
Memutuskan untuk menikah berarti merupakan jalan awal menuju kehidupan yang sebenarnya. Pernikahan tentunya bukan untuk satu atau dua tahun kan? Pastinya menginginkan selamanya hingga maut memisahkan.
Nah, dalam berumahtangga, setiap hari tuh kita akan bertemu dengan pasangan yang sudah kita pilih. Dari bangun tidur hingga mata merem lagi, kita hanya ketemu sama dia. Istilahnya die lagi die lagi! Dengan begitu, sudah dapat dipastikan nggak mungkin kan pernikahan kita mulus-mulus aja kayak jalan tol? Drakor aja ceritanya kagak pernah selalu mulus ya? Meski akhirnya emang happy ending. Hehehe ....
Berarti setiap pasangan yang sudah menikah pasti pernah bertengkar atau berselisih. Entah pertengkaran itu masih dalam skala kecil atau sudah mencapai level seperti perang dunia, intinya pertengkaran akan menjadi bumbu dalam pernikahan. Namun, tak jarang kita sering melihat beberapa pasangan memilih jalan pintas perceraian dalam menyelesaikan sebuah pertengkaran yang terjadi dalam pernikahannya. Kalau sudah begini, tentu saja anak akan menjadi korbannya ya.
Di bawah ini beberapa hal yang harus dihindari saat bertengkar dengan pasangan:
 |
| pinterest.com |
Siapa
sih yang suka melihat tingkah laku hewan peliharaan satu ini? Yap, kucing
menjadi binatang peliharaan favorit keluarga. Wajahnya yang gemesin selalu bisa
membuat setiap orang jatuh cinta untuk menjadikannya hewan favorit di rumah.
Begitu
juga dengan saya. Sejak kecil saya sudah dikelilingi oleh kucing-kucing peliharaan
simbah dan orangtua. Kebetulan bapak dan ibu juga suka binatang satu ini. Foto masa
kecil saya dipastikan ada seekor kucing yang pasti ikut berpose dengan saya
atau saudara lainnya. Bahkan si mas kakak sulung juga menyukai binatang
berambut ini. Pokoknya kami dulu masing-masing memiliki satu kucing kesayangan
yang nggak boleh diganggu gugat. Hahaha ....
Bicara
tentang hewan peliharaan satu ini, nggak mungkin dong kalau kita hanya sekadar
memeliharanya tanpa pernah memperhatikan kebutuhannya? (Emang kucing
kebutuhannya apa?) Hihihi ... namanya sudah dipelihara harus bertanggungjawab
terhadap kebutuhannya, ya. Misalkan saja tentang kebutuhan pokoknya yaitu
makanan. Bukan hanya memberikan makanan asal-asalan, asal kenyang berarti
beres. Oh, tidak, Marimar! Jangan sampai seperti itu. Kita juga harus menjaga
kebersihan hewan tersebut, nutrisi dalam makanannya, apakah makanan yang
diberikan sudah cukup menunjang kebutuhan nutrisinya atau belum. Lalu, nutrisi
apa saja yang dibutuhkan oleh kucing?
 |
| pinterest.com |
“Kok El belum dimasukkan TK, Mi?” tanya salah seorang tetangga yang melihat El masih belum masuk TK padahal usianya sudah 4 tahun.
“Nanti saja kalau sudah 5 tahun,” jawab saya.
Dan tetangga pun akhirnya menjelaskan panjang kali lebar tentang usia anak seharusnya masuk TK. Bahkan ke PAUD yang memang ada di dekat rumah pun saya tidak memasukkan El ke sana. Banyak pertimbangan saat itu kenapa saya tidak menyekolahkan El tepat ketika usianya 4 tahun. Tidak seperti duo kakaknya yang sudah sekolah ketika usianya 4 tahun. Tapi yang ini kan beda? Tiga bocil saya tentu saja tidak bisa disamakan.
