Pernah menghadapi situasi seperti ini?
“Dik, tidur siang yuk!”
“Emang kenapa harus tidur siang?”
“Kan biar sehat, Dik. Biar bobok malamnya nggak rewel,” si Emak masih berusaha menjelaskan alasan tidur siang.
“Aku kan sudah sehat. Nggak usah tidur siang.’
Emak mulai tahan napas nih!
“Kalau tidur siang, tubuh kita akan tetap sehat, Dik. Badan Adik juga nggak akan terasa lelah.”
“Nggak ah, aku sehat kok. Nanti kalau aku sakit, aku minum madu aja biar sehat lagi.”
Duh, Emak mulai garuk-garuk kepala yang sepertinya tidak gatal. Ini bocil baru empat tahun, tapi sudah bisa memberikan alasan beragam.
“Adik kalau nggak tidur siang malamnya pasti rewel. Kakinya nendang-nendang,” Emak masih berusaha, “yuk tidur siang sambil dibacain buku!”
“Adik nggak mau tidur siang!” lari deh tuh bocil main lagi sama temannya.
Itu kejadian nggak hanya sekali dua kali biasanya, bisa berkali-kali. Sebetulnya si anak tidak bermaksud melawan orangtua, tapi si anak hanya ingin mengasah negosiasi dirinya dengan si emak. Namun, terkadang kita sebagai ortu suka gemes-gemes gimana gitu ya, menganggap anak itu seolah melawan ucapan kita. Jika bertemu dengan anak model ini, kudu gimana nih?
Membantah/melawan ucapan orangtua bukanlah perbuatan yang baik, bisa jadi merupakan kebiasaan si anak yang awalnya dibiarkan saja oleh orangtuanya atau karena salah penanganan sehingga menjadi kebiasaan yang buruk. Bahkan ada orangtua yang menganggap sikap melawan ucapan orangtua akan hilang seiring umur si anak, sehingga akan cenderung membiarkan sikap anak yang membantah ucapan orangtua.
Padahal seiring berjalannya waktu, kita tidak bisa menunggu perubahan akan terjadi berdasarkan usia anak tanpa ada usaha pendisiplinan dari orangtuanya. Nggak kan? Jangan mimpi, Marimar!
Mengapa? Karena anak akan menganggap bahwa usahanya melawan ucapan orangtua merupakan acara bagi dia untuk mengungkapkan pendapatnya , sehingga sering dijadikan senjata oleh anak.