Dunia Lisa
  • Home
  • Category
    • Mom's Corner
    • Curhat
    • Review
    • Literasi
      • Resensi Buku
      • Artikel
      • Cerita Anak
      • Reportase
      • Puisi
  • Lifestyle
    • Parenting
    • Traveling
    • Kuliner
  • Event
    • SETIP
    • ODOP Estrilook
    • ODOP Blogger Muslimah
    • Tantangan
  • About Me
  • Contact
Matahari mulai merayap ke ufuk barat. Menyembunyikan sinarnya yang menyilaukan mata. Bayang-bayang terlihat makin gelap, seiring sinarnya yang juga makin hilang. Tinggallah aku dan teman-temanku yang merasa sangat penat sekali. Berkali-kali tubuhku dipaksa untuk melakukan pekerjaan yang melelahkan otot. Rasanya semua tulangku remuk, seperti dihantam sebuah benda yang sangat keras. Ketika sore menjelang malam seperti inilah, saatnya aku menikmati waktu bersantai. Bercengkerama dengan teman-temanku dan penghuni sekitar sini.

“Huf, akhirnya kita istirahat juga ya,” kataku. Di sebelahku Dozer warna biru masih meliukkan tubuhnya.

“Badanku sakit semua, Kuning.” Kata Dozer Biru.

Aku tertawa mendengar keluhannya. “Kau kira tubuhmu saja yang letih? Aku pun demikian. Sakit semua rasanya badanku!”

“Lihat Excavator merah di sana. Apakah dia baik-baik saja?” tunjuk Dozer Biru kepadaku.

“Tadi pagi dia mulai memanjat tebing untuk menggali tanah bagian atas. Dia bekerja lebih berat dari kita hari ini.” Lanjut Dozer Biru. Aku hanya mengangguk.

Sudah dua bulan lebih aku dan kawan-kawanku bekerja di sini. Meratakan dataran yang bertingkat-tingkat. Lokasinya lebih tinggi dari sekitarnya, dengan tanah berwarna merah. Setiap Excavator merah mengeruknya, akan terhalang oleh batuan di dalamnya. Tanah yang sudah digali olehnya dipindahkan ke dalam truk-truk besar. Barisan truk akan membawanya menyeberang jalan di depan kami. Menimbun bagian jalan yang curam seperti tebing.

Ada kengerian dalam diriku. Daerah ini terkenal rawan longsor. Jika hujan turun terus menerus, ketakutanku makin menggila. Tanah yang sudah kuratakan dan sudah digali oleh Excavator Merah, khawatir akan longsor dan menimbun kami. Ketakutan kami beralasan, karena pohon Jenjeng yang dulu menghias wilayah ini sudah habis ditebang terlebih dahulu sebelum aku bekerja.

Pertama kali datang, masih kulihat beberapa pohon Jenjeng yang berdiri kokoh. Bahkan aku masih sempat berbincang dengan mereka.

“ Kenapa kalian ke sini?” tanya Pohon Jenjeng yang paling tua.

Dozer Biru menatapku, memintaku agar aku saja yang menjelaskan. “Aku tidak tahu pasti kenapa aku dan kawan-kawanku didatangkan ke sini. Yang pasti tugas kami adalah meratakan tanah. Dia si Merah yang bertugas untuk menggali tanah ini. Nantinya akan dibangun apa dan untuk apa, bukan urusan kami.”

Pohon Jenjeng tua terlihat manggut-manggut. Ada kesedihan tergambar dari wajahnya. Juga wajah semua pohon Jenjeng yang tersisa.

“Sebelum teman kami ditebang, kami sangat nyaman tinggal di sini. Jalanan menjadi rindang dan adem karena kami. Banyak orang yang hanya sekedar duduk menikmati sore atau ketika siang menyengat, singgah sebentar melepas penatnya selama di jalan. Kami senang menjadi bagian dari tanah yang berbukit-bukit. Karena aku dan kawanku akan melindungi tanah ini dari bahaya longsor.” Panjang lebar Jenjeng tua menceritakan kepadaku.

“Menurut yang aku dengar, daerah ini akan dibangun sebuah masjid besar.” kata salah satu pohon Jenjeng, “tapi kenapa harus meratakan tanah di sini? Mengapa tidak mencari lokasi yang sudah rata sehingga lebih mudah pembangunan masjidnya?”

Kami semua terdiam. Pohon Jenjeng tua tertunduk. Ia merasa sebentar lagi tubuhnya akan mengalami hal yang sama dengan pohon lainnya yang sudah di tebang.

Mengingatnya membuatku sedih. Pohon Jenjeng tua sudah teronggok kaku. Sudah tak ada lagi pohon Jenjeng yang berbaris rapi. Hanya terlihat tanah merah terhampar sepanjang mata memandang, bekas kerukan Excavator dan aku, Dozer. Kenangan indah tentang percakapanku dengan mereka tinggal dalam memoriku. Berharap semuanya cepat selesai, sehingga kecemasan kami tak akan terjadi, karena musim hujan mulai menghampiri.


#OneDayOnePost

“Kakak Bila, Dede kan diajak Wa Ita ke Karanggan hari Minggu kemarin,” kata Hawa menceritakan kegiatannya.

“Sudah tahu, kan De Hawa sudah cerita ke Kakak.” Jawab Bila.

“Emang iya? Belum da,” Hawa masih membantah merasa belum menceritakan.

“Udah Dede, di sana ada yang ulang tahun kan? Dede ngasih kado sabun mandi. Namanya Putri yang ulang tahun.” sambil menjulurkan lidahnya menegaskan bahwa adiknya sudah berulang kali mengatakan.

Terkekeh Hawa mendengar jawaban Kakaknya. “Kakak gitu ih, kenapa nggak mau dengerin ceritaku lagi!”

“Basi tauk, De!”

Saya yang sedang menemani El kecil bermain menjadi tersenyum. Sering saya mendengar Hawa yang menceritakan sesuatu hingga berkali-kali. Yang sudah mendengar sampai hafal jalan ceritanya. Sedangkan yang menceritakan merasa belum bercerita. Untungnya kali ini tidak sampai pecah perang. Biasanya Hawa akan ngeyel bercerita meski Kakaknya bilang stop!

“Kak Bila dan Kak Hawa, sini deh!” panggil saya.

Bergegas mereka mendekat. Mumpung El masih anteng dengan mainannya. Saya ingin membicarakan kejadian barusan, agar tidak terulang.

“Ada apa, Ummi?” serempak mereka bertanya.

“Ummi bertanya ya?” tanpa menunggu jawaban mereka saya lanjutkan, “seandainya Kak Bila lupa pernah bercerita kepada temannya lalu Kakak mengulang cerita yang sama dan teman Kakak mengatakan seperti yang Kakak bilang ke De Hawa, bagaimana perasaan Kakak Bila?”

“Kesel sih, Mi. Kan bisa jadi Kakak lupa sudah pernah cerita atau belum.”

“Lalu inginnya Kakak bagaimana?”

“Ya didengarkan. Jangan disela!”

Saya tersenyum. “Begitu juga perasaan adikmu. Saat dia ingin cerita lagi padahal sudah pernah diceritakan, dia inginnya juga didengarkan. Tak perlu mengatakan cerita tersebut sudah pernah atau basi.”

Kakak Bila terdiam, kemudian mengangguk. “Kalau orang lain, Ummi?”

“Apalagi orang lain. Menghargai orang lain salah satunya ya ini. Bersabar menjadi pendengar dengan cerita yang sama, agar orang lain merasa senang. Suatu saat Ummi juga akan menua, pasti akan lupa. Bisa jadi bercerita hal yang sama kepada kalian setiap harinya. Sabar ya, nanti kalau Ummi menjengkelkan seperti itu.”

“Ummi,  Insya Allah Kakak akan sabar menjadi pendengar,” kata sulungku yang lantas memelukku. Kakak Hawa ikut menghambur memeluk. El kecil hanya bertetiak tatkala melihat dua kakaknya memeluk Umminya.


#OneDayOnePost


“Aduh!” teriakku saat sekantong plastik besar menimpaku. Pasti ada lagi yang secara sengaja menjatuhkan kantong kresek berbau ini ke sini. Padahal tempat ini sudah penuh sesak dengan berbagai barang yang teronggok. Ada tumpukan karung bekas dengan segala isinya yang tak pernah kutahu. Paling banyak mendominasi adalah kantong-kantong plastik beraneka warna. Terikat dan sekali lagi, aku tak pernah tahu apa isi di dalamnya. Semua yang dijatuhkan ke tempatku dalam keadaan terikat.

