariku.

Keasyikanku kembali terusik dengan bayangan yang kulihat dari kejauhan. Kalungnya mirip denganku. Hitam dengan bandul yang akan nyaring berbunyi jika berlari. Oh ya, ada inisial lambang namaku di kalung. D adalah inisial namaku. Apakah kalungnya berinisial L?

Secepat angin kugerakkan kakiku menuju sosok yang membuatku penasaran. Kuhentikan langkahnya. Dia menggeram, menatapku tajam. Sikap waspada karena dia mencium aroma tubuhku. Aku mencoba menyeringai. Dia mengibaskan ekornya ketika didapatnya aku tidak gentar dengan geramannya.

“Siapa kamu? Apa maumu?” cepat dia bertanya. Aku tak langsung menjawabnya. Mataku mencari inisial dari kalungnya. Siapa tahu benar dugaanku. Tapi apa yang kucari tak ada. Kalung itu hanya sama warna denganku. Bandul yang berbunyi gemerincing yang kutemukan. Membuat semangatku langsung turun.

“Aku hanya ingin memastikan tentangmu.” jawabku pelan.

“Oh...kalau begitu minggir! Aku ingin lewat!” sahutnya cepat melangkah meninggalkanku.

Dia berjalan melewatiku. Ekor panjangnya berkibas. Ekor itu benar sekali mirip dengan yang aku cari. Kembali aku menghadang langkahnya.

“Apa sebenarnya yang kamu inginkan?” nampaknya dia mulai geram dengan sikapku.

“Kamu Luring bukan?” tanyaku di sela-sela penasaran.

Sejenak dia terdiam. Mengamatiku dari ujung ke ujung tanpa berkedip. Semoga dia mengingatku. Lama dia melakukannya. Kemudian perlahan dia berjalan mengitari tubuhku. Mencium bauku. Aku hanya mendengus. Sedikit kesal karena dia tak mengenalku. Sedangkan aku hanya butuh sedikit waktu untuk yakin bahwa dia Luring.

“Kamu siapa? Bisa tahu nama kecilku.” dia mulai menjawab dengan santai.

“Oh.... Luring. Aku Daring. Lupakah?” teriakku histeris. Benar dugaanku. Dia Luring adikku.

Kami dua bersaudara yang dibuang terpisah dengan induk kami. Beruntung aku dan Luring dibawa pulang ke rumah dan dirawat oleh seseorang . Hanya tiga minggu kami bersama. Dan tiba-tiba Luring tidak ada bersama kami. Aku dan yang merawat kami mencari berhari-hari. Sudah tiga bulan sejak hilangnya Luring tak sengaja aku berpapasan hari ini.

Luring mengamatiku. Pandangan matanya mulai melunak. Menatap lembut kepadaku.

“Kamu Daring?” bertanya untuk memastikan. Kemudian Luring berlari memelukku. Ada rasa haru menyeruak. Tiga bulan tidak bertemu dengannya membuatku sungguh rindu. Apalagi kulihat sekarang tubuhnya sangat gagah. Dengan rambut sedikit hitam keabu-abuan berpadu warna putih di beberapa bagian tubuhnya semakin menambah keelokan dirinya. Ekor panjangnya berwarna putih. Berbeda denganku. Seluruh tubuhku hanya polos berwarna putih. Berekor pendek pula.

“Kamu ke mana saja, Luring? Aku mencarimu.” kataku melepas pelukan.

“Aku dibawa pergi oleh anak laki-laki kecil. Dia mengambilku saat kamu tertidur dengan pulas waktu itu. Aku sudah menjerit minta tolong padamu. Tapi kamu tak mendengarku. Untungnya aku dirawat dan dibesarkan dengan baik. Hanya saja namaku bukan Luring.”

“Lalu siapa namamu sekarang?”

“Namaku sekarang Leo. Tapi inisial L terlepas saat aku bermain.” jelas Luring.

“Aku tinggal tak jauh dari sini, Daring. Apakah kamu masih tinggal di sini?”

Aku mengangguk. “Di mana tinggalmu?”

“Di ujung jalan depan. Rumah bercat coklat. Hari ini aku tiba-tiba ingin bermain ke sini. Eh, malah bertemu denganmu.” kata Luring sambil tertawa.

