13 Januari 2017

Angan Liar


Kalau aku bisa menusuknya dengan sebilah pisau yang ujungnya lancip, cukup dua kali tusuk sajalah, tak perlu banyak, pasti ia akan terkapar. Tanpa perlu lagi aku bersusah payah menggendong dan menidurkannya. Hatiku berbisik begitu begitu saja, ketika tangisannya kembali kudengar. 

Geram rasanya, gigiku gemeletuk menahan rasa kesal yang meraja di hati. Sudah beberapa kali tinta ini harus aku simpan kembali, laptop kecil juga harus diletakkan, dan aku harus menghampiri bocah ini. Bocah yang sungguh menyita waktuku hanya dengan suara tangisan dan rengekannya meminta susu dariku. Aagghh...  aku lelah, bosan, dan semua perasaan jengkel berkumpul. Aku ingin bisa menulis, punya waktu banyak menuangkan ide. 

"Dede, bobok dong! Mama juga ingin belajar, bukan hanya ngeneni Dede! ujarku kesal dengan nada sedikit lebih tinggi. Kulihat sorot matanya meredup ketakutan. Yah, baru kali ini aku bersuara sedikit keras. Kembali aku merebahkan diri di sampingnya, membuatnya terpejam lagi. 

Jika kubunuh dia, aku akan bebas berekspresi. Menulis semua ide tanpa gangguannya. Kenapa sih, kamu dulu harus ada di rahimku dan lahir? Kenapa? Aku jadi tidak punya waktu banyak untuk diriku sendiri. Hanya sibuk mengurusmu saja, bocah kecil yang belum genap dua tahun. Belum bisa melakukan semuanya dengan tangannya sendiri. Apa-apa masih aku yang selalu dipanggil.

Kembali bisikan halus melintas di kepalaku. Bisikan yang keluar dari keinginan dan kelelahanku mengurus rumah dan bekerja. Aku lelah, tanpa sadar kedua retinaku memanas. Setitik bulir air menggenang di pelupuk mata, siap meluncur menjadi tangisan. 

Maafkan Mama, Nak, banyaknya keinginan menutup hati bahwa kamu adalah kebahagiaan di sela sedikitnya waktuku untuk terus menuntut ilmu. Lelahnya badan tidak aku nikmati, sehingga ada perasaan ingin menghilangkanmu. Maafkan aku... 

Aku tergugu, menangis sambil mendekapnya. Nyeri di bahu kanan yang semakin sakit ketika menarik napas membuat tangisku makin pecah. Kucium setiap jengkal wajah imutnya. Aku sudah mencintainya sejak dititipkan dalam rahimku. Bukan dengan mengutuknya karena menyita seluruh waktu bebasku. Tapi inilah kebersamaan yang tidak akan mungkin dapat kuulang. 

#OneDayOnePost

1 komentar:

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Sabar sabar...

Posting Komentar