Aku tak ingat secara pasti kapan orang-orang di sekitarku mulai melakukan hal ini. Dengan seenaknya menjatuhkan benda-benda yang tak kukenal ke tempatku. Bahkan orang yang sengaja hanya melewati jalanku, lebih sering melakukannya. Bukan orang asli sini yang aku kenal, tapi orang asing yang hanya sekedar lalu lalang.

Jembatan ini memang bukan jembatan dengan air yang mengalir. Aku ada di sini, sebuah jembatan yang di bawahnya kokoh dipasang rel kereta api panjang. Menghubungkan ke arah kota menuju Jakarta. Hanya sesekali kereta melewatiku. Lebih sering kereta barang yang mengangkut puluhan sak semen yang akan dikirim.

Aku hanya sebuah tempat yang berada di bawah jembatan, di tepian rel kereta api. Tapi kini aku mulai nampak tak nyaman dalam pandangan setiap orang yang lewat. Ada banyak barang yang dijatuhkan. Banyak lalat mengerubuti tempatku. Kucing-kucing liar sibuk mengais makanan sekedar mengenyangkan perutnya. Bau busuk selalu menyebar ke sekitarku.

Ingin berkata kepada mereka. Aku ingin menjadi bersih seperti dulu. Sebelum ada rel kereta memanjang. Aku dijadikan tempat duduk orang yang berolah raga di pagi hari. Atau anak-anak kecil yang berlarian. Aku lebih senang seperti itu. Bukan seperti sekarang, berbau dan sangat jelek dilihat.

Kepedulian orang di sekitarku tentang kebersihanku mulai tak ada. Hanya beberapa saja yang aku dengar berteriak marah jika ada yang menjatuhkan kantong ke tempatku. Ah, andai semua orang peduli dengan kebersihan. Tentunya aku tidak akan berbau dan penuh lalat seperti sekarang ini. Tulisan di papan “DILARANG BUANG SAMPAH DI SINI” nampaknya tak pernah berlaku bagi orang yang tak sadar akan kebersihan.

#OneDayOnePost


Duduk menatap teras yang basah oleh siraman air dari langit tanpa berkedip. Dan sisanya masih setia menemani bumi bersama nyanyian katak yang mulai riuh terdengar. Mataku tak berkedip menatap setiap tetesan yang jatuh mengenai rumput. Basah. Ada sejuta angan yang melintas saat hujan seperti ini. Membayangkan ingin bersamamu, di bawah air hujan  untuk beberapa saat saja.

Tak sadar senyumku terukir. Membentuk siluet indah tentangmu. Secangkir coklat panas dan hujan menjadi kombinasi yang lengkap untuk menghadirkanmu sore ini.

"Hei, nglamunin apaan?" kagetmu pada sore ini. Masih lengkap dengan pakaian kerjamu, menghampiriku yang masih asyik bercanda dengan siluetmu. Nyatanya kamu sungguh menjelma di hadapanku.

Kupeluk tubuhmu yang masih penat. Kusentuh pipi kananmu dengan tanganku. Kuelai lembut dan kubisikkan satu kata untukmu. "Sini, Yank!" kataku sambil menarik tanganmu untuk keluar dari teras. Melangkah menuju halaman yang penuh rumput. Aku ingin mewujudkan angan liarku sore ini, di bawah sisa air langit. Kau hanya tertawa kecil saat kita sampai di halaman, berbasah ria.

Kulingkarkan tanganku di lehermu. Kakiku sedikit terangkat, mengimbangi tinggi badanmu. Tak mau kalah, tanganmu memeluk pinggangku. Kukecup sekilas bibirmu yang mulai basah. 

"Aku mencintaimu, Yank, dengan segenap hati yang kupunya. Jangan lelah menemaniku di sepanjang usiamu," kusentuh bibirmu dengan aroma cinta yang kumiliki, menularkan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Tanganmu mulai berpindah memegang kedua wajahku. Kurasakan hal yang sama, saat kita mulai menyatu dalam guyuran hujan yang kembali deras.

#OneDayOnePost
#Imajinasisaathujan

Mbak Lisa, pembukaan KMO batch 7 dibuka nih. Hubungi saja no WA nya ya...

Mendapat kabar seperti itu tentu saja saya senang bukan main. Pendaftaran yang saya tunggu, karena pendaftaran sebelumnya saya terlupa dengan sedikit kesibukan. Padahal sudah daftar tapi tidak dikirim form pendaftarannya. Maka pembukaan saat itu membulatkan tekad untuk ikut.