“Kamu senang bersama anak itu?” tanyaku pelan. Takut membuatnya tersinggung.

Luring menjawab pertanyaanku dengan mengangguk mantab. Aku bernapas lega. Tak apalah aku jauh dengan Luring, asalkan dia dirawat. Eh, sekarang namanya Leo. Pantas saja ketika aku panggil Luring dia hanya terdiam.

“Kapan-kapan mainlah ke tempatku,” ajak Leo. “Aku harus bergegas pulang. Nanti aku dicari.” Berkata begitu Leo berjalan meninggalkanku. Aku hanya bengong melihat kepergiannya. Ingin mengejarnya. Namun aku tak punya kekuatan. Mungkin Leo sudah melupakanku. Tak menganggapku lagi saudaranya. Aku bergegas berbalik. Berjalan menuju tempat ternyamanku. Ada sedih dalam langkah gontaiku.

Mendadak aku dikejutkan oleh pelukan dari belakang. “Daring, aku akan datang lagi esok hari. Jangan bersedih. Aku sungguh merindukanmu juga.”

Daring balas memeluk tubuh yang tak lain adalah Leo. Kami berpelukan erat. Rumah memang memisahkan kami, tapi tidak menghapus ikatan saudara kandung.

#OneDayOnePost

#Tantangan500Kata 

Hasil gambar untuk gambar pohon meranti di hutan
image:google

“Kamu mendengar apa yang tadi dibicarakan di pinggir hutan?” kata seekor burung yang hinggap di tubuhku. Aku masih menunggu percakapan selanjutnya.

Sebelum menjawab, kudenngar cicitnya. “Ya, sebentar lagi hutan ini akan ditebang. Bagaimana dengan nasib kita?” kudengar suaranya mulai sedih.

“Apa yang baru saja kalian dengarkan? Ceritakanlah kepadaku.” Kata seekor semut merah keluar dari lubang.

Dua ekor burung yang kebetulan hinggap menoleh. Sedikit terkejut. Dipikirnya percakapannya dengan temannya tidak ada yanng mendengar. Mereka sepertinya hanya singgah sebentar.

“Maafkan kami. Mungkin kami salah mendengar.” Sahut salah satu burung yang berbulu kuning.

“Yang kami dengar bahwa hutan ini akan ditebang pohonnya. Seperti tempat tinggal kami yang kini hanya berupa tanah tandus tanpa pohon.” Lanjutnya.

“Maksudmu, semua pohon di hutan ini akan ditebang?” kembali semut mengulang pertanyaannya.

Kedua burung mengangguk. Aku yanng mendengar menjadi sedih. Bercampur dengan marah. Sudah banyak yang menjadi korban jika akku dan teman-temankku selalu berakhir tragis di gergaji mesin. Mereka akan mengiris tubuh kami dengan sadis. Tanpa ampun memotongnya menjadi pendek. Bergidik aku membayangkannya.

“Lalu kapan mereka akan mulai menebang?” tanya semut.

“Tadi aku mendengar besok pagi hutan ini akan dibabat habis.”

“Pohon besar, apa yang bisa aku lakukan kalau memang benar orang di luar hutan akan menebangmu juga?” pertanyaan semut dengan wajah cemas dan ketakutan. 

Aku hanya termenung. Semut sudah berpindah berkali-kali. Dari satu hutan ke hutan lainnya. Rumahnya selalu menjadi korban orang-orang yang menebang pohon tanpa peduli dengan hewan yang menetap di tempatku.

Kuambil napas sebanyak yang aku bisa. “Pergilah dengan segera, sebelum tubuhkku ambruk. Agar keluargamu bisa selamat dan mendapatkan tempat lebih cepat.”

Semut mengangguk. Mengumpulkan semua keluarganya. Menyiapkan apa saja yang bisa dibawa. Kesibukan mulai terlihat. Aku hanya mengamati saja. Tak terkecuali laba-laba yang menempati dahanku paling rendah. Tanpa banyak bertanya, dia bergegas mencari tempat baru.


Dengan sedih kupandangi satu persatu sahabat yang biasanya selalu ada bersamaku. Berbincang setiap hari. Sebentar lagi tubuhku juga akan tergolek oleh gergaji. Dahan-dahanku akan terpotong oleh kapak-kapak pekerja yang tak kenal ampun. Bagaimana aku dan temanku lainnya akan menjaga hutan dari longsor jika manusia masih senang menebang kami?