Apalagi setelah membaca dan mengikuti kelas online dari School of Parenting, keputusan saya saat itu tepat. Kelas online ini diikuti oleh member School of Parenting dan diadakan pada hari Rabu, 26 Februari 2020 pukul 14.00 bersama mitra ahli Anggiastri Hanantyasari Utami, M. Psi., Psikolog
Lalu, usia berapa sih anak bisa dimasukkan ke sekolah? Apakah hanya berpatokan pada usia saja? Atau ada hal lainnya yang dijadikan pertimbangan untuk memasukkan anak ke sekolah? Tentunya setiap orangtua akan menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Memutuskan untuk menjadi ibu yang bekerja di luar, tentu saja membuat waktu saya bersama buah hati menjadi berkurang. Meskipun saya hanya seorang guru SD yang kata orang enak, karena siang hari sudah pulang. Itu salah besar, Marimar! Menjadi guru SD memang pulang lebih awal dibandingkan jika kita bekerja di kantoran. Tapi, jangan salah. Beban pekerjaannya itu terkadang dibawa ke rumah. Lha, kalau mengerjakan di sekolah semua, bisa-bisa melebihi jam lembur para karyawan kantor.
Emang apa pekerjaan guru SD?
Menyiapkan perangkat pembelajaran yang bejibun banget, mengoreksi pekerjaan siswa yang jumlahnya lebih dari 40 siswa, membuat perencanaan untuk mengajar keesokan harinya, dan pekerjaan lainnya seperti menyiapkan media. Ibaratnya kita itu sutradara di dalam kelas yang ingin film dalam kelasnya berjalan dengan sukses tanpa mengulang lagi. Kata suami saya kalau membela istrinya, guru SD itu pekerjaannya 24 jam, salah kalau banyak yang bilang pekerjaannya sedikit.
Nah, dengan berkurangnya waktu 24 jam untuk anak-anak di kelas, hal ini tentu saja mengurangi waktu saya untuk bersama anak-anak di rumah. Tapi tenang, sedikitnya waktu yang saya miliki bersama anak-anak bukan berarti saya nggak bisa membangun bonding dengan anak.
Berikut beberapa cara yang saya lakukan untuk membangun kedekatan bersama anak:
 |
| e-jurnal.com |
|
“Mama, masak jamur yang kayak waktu di embah gunung,” pinta si kakak saat saya akan ke warung sayur.
“Jamur kuping?” tanya saya.
Si kakak mengangguk. “Semoga ada ya di warung. Soalnya jamur kuping jarang ada di warung. Biasanya jamur tiram saja yang ada.”
Si kakak pun mengangguk paham.
Embah gunung adalah sebutan bagi orangtua dari ayahnya. Ayahnya anak-anak memang lahir dan besar di Desa Saptosari Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Setiap kali kami mudik, anak-anak suka mengeluh, susah buat beli makanan kesukaan mereka, mau jajan jauh, terus masaknya hanya bisa menu itu-itu saja. Berganti menu masakan kalau ada pasar, sedangkan pasar hanya ada pekanan, nggak setiap hari.
Otomatis anak-anak suka protes ketika emaknya hanya memasak bayam, jamur, tahu, tempe, dan kacang panjang yang hanya divariasikan dengan bahan itu-itu saja. Dan sayuran itu juga dipetiknya dari kebun embahnya sendiri atau mengambil dari hutan. Kalau ingin makan pecel lele atau pecel ayam, nasi goreng atau mi goreng harus keluar agak jauh dari rumah embahnya. Itu juga harus melewati jalanan yang gelap dengan kanan kiri pohon jati lebat.
Nah, kembali lagi ke jamur yang sering dipetik oleh embah buat dimasak. Anak-anak yang awalnya nggak suka makan jamur ini, mau nggak mau jadi makan dengan terpaksa. Hahaha ....
Namun, jadi ada hikmahnya, anak-anak mulai sering meminta jamur ketika sudah kembali lagi ke Bogor.