Tantangan pertama dan berikutnya bisa saya taklukkan. Tetapi makin ke sini saya mulai kesulitan. Harapan ikut KMO karena di awal saya tahu, yang jadi tujuan utama adalah menulis non fiksi, kelemahan saya. Bertekad bisa untuk menulis nonfiksi, dan ingin belajar lebih banyak di KMO ini. Apa yang membuat saya kemudian menyerah?

Ketika tugas untuk sebuah ikrar, dalam benak inginnya sebetulnya buku fiksi, bukan non fiksi. Karena belum ada bayangan buku non fiksi apa yang akan saya luncurkan. Tantangan ke dua menuliskan daftar isi, masih non fiksi. Asal saya menggambarkan daftar isi yang saya buat. Hingga lanjut di tantangan ke tiga, membuat design dari buku yang akan kita buat. Bersambung sebenarnya dari tantangan di depan. Tapi berhubung saya belum punya bayangan pasti, alhasil apa yang saya buat tidak bersambung. Dan akhirnya tantangan berikutnya saya kewalahan. Mentok menulis berlembar-lembar halaman untuk isinya. Lha saya kebingungan mau yang mana?

Akhirnya dengan berat hati saya mundur. Tugas berikutnya dengan melengkapi 50 halaman isi buku nonfiksi, saya membuatnya fiksi terus. Meskipun saya tetap mengirimkan tugas, namun tidak sesuai dengan tantangan yang diminta.

Sedih? Jangan ditanya. Sedih luar biasa. Merasa tidak bisa berkomitmen dengan pilihan yang sudah saya ambil. Tapi banyak ilmu yang saya dapatkan dari KMO. Sangat banyak bahkan.

Sebelum saya kalah, sempat saya sampaikan keluhan saya selama berada di KMO. Entahlah, apa hanya perasaan saya saja. Di KMO saya tidak mendapatkan umpan balik dari setiap tugas yang saya kumpulkan. Padahal saya ingin ada respon mengenai tugas saya, agar tugas berikutnya bisa memperbaiki dan menjadi lebih baik. Mengingat saya tidak ahli-ahli banget menulis nonfiksi. Bukan karena gratis lantas tidak ada umpan balik, karena saya melihat adanya grup kecil dari grup besar. Pikir saya akan ada pembinaan khusus dengan dibentuknya grup kecil. Ternyata tidak.

Tidak bermaksud menyalahkan, hanya memberikan masukan waktu itu. Disebabkan itu tadi, niat awal saya agar mahir menulis nonfiksi. (Tetap saya yang salah)

Saya sudah kalah sebelum genderang perang dipukul. Menjadi pelajaran bagi saya. Harus melecut kembali semangat untuk lebih giat lagi melatih diri menulis non fiksi. Mudah-mudahan di batch berikutnya saya bisa mengganti kekalahan kali ini, tentunya sudah siap dengan tantangan non fiksi.


#OneDayOnePost  
Langit mataku tetap runtuh
Kidung rinduku kembali mengalun pilu
Denting sedih merintih hati
Kembali mengiris perih
Kemanakah kidung rindumu
Tak lagi samakah berdendang

Diam ini kembali berteman
Dalam sepi hening menggelitik
Mengukirmu dalam kanvas hatiku
Mewarnaimu dengan kuas cintaku
Terdiam dalam senyap
Menanti kidungmu kembali terdengar
Untukku...

Pelangi Hatiku, 4 Oktober 2016

#OneDayOnePost

Newer Posts Older Posts Home

Mama Daring

Mama Daring

Seru-seruan

1minggu1cerita

About Author

PENULIS & BLOGGER

Hallo, Saya adalah muslimah penyuka kucing, senang traveling meski belum berkunjung ke banyak tempat, senang kuliner walau hanya makanan tertentu, membaca berbagai jenis buku, menulis cerita anak, dan berpetualang ke negeri dongeng untuk menciptakan berbagai keajaiban dalam ke dunia anak-anak yang sedang saya tekuni. Hubungi saya via email : lestarilisa8@gmail.com