#OneDayOnePost

image:google

Ruangan kelas berukuran 8 x 8 meter ini sudah tidak menunjukkan geliat apapun. Semua yang sibuk dari pagi hingga siang sudah keluar. Pintu juga sudah tertutup. Menyisakan jendela yang tidak tertutup untuk membiarkan angin dari luar menggantikan udara yang ada dalam kelas.

“Hoam...rasanya badanku pegal sekali. Digeser ke kanan, ke kiri, kadang ke depan ke belakang.” kata sebuah suara memecah kesunyian. Ternyata itu adalah suara meja. Kursi yang ada di dekatnya ikut tersenyum.

“Benar sekali, Meja. Tubuhku sakit semua. Kamu tahulah, siapa yang duduk di badanku? Anak yang paling gendut.. nggak mau diam pula. Tubuhku selalu diayun dan bergoyang. Ingin sekali aku menjatuhkannya agar kapok menggoyangkan tubuhkku.” Panjang lebar Kursi mengatakan keluhannya.

“Ha...ha...ha...” terdengar tawa keras dari arah dinding. Pandangan berpindah ke depan. Mencari tahu siapa yang tertawa keras. Rupanya suara dari papan tulis berwarna putih yang menggantung di tembok.

Seketika papan tulis menghentikan tawanya. Merasa semua mata menatapnya dengan heran. “Ups...maaf, tertawaku membangunkan ya?”

Penghapus yang berada paling dekat dengannya mengangguk mengiyakan. “Apa yang membuatmu tertawa?” tanyanya.

Kembali papan tulis mengeluarkan suara khasnya. “Tentu saja aku mentertawakan kalian. Memangnya hanya meja dan kursi saja yang merasa badannya sakit semua?”

Semua yang ada di dalam kelas saling berpandangan. “Kamu juga merasa sakit?” penasaran penghapus mewakili penasaran lainnya.

“Iya.” Mantab papan tulis menjawab.

“Apa yang kamu rasakan?” kembali penghapus yang bertanya.

“Apa pernah kalian membayangkan digantung sepanjang hari, lalu dicoret-coret tubuh kalian? Pastinya sakit semua.”

Meja, kursi, penghapus akhirnya mengangguk. Mencoba memahami yang dirasakan oleh papan tulis.

“Kita di sini semuanya pasti capek, badan pegal semua. Tak ada yang enak sendiri. Karena kita harus memberikan manfaat untuk anak-anak yang belajar di kelas ini. Jadi jangan pernah mengeluh dan merasa paling capek sendiri.”  Nasehat sebuah suara yang tak lain adalah lemari yang penuh berisi buku-buku pelajaran.

“Benar, kita tidak boleh merasa paling capek. Semuanya pasti capek karena melakukan tugasnya masing-masing.” Lanjut lemari.

Semuanya terdiam setelah mendengar penjelasan lemari. Dalam hati membenarkan. Semuanya pasti lelah dan capek. Tapi ini adalah sebuah kewajiban untuk memberikan manfaat bagi anak-anak. Jadi, tak ada gunanya mengeluh bukan?


#OneDayOnePost
Hasil gambar untuk pohon akasia dan ilalang
image;google

Angin kali ini hanya berhembus perlahan. Menyapa lembut setiap makhluk yang bersenandung atas pagi yang cerah. Begitu pula dengan Ilalang. Tak lepas dia bersiul riang dengan kehadiran matahari dan buaian angin. Ilalang berdiri sepanjang tanah yang tidak begitu luas. Dalam kebun yang tidak terawat milik Pak Jangkung. Kebun ini hanya penuh berisi ilalang dan satu pohon Akasia yang menjulang tinggi di tengah ilalang.

“Hoaam...” Akasia meliukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Melemaskan ototnya setelah malam berganti dengan indahnya pagi.

Ilalang mendongak ke atas. Tersenyum mendapati Akasia sudah bangun. “Nyenyak sekali tidurmu.”

Akasia tertawa. “Angin begitu memanjakanku dari semalam. Hanya bergerak lembut. Tidak kencang seperti malam-malam sebelumnya.” sahut Akasia.

