05 Desember 2016

Seandainya...

Hasil gambar untuk gambar harimau
image by google
Sudah kusiapkan dengan perencanaan yang matang. Alat dan bahan juga sudah kurapikan. Segala kemungkinan dengan perhitungan yang njelimet sekalipun selesai kurancang. Tinggal bergerak menjalankan aksi. 

Aku berjalan bersisian, mengendap perlahan-lahan, agar langkah kaki berenam kami tak terdengar dari jarak dekat  sekalipun. Kupegang leher kokoh yang sudah kulatih selama berminggu-minggu. Memaksanya agar tidak mengeluarkan bunyi yang bisa saja mengacaukan semua rencanaku. 


Sengaja tidak aku pakai alas kaki apapun. Kakiku telanjang, menyamai empat kaki miliknya. Dia lebih jago saat mengendap seperti ini. Pandangan mataku menyapu ke seluruh ruangan. Menatap tajam  setiap sudut yang sudah kuhapal jengkalnya. Ada dua kamar tidur. Satu berada di ruangan depan. Ruangan tidur dengan ukuran besar, 5x7 meter. Kamar tidur lainnya ada di tengah. Ukurannya lebih  kecil. 

Menurut ceritanya dia selalu menggunakan kamar depan untuk menghabiskan malam yang panjang. Lebih sering sendirian di dalam kamarnya. Memudahkan rencanaku, begitu pikirku. 

Bergegas dengan langkah tetap mengendap, kamar tengah menjadi tujuan utamaku. Lampu masih menyala, menandakan yang punya kamar mungkin saja belum terlelap. Atau lupa mematikan lampu ketika akan tidur. 

Terlihat dengan jelas tubuh jangkungnya. Memakai kaos singlet putih, bercelana hanya sebatas lutut, terpejam dengan posisi badan menghadap tembok. Napasnya terlihat teratur naik turun. Ada sebuah koran yang menutup dadanya. Sepertinya tertidur setelah membaca berita. 

Aku dan sosok yang setia bersamaku sudah berdiri tak jauh dari tempat tidurnya. Dia sudah menggeram, tapi masih kutahan dengan memegang erat lehernya. Kuusap lembut lehernya agar amarahnya tak berujung pada kefatalan. 

"Tindih tubuhnya, janga dulu kau lukai. Buat dia kesakitan dengan cengkeramanmu di tubuhnya. Biarkan dia melihat wajahku, lalu menginhatnya selamanya. Wajah yang pernah dipuja olehnya." lirih kubisikkan di telinganya mengulang rencana kami.  

Perlahan tubuh seberat 70 kilogram naik ke tubuh yang tergolek seolah tak bