11 Januari 2017

Pil Putih

Hasil gambar untuk gambar pil putih
image by google


“Ayo, diminum! Langsung dua pil sekaligus. Jangan hanya satu, nanti kurang manjur,” ujar lelaki berbadan tinggi dengan perut buncitnya. Dadanya yang tidak tertutup kain nampak berkilat oleh keringat.


Tangan mungilnya gemetaran menerima dua pil kecil berwarna putih. Lelaki itu mengatakan bahwa pil ini digunakan untuk mengeluarkanku dari dalam rahim wanita ini. Padahal aku sudah mencintainya sejak pertama kali aku dititipkan di sini. Tempat yang sungguh membuatku nyaman. Lelaki buncit yang katanya adalah calon ayahku tega melakukan hal itu kepadaku. Katanya aku hanya akan menjadi beban, karena ia sedang menganggur, tidak punya penghasilan tetap.

Calon ibuku, wanita ringkih hanya pasrah dengan uraian air mata, tanda tak memiliki kekuasaan tatkala tangan kekarnya memaksanya untuk menelan dan menyiram tenggorokannya dengan segelas air yang dibawa. Sebelumnya wanita yang akan menjadi ibuku ini dinasehati olehnya, lebih tepatnya ia memarahi calon ibuku karena kebandelannya menolak perintah. Ada doa yang diucapkannya untukku, agar aku kuat.

Aku melesat bersembunyi sesaat pil putih itu masuk ke dalam. Aku tak ingin keluar dari rahim ini hingga waktunya aku harus keluar. Bukan saat ini pastinya, masih ada 28 minggu lagi. Aku melesat dengan cepat, secepat kecepatan cahaya untuk bersembunyi. Berharap tidak akan memberikan efek apa-apa.

“Cepat minum pil ini. Langsung dua, jangan hanya satu, nanti kurang manjur,” kataku dengan wajah sedikit emosi. Keringatku sudah mengalir di dadaku yang tidak tertutup oleh kain, sehingga dadaku nampak mengkilat.

Kulihat wanita ringkih di hadapanku hanya menangis, tertunduk pasrah setelah aku menasehatinya. Lebih tepatnya memarahinya karena kebandelannya menolak apa yang aku perintahkan. Aku tak ingin ia lahir di dunia ini, hanya akan menjadi bebanku saja. Apalagi aku sedang menganggur, tidak punya penghasilan tetap.

Kupaksa dua pil kecil masuk ke dalam tenggorokannya, kuangsurkan segelas air bening agar pil itu lancar dan bekerja dengan baik. Aku tak tahu, apakah calon bayi dalam rahim istriku akan keluar seperti harapanku.

Kamu, wanita ringkih yang ia nikahi setahun lalu. Sekarang memaksamu untuk menelan dua butir pil kecil agar calon anak yang ada dalam kandunganmu keluar. Sebelumnya ia menggunakan kekuasaannya sebagai suami dengan menasehatimu, lebih tepatnya memarahimu. Hanya isakan tangis yang kamu miliki, tanpa bisa menolak semua keinginannya. Padahal dalam hatimu, semuanya bertentangan. Meskipun ia mengatakan bahwa anak yang akan lahir ini nantinya hanya akan menjadi beban. Kamu tetap yakin untuk melanjutkan kehamilan. Walaupun ia sedang menganggur, tidak memiliki penghasilan tetap.

Sekali lagi kamu tak bisa berbuat apa-apa, manakala tangan kekarnya memaksamu untuk menelan bersamaan dengan segelas air bening yang disodorkannya. Hanya air matamu menjawab semua kepedihan hatimu. Kamu pun berdoa dalam hati, semoga anakku akan kuat hingga waktunya untuk keluar. Dua puluh delapan minggu lagi, bukan saat ini.

Satu jam berlalu dengan menegangkan. Aku duduk di tepi ranjang mengamati wajah manis yang begitu kucintai. Kudapati wajahnya menahan rasa sakit, tetapi tidak satupun rintihan yang keluar dari mulut mungilnya. Dia hanya menggigit bibirnya, tanpa suara, bahkan tangisan dari matanya. Kedua tanganku sudah mengepal, gemas tak sabar menunggu reaksi yang terjadi. Mudah-mudahan sesuai keinginanku. Bayi dalam rahimnya yang masih berupa calon itu akan keluar bersama rintihannya.

Beberapa waktu kemudian, wanita itu memegangi perutnya, bergullingan di atas kasur. Tetap tanpa suara dan tangisan. Hanya keringat yanng nampak muncul di kening. Wajahnya sudah pucat, pias tak berwarna. Tiga puluh menit ia bergulingan di atas kasur hingga tertidur. Mungkin kelelahan.

Aku sudah bersembunyi jauh, kekuatan doa dari ibuku menguatkanku. Aku hanya ingin bersamanya kelak, ada dalam dekapannya. Aku melihat wajah manisnya menahan sakit. Obat itu pasti sedanng bekerja. Namun, tak kudengar rintihan bahkan tangisan kulihat dari wajah ayunya. Ibuku menahan sekuat mungkin. Keringat berhamburan muncul dari keningnya.

Beberapa waktu kemudian, ibu memegangi perutnya, bergulingan di atas kasur. Tetap tanpa suara dan tangisan. Keringatnya makin banyak mengucur membasahi bajunya. Wajah ibu sudah nampak pucat, pias tak berwarna. Tigapuluh menit sudah ibu bergulingan di atas kasur hingga meringkuk tertidur. Mungkin kelelahan.

Setelah dua pil berhasil kamu telan, perutmu bereaksi dengan hebat. Mulut mungilmu menahan semua rintihan kesakitan yang diakibatkan oleh bekerjanya pil. Tak sedikitpun tangisan menitik dari matamu. Kamu memang wanita mungil yang hebat.

Beberapa waktu kemudian, kamu nampak memegangi perut dan bergulingan di kasur. Masih tanpa suara dan tangisan. Keringatmu makin banyak, membasahi bajumu. Wajahmu sudah pucat tak berwarna. Tiga puluh menit sudah kamu bergulingan di atas kasur hingga akhirnya tubuhmu meringkuk tak bergerak. Kamu tertidur, mungkin kelelahan.

#OneDayOnePost
#TantanganMamakVinny

#3POV

2 komentar:

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Hiks hiks...Mb lis critamu kui..hiks hiks

lisa lestari mengatakan...

Cup.. Cup.. Mbak..

Posting Komentar