Ilalalang menganggukkan kepalanya. Membenarkan perkataan akasia. Biasanya angin akan menghembuskan kekuatannya dengan besar. Sehingga Ilalang akan kewalahan menghadapinya. Tubuh kecilnya akan bergerak mengikuti angin. Ingin rasanya berpegangan pada Pohon Akasia. Tetapi dia ingat bagaimana Akasia tak mau dibuat pegangan.

“Sana pergi! Jangan berpegang pada tubuhku. Makanya punya badan yang besar. Jangan hanya tubuh kecil dan selalu bergoyang jika angin datang.” Itu ucapan Akasia ketika angin mencoba bertiup sedikit lebih kencang. Dan Ilalang akan tetap mengingatnya. Tidak akan membuat Akasia terbeban lagi.

“Hai, Ilalang, tahukah kamu bahwa nanti malam akan ada badai besar?”

Ilalang menggeleng. “Kamu tahu dari mana?”

“Semalam Angin mengatakan kepadaku. Jadi, bersiaplah.”

“Bersiap apa?” tanya Ilalang tak mengerti.

Akasia tertawa mendapat pertanyaan dari Ilalang. “Lihatlah, Ilalang. Tubuhmu saja tidak memiliki batang yang kokoh. Bagaimana kau akan bertahan dari badai nanti malam?” ledek Akasia dengan sombong.

“O...,” jawab Ilalang. “Aku tak perlu takut, Akasia. Aku juga tak akan berpegang pada tubuhmu. Justru kamulah yang harus berhati-hati dengan badai itu.”

“Apa kau bilang? Tak lihatkah tubuhku sangat kokoh. Tak mungkin angin kuat menggoyangkan badanku.” Semakin sombong Akasia menjawab.

“Kita lihat saja nanti. Siapa yang masih kokoh setelah badai nanti malam.” Putus Ilalang menghentikan perdebatan. Karena jika diteruskan, Akasia tak pernah mau kalah dengan Ilalang. Dia selalu merasa paling kuat.”

Ilalang melanjutkan nyanyiannya. Tertawa senang bersama Ilalang lainnya. Sesekali bercengkerama dengan burung-burung kecil yang lewat. Ataupun dengan para kumbang yang melintas. Ilalang sungguh merasa gembira. Akasia hanya mengamati kegiatan Ilalang. Hanya sesekali ia ikut bercakap. Selebihnya ia hanya berbincang dengan angin.

Malam yang dijanjikan akan ada badai datang begitu mencekam. Langit nampak gelap meyelimuti seluruh kebun. Suara petir bersahutan membelah langit. Hujan turun dengan deras diikuti oleh angin kencang. Ilalang melemaskan tubuhnya. Gemulai tertiup oleh angin yang begitu kasar menyapu. Sempat mendengar suara keras dari Akasia ketika amukan badai mulai menggila. Kemudian terdengar jeritan merintih sakit. Ilalang tidak berani membuka mata. Ada takut yang mencekam. Hingga pagi datang barulah Ilalang berani membuka mata.

Terlihat olehnya tubuh kokoh akasia roboh. Sebagian batangnya tumbang. Pasti oleh badai semalam. Ilalang dengan sedih menatap tubuh akasia. “Maafkan aku, Akasia. Semalam tidak berani membuka mata. Tidak menyangka tubuhmu akan tumbang oleh badai.”

Akasia merintih menahan sakit. “Ternyata aku salah. Aku pikir tubuhku yang akan kuat menahan badai. Ternyata tubuh kokohku tak cukup kuat. Justru tubuhmu yang tak memiliki batang kuat mampu bertahan.” kata akasia.

Ilalang menanggapi dengan senyum. “Semua makhluk di bumi sudah diciptakan sedemikian sempurna. Jadi, tidak ada yang lebih kuat ya.”


Akasia membalas senyum Ilalang. “Maafkan aku ya, Ilalang.” Ilalang mengangguk.

Indahnya persahabatan jika tidak dicampur dengan sikap merasa paling hebat.


