16 Juli 2016

Sajak Rindu dalam Maaf

Aku terisak, tergugu dalam tangisan. Duduk memeluk kedua kakiku, menenggelamkan kepala di antara dua lutut, dan membiarkan tangis ini pecah tanpa kendali. Bahuku terguncang, mengikuti irama hujan dari mataku, dari hatiku juga. Makin perih jika mengingatnya. 

Kenapa nggak diangkat aku telfon via WA?

Tanyamu dalam WA. Dan aku menjawabnya dengan segenap perasaan. Campur aduk hingga tak tahu rasanya.

Sengaja.

Kenapa?

Kalau aku nggak bilang kangen suaramu, apa kamu juga akan menelfonku? Aku nggak mau kalau telfon hanya karena terpaksa.

Ya sudah, ngikut saja.

Itu awal percakapan dari WA sebelum telaga panas ini memuntahkan laharnya. Kenapa begitu sulit menghubungiku setelah sekian lama waktu terlibas tanpa ampun? Apakah itu yang dinamakan rindu? Betah dalam diam tanpa ada keinginan untuk bercakap dalam telefon?

Kuraih layar sentuh android dan menatap kontak WA. Sedang online. Terus ditatapnya tanpa berkedip dari layar. Masih berharap agar dia mengirim pesannya. Ternyata tidak!

Akhirnya kuketik pesan singkat.

Online dari tadi tapi nggak WA aku. Masih marahkah?

Dari pada disalahkan terus, lebih baik aku diam.

Oh, tidak! Dia kembali marah. Dari tulisannya jelas dia marah denganku. 

Blokir saja WA ku agar kamu tak perlu mendiamkanku lagi. 

Tak ada balasan. Tapi terbaca. Kuketik lagi pesanku.

Aku hanya ingin ditelfon, nggak pengen apa-apa. Tapi pengennya ditelfon tuh bukan karena aku yang minta. Ingin lihat sejauh mana kamu kangen aku. Masak sekian waktu kamu nggak kangen aku?

Masih tak berbalas.

Ya sudah, aku saja yang blokir. Biar kamu tak pernah terganggu dengan WA ku. Maaf atas semua salah.

Terkirim dan dibaca. Tanpa menunggu waktu lama, aku blokir kontak WA nya. Sesudahnya, inilah yang terjadi. Menangis hebat sebagai bentuk dari segala rasa di hati. 

WA sudah kublokir, kalau memang sayang pasti akan BBM. Tapi mungkin tidak. Aku sangat hafal setiap hal tentangnya. Marahnya akan terpenjara dalam diam. Dan butuh waktu lama agar marahnya menguap. Dan aku bukan perayu ulung untuk melunakkan hatinya agar tak marah padaku.

#OneDayOnePost

5 komentar:

Raida mengatakan...

Dilema sosial media..

Ciani L mengatakan...

Ahhh.... Rindu selalu menyiksa dua insan yg jarang bertatap, hikss

#baper

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

nangis mbak

Nissa Maisaroh mengatakan...

Harus belakar jadi perayu dulu mba lis :D

Septia Khoirunnisa mengatakan...

mewek bacanya, keren Mba..

Posting Komentar