Follow us

Featured Post

Popular Posts

  • Review Scarlett Brightening Series (Facial Wash, Esssence Toner, dan Serum)
    Review Scarlett: Brightening Facial Wash, Brightly Essence Toner, dan Brightly Ever After Serum  Ngaku, nih? Siapa yang suka banget coba-cob...
  • Mampirlah ke Dunia Lisa, Blog dengan Wajah Baru
    Eh, siapa sih yang nggak ingin tampilan blognya menjadi cantik dan enak dilihat? Semuanya pasti akan menjawab mau dong! Nggak ada yang pe...
  • Seperti Inilah Karakter Shio Babi Berdasarkan Elemennya
    Karakter shio babi dengan shio lainnya tentu saja berbeda. Karena beberapa shio dianggap memiliki pengertian berbeda. Apakah Anda sud...
  • Lebih Asyik ke Candi Borobudur Atau Candi Prambanan Untuk Menghabiskan Libur Akhir Tahun?
    ruangbelajarbahasainggris.com Libur tlah tiba Libur tlah tiba Hore ... hore ... hore! Apa sih hal yang membahagiakan bagi ...
  • Ramalan Shio Ayam Tahun 2020 Lengkap dari Cinta Hingga Keuangan
    Hanya tinggal menyisakan kurang dari dua bulan saja, kita semua akan menyambut tahun 2020. Tentu berbagai harapan dilontarkan dan pe...

Buku Terbit

Dunia Lisa

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  March 2025 (1)
      • Tradisi Membangunkan Sahur: Antara Romantisme Rama...
  • ►  2024 (1)
    • ►  September 2024 (1)
  • ►  2023 (4)
    • ►  July 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  March 2023 (1)
    • ►  February 2023 (1)
  • ►  2022 (14)
    • ►  September 2022 (2)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  July 2022 (1)
    • ►  June 2022 (1)
    • ►  May 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  March 2022 (2)
    • ►  February 2022 (2)
  • ►  2021 (32)
    • ►  December 2021 (5)
    • ►  November 2021 (2)
    • ►  October 2021 (5)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (1)
    • ►  May 2021 (2)
    • ►  April 2021 (3)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (39)
    • ►  December 2020 (4)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  September 2020 (3)
    • ►  August 2020 (3)
    • ►  July 2020 (5)
    • ►  June 2020 (6)
    • ►  May 2020 (4)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  March 2020 (5)
    • ►  February 2020 (3)
    • ►  January 2020 (2)
  • ►  2019 (78)
    • ►  December 2019 (2)
    • ►  November 2019 (3)
    • ►  October 2019 (4)
    • ►  September 2019 (3)
    • ►  August 2019 (6)
    • ►  July 2019 (8)
    • ►  June 2019 (7)
    • ►  May 2019 (18)
    • ►  April 2019 (6)
    • ►  February 2019 (9)
    • ►  January 2019 (12)
  • ►  2018 (49)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  October 2018 (8)
    • ►  September 2018 (10)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  April 2018 (3)
    • ►  March 2018 (6)
    • ►  February 2018 (3)
    • ►  January 2018 (10)
  • ►  2017 (116)
    • ►  December 2017 (4)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (21)
    • ►  September 2017 (8)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  July 2017 (4)
    • ►  June 2017 (7)
    • ►  May 2017 (6)
    • ►  April 2017 (11)
    • ►  March 2017 (28)
    • ►  February 2017 (11)
    • ►  January 2017 (12)
  • ►  2016 (198)
    • ►  December 2016 (12)
    • ►  November 2016 (24)
    • ►  October 2016 (31)
    • ►  September 2016 (29)
    • ►  August 2016 (6)
    • ►  July 2016 (5)
    • ►  June 2016 (18)
    • ►  May 2016 (22)
    • ►  April 2016 (21)
    • ►  March 2016 (26)
    • ►  February 2016 (4)

Total Pageviews

Komunitas

Dunia Lisa

Categories

  • Blog Competition 10
  • Cermin 6
  • Cerpen 128
  • Curhat 29
  • Flash Fiction 2
  • Lebih Dekat 2
  • ODOP Estrilook 7
  • Parenting 30
  • Puisi 29
  • SETIP Estrilook 3
  • Satu Hari Satu Karya IIDN 5
  • Serba-serbi Cerita Anak 13
  • Tantangan 3

Followers

About Me

My photo
Lisa Lestari
View my complete profile

Instagram

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram

Copyright © 2017-2019 Dunia Lisa. Created by OddThemes