#OneDayOnePost
#MingguTemanSedunia


Hasil gambar untuk gambar ruang hampa
image:google

Genta


Napasnya tersengal seperti orang yang habis berlari maraton. Terbangun tengah malam dengan mimpi aneh. Alika, gadis yang pernah ia cintai memberinya sepucuk surat. Dan ia membaca hingga selesai. Alika yang memintanya untuk membacanya sesaat setelah ia pergi meninggalkan Genta. Dalam mimpinya, wajah Alika pucat pasi, berbalut gaun warna putih. Tersenyum dengan manis. Masih sama seperti senyum yang ia lihat pertama kali mengenalnya.

“Alika...” lirih Genta menyebut namanya. Keputusannya untuk mengakhiri hubungan bukan tanpa alasan. Ia merasa Alika yang sekarang menjadi lebih cerewet. Lebih sering ngambek, meskipun ngambeknya tak pernah lama. Hanya bertahan beberapa jam. Lalu menguap berganti dengan cerita-cerita ramainya. Genta tak suka dengan gaya Alika yang mulai berubah. Ia tak ingin disidang ataupun dihakimi. Ya, ini memang terkesan egois. Meminta Alika yang selalu memahaminya. Jujur ia juga sangat merindukan Alika. Perasaannya tak pernah berubah hingga detik ini, ketika mimpinya tentang Alika.

Jantungnya masih berdegup kencang. Bergegas diambilnya segelas air bening. Ditenggaknya tak bersisa. Mengambil handphone yang tergeletak di atas meja. Memencet tombol power. Berharap ada chat dari Alika, gadis yang tak pernah menyerah merayu ketika dia marah. Kosong. Hanya ada panggilan tak terjawab berkali-kali dari Tyas.

Genta ingin menelfonnya, tapi diurungkan manakala melihat jam yang sudah bergeser mendekati waktu pagi. Pukul tiga. Mendadak pikirannya teringat Alika. Ada rasa aneh yang tiba-tiba hadir. Resah, gelisah, dan semacam ketakutan. Ada apa dengan Alika? Chatnya terakhir menunjukkan waktu siang. Berarti dia belum online sejak siang. Tumben...

Tangan Genta hendak meraih handphone untuk mengetik chat menanyakan kepada Tyas kabar terakhir Alika. Belum selesai jarinya mengetik, Tyas menelfon.

“Genta...” tanpa mengucap salam Tyas langsung menyebut namanya. “Segera ke sini. Alika kecelakaan tadi siang dan koma.” suara Tyas mengejutkan Genta.

“A...a..apa, Tyas?”

“Sudah jangan bengong! Buruan naik bis terpagi yang berangkat. Sebelum kamu menyesal!”

Tanpa dikomando dua kali Genta bergerak secepat kilat menuju kamar dan berganti pakaian. Menyambar beberapa potong pakaian, memasukkan dengan tangan gemetar ke tasnya. “Ya Tuhan, selamatkan Alika,” tanpa sadar matanya panas. Ia ingat dengan mimpinya, dengan isi surat yang ia baca. Permintaan maaf Alika dan segala alasan ia begitu bawel.

“Alika, bertahanlah. Kamu harus kuat.”


Bukan menuju rumah sakit yang dibilang oleh Tyas. Genta diminta untuk segera meluncur ke pemakaman begitu ia mengabarkan sudah tiba di Baranangsiang. Bandung Bogor yang hanya ia tempuh sekitar empat jam tak mampu membuat Alika bertahan. Tuhan berkehendak lain. Alika menghadap Tuhan dengan senyum termanis yang ia berikan. Senyum yang sama di malam ketika Genta bermimpi.

Genta mengusap air matanya. Masih bersimpuh di samping gundukan tanah merah yang basah. Genta tak sempat menggenggam jemarinya memberinya kekuatan, bahkan di saat terakhirnya.

Tangan Tyas menepuk lembut pundaknya. “Kecelakaan itu merenggut nyawa Alika. Di tas Alika aku menemukan sepucuk surat. Ada namamu, berarti untukmu. Bacalah, mungkin ada sesuatu yang ingin Alika sampaikan.” Tyas menyodorkan surat untuk Genta. Gemetar tangan Genta menerimanya. Mimpi malam itu kembali mengusiknya. Bentuknya sama.

Dibukanya perlahan amplop putih yang tidak direkatkan. Dibacanya perlahan barisan kalimat yang Alika tuliskan untuknya. Membuat tubuh Genta semakin tegang. Tak sadar Genta terisak. Tyas kembali menepuk lembut pundaknya.

