13 Januari 2017

Gara-gara Menguap itu Gratis

Hasil gambar untuk gambar murid mengantuk
image by google

“Nabi Muhammad ...” Bla bla bla penjelasan berikutnya sudah tak begitu kuhiraukan. Kepala rasanya berat sekali. Mulutku sudah berkali-kali menguap, menandakan penyakit kantuk ini sudah sangat akut. Padahal masih terbilang pagi, belum terlalu siang. Tapi kenapa mataku enggan diajak terbuka untuk satu pelajaran ini?


Kumis ala Pak Raden menghias wajah pak Taslam, guru Pendidikan Agama Islam. Beliau sudah panjang lebar dari tadi menjelaskan materi pelajaran. Karena kantuk sudah menyerangku sejak beliau masuk kelas dan menjelaskan, lebih tepatnya seperti mendongeng manakala sampai di telingaku, mataku inginnya terpejam. Aku tahu persis peraturan dari guru PAI satu ini. Dilarang menguap di kelas selama jam pelajaran berlangsung.

Aku ingat minggu kemarin, Pak Taslam meminta temanku satu kelas yang kedapatan menguap untuk keluar dan berlari mengelilingi lapangan basket. Duh, bisa malu kalau sampai aku mendapatkan perlakuan seperti itu. Akan menurunkan pasaranku bersekolah di SMPN 4 Nganjuk ini.

“Trikah, kamu nggak ngantuk ya?” tanyaku setengah berbisik kepada Trikah, teman sebangku. Dia hanya menjawab dengan gelengan kepala. Terlihat dari lirikan matanya, Trikah ingin mengatakan agar aku menahan kantukku. Aku hanya nyengir kuda.

Kubuka buku tulis bagian belakang, iseng tanganku mengambil pensil dan mulai mencoret-coret kertas di hadapanku untuk sekedar mengusir kantuk agar pergi. Ternyata sedikit berhasil. Aku bisa berkonsentrasi kembali, walaupun hanya beberapa menit. Lumayanlah, ada yang bisa masuk ke otakku. Coretanku sudah penuh dengan wajah-wajah berkumis.

Wajahku menghadap papan tulis, berusaha melebarkan lensa mata agar tetap terjaga.   

Kutahan kembali rasa kantuk dan keinginanku menguap. Kepalaku harus tegak, jika tak ingin mendapat malu. Kupasang senyum manis agar kantukku menjauh. Dan ketika aku memaksa untuk melek, suara itu mengagetkan seisi kelas.

“Hei, kamu yang barusan menguap tidak ditutup! Sana keluar kelas, putar lapangan basket tiga kali!” Nada suaranya menggelegar bagai petir membuat mataku yang mulai meredup melek kembali. Duh, siapa yang disuruh lari lapangan? Tanya batinku heran. Berani benar ia menguap tanpa ditutup, ketahuan pula. Mampus kamu, siap-siap ngos-ngosan keliling lapangan basket. Hatiku masih saja berkata-kata, kepalaku celingukan mencari sosok yang dimaksud oleh Pak Taslam.

“Malah celingukan, iya, kamu yang celingukan. Lisa ya? Sana cuci muka dan keliling lapangan!”

Ha ... !!! Satu kelas langsung menatap ke arahku dan tertawa meledek. Aku yang masih belum merasa menguap, hanya cengengesan. “Aku nguap ya, Trik?”

Sambil menahan tawa, Trikah mengangguk.

“O ...” mulutku menjawab sambil nyengir menahan malu.

“Cuci muka!” Sambil tersenyum pak Taslam menyuruhku. Aku berdiri dari kursi, melangkah keluar kelas, menggaruk kepala yang tidak gatal. Apes bener hari ini, ketahuan ngantuk.
“Iya, Pak, maaf,” kataku pelan.

Di kamar mandi yang hanya berjarak beberapa meter dari kelasku, aku terkekeh menyadari ketololan yang baru saja terjadi. Cuci muka sudah, tinggal olahraga keliling lapangan. Bakal dilihat satu sekolah, duh, malu banget. Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Kok bisa terjadi sih, kenapa aku menguap dan ketahuan? Gerutuku dalam hati.

Harus berlari sebelum hukuman ditambah, putusku melangkah keluar kamar mandi bersiap untuk menjalankan hukuman dari pak Taslam. Namun, baru saja kaki hendak melangkah ke lapangan, bel istirahat berbunyi. Selamatlah jiwaku dari rasa malu karena hukuman berlari keliling lapangan. Aku pun berbalik arah menuju kelas, menghadap pak Taslam untuk mengatakan hukuman sudah tidak berlaku karena bel istirahat.

Slamet ... slamet ...

#OneDayOnePost
#TantangandariMbakDymar
#Kenanganputihbiru


Note: Pak Taslam adalah guru agama isalam, terkenal dengan kumisnya dan galaknya beliau untuk mendisiplinkan kami agar rajin mengikuti sholat jumat di sekolah. Bagi yanng tidak ikut sholat jumat, akan mendapatkan hukuman dari beliau. Sayangnya beliau sudah meninggal. Semoga beliau mendapat tempat yang indah di sisi Allah. Aamiin.



2 komentar:

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Hmmm...ngantuk nggak sadar saking ngantuknya ya Mb...

lisa lestari mengatakan...

Iyo mbak... Isiiiin waktu itu

Posting Komentar