“Surat Alika sudah kubaca tadi malam dalam mimpiku. Ia datang dengan wajah pucat, tersenyum manis kepadaku. Isinya sama persis,” terdengar getaran suara Genta. Tubuhnya terasa lemas tiba-tiba.

“Alika....” Genta menyebut nama Alika. “Aku masih begitu mencintaimu. Maafkan aku.”


Selesai....

#OneDayOnePost








Hasil gambar untuk gambar ruang hampa
image:google

Genta...
Satu kata yang selalu ingin aku ucapkan untukmu. Bahwa bertemu denganmu adalah anugrah yang sangat berharga yang pernah kudapatkan. Melihat senyummu, mendengar suaramu, melihatmu tertawa atas sikap konyolku atau celoteh cerewetku.

Jujur aku sungguh menyesal dengan pertengkaran kecil yang terjadi antara kita. Aku pikir kamu akan memaafkanku seperti biasa. Lalu kita damai dan bercengkerama lagi di sela-sela kesibukanmu. Tapi rupanya aku salah kali ini. Kamu sungguuh serius untuk menyudahi perjalanan kita. Padahal aku begitu mencintaimu. Aku tak pernah berpikir kalau kita akan berakhir setelah empat tahun lebih.

Kamu pernah berjanji, aku adalah impianmu yang akan kamu raih saat waktunya tiba. Dan aku begitu berharap itu terjadi, meskipun aku tahu, banyak hambatan di antara kita. Dari keluargaku dan keluargamu. Namun kita juga telah sepakat untuk saling menguatkan dan bergandeng tangan, agar kita tak lelah berjalan sendirian. Ingatkah kamu, Genta? Sesakit apapun yang terjadi antara kita, jangan pernah menyerah, tetaplah untuk bertahan!

Ternyata janjimu tak mudah kupegang ya? Seperti janjimu di tahun ini. Yang akan menelfonku setiap saat. Oh, tidak! Kamu selalu lupa menelfonku. Akulah yang selalu memulai, dan kamu menjawab maaf atas semua janji yang terlupa.

Genta...aku hanya ingin kamu tahu. Inginku hanya sederhana, aku selalu menjadi prioritasmu. Tempatmu bersandar ketika kamu lelah seharian dengan penatnya pekerjaanmu. Ingat, jarak yang terbentang di antara kita harus dipendekkan dengan komunikasi yang kita lakukan. Hingga kamu bisa penuhi janjimu untuk membawaku ada di sampingmu selalu.

Kita sudah usai. Aku menangis, Genta. Aku masih belum bisa berdamai dengan semua yang kamu katakan. Keinginanku yang sepele rupanya sangat berat untuk kamu wujudkan. Aku bukan lagi prioritasmu seperti tahun-tahun sebelumnya. Kamu selalu menyempatkan untuk menelfonku sekedar hanya mengingatkan jam makanku. Aku sungguh sedih.

Ketika aku ngambek, aku hanya ingin mencuri perhatianmu. Agar terlena dari kesibukanmu sesaat saja. Nyatanya aku tak berhasil di tahun ini. Menahanmu untuk tetap ada bersamaku.

Sekali lagi maafkan aku, membuatmu marah. Suratku ini bukan untuk membuatmu merubah keputusan. Aku sudah pasrah. Mungkin ini surat terakhir yang kamu lihat dariku. Bawel terakhirku. Makasih ya untuk hati yang pernah ada bersamaku.

Bersambung...

#OneDayOnePost


Newer Posts Older Posts Home

Mama Daring

Mama Daring

Seru-seruan

1minggu1cerita

About Author

PENULIS & BLOGGER

Hallo, Saya adalah muslimah penyuka kucing, senang traveling meski belum berkunjung ke banyak tempat, senang kuliner walau hanya makanan tertentu, membaca berbagai jenis buku, menulis cerita anak, dan berpetualang ke negeri dongeng untuk menciptakan berbagai keajaiban dalam ke dunia anak-anak yang sedang saya tekuni. Hubungi saya via email : lestarilisa8@gmail.com

Follow us

Featured Post

Popular Posts

  • Review Scarlett Brightening Series (Facial Wash, Esssence Toner, dan Serum)
    Review Scarlett: Brightening Facial Wash, Brightly Essence Toner, dan Brightly Ever After Serum  Ngaku, nih? Siapa yang suka banget coba-cob...
  • Mampirlah ke Dunia Lisa, Blog dengan Wajah Baru
    Eh, siapa sih yang nggak ingin tampilan blognya menjadi cantik dan enak dilihat? Semuanya pasti akan menjawab mau dong! Nggak ada yang pe...
  • Lebih Asyik ke Candi Borobudur Atau Candi Prambanan Untuk Menghabiskan Libur Akhir Tahun?
    ruangbelajarbahasainggris.com Libur tlah tiba Libur tlah tiba Hore ... hore ... hore! Apa sih hal yang membahagiakan bagi ...
  • Seperti Inilah Karakter Shio Babi Berdasarkan Elemennya
    Karakter shio babi dengan shio lainnya tentu saja berbeda. Karena beberapa shio dianggap memiliki pengertian berbeda. Apakah Anda sud...
  • Aturan Sosial yang Perlu Dikenalkan pada Si Kecil saat Bermain ke Rumah Temannya.
    Pernah nggak kamu ngalami kayak gini? Si kecil usianya sudah lima tahun, t ak jarang, anak suka membawa teman-temannya ke rumah untuk be...

Buku Terbit

Dunia Lisa

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  March 2025 (1)
      • Tradisi Membangunkan Sahur: Antara Romantisme Rama...
  • ►  2024 (1)
    • ►  September 2024 (1)
  • ►  2023 (4)
    • ►  July 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  March 2023 (1)
    • ►  February 2023 (1)
  • ►  2022 (14)
    • ►  September 2022 (2)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  July 2022 (1)
    • ►  June 2022 (1)
    • ►  May 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  March 2022 (2)
    • ►  February 2022 (2)
  • ►  2021 (32)
    • ►  December 2021 (5)
    • ►  November 2021 (2)
    • ►  October 2021 (5)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  May 2021 (2)
    • ►  April 2021 (3)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (39)
    • ►  December 2020 (4)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  September 2020 (3)
    • ►  August 2020 (3)
    • ►  July 2020 (5)
    • ►  June 2020 (6)
    • ►  May 2020 (4)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  March 2020 (5)
    • ►  February 2020 (3)
    • ►  January 2020 (2)
  • ►  2019 (78)
    • ►  December 2019 (2)
    • ►  November 2019 (3)
    • ►  October 2019 (4)
    • ►  September 2019 (3)
    • ►  August 2019 (6)
    • ►  July 2019 (8)
    • ►  June 2019 (7)
    • ►  May 2019 (18)
    • ►  April 2019 (6)
    • ►  February 2019 (9)
    • ►  January 2019 (12)
  • ►  2018 (49)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  October 2018 (8)
    • ►  September 2018 (10)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  April 2018 (3)
    • ►  March 2018 (6)
    • ►  February 2018 (3)
    • ►  January 2018 (10)
  • ►  2017 (116)
    • ►  December 2017 (4)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (21)
    • ►  September 2017 (8)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  July 2017 (4)
    • ►  June 2017 (7)
    • ►  May 2017 (6)
    • ►  April 2017 (11)
    • ►  March 2017 (28)
    • ►  February 2017 (11)
    • ►  January 2017 (12)
  • ►  2016 (198)
    • ►  December 2016 (12)
    • ►  November 2016 (24)
    • ►  October 2016 (31)
    • ►  September 2016 (29)
    • ►  August 2016 (6)
    • ►  July 2016 (5)
    • ►  June 2016 (18)
    • ►  May 2016 (22)
    • ►  April 2016 (21)
    • ►  March 2016 (26)
    • ►  February 2016 (4)

Total Pageviews

Komunitas

Dunia Lisa

Categories

  • Blog Competition 10
  • Cermin 6
  • Cerpen 128
  • Curhat 29
  • Flash Fiction 2
  • Lebih Dekat 2
  • ODOP Estrilook 7
  • Parenting 30
  • Puisi 29
  • SETIP Estrilook 3
  • Satu Hari Satu Karya IIDN 5
  • Serba-serbi Cerita Anak 13
  • Tantangan 3

Followers

About Me

My photo
Lisa Lestari
View my complete profile

Instagram

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram

Copyright © 2017-2019 Dunia Lisa. Created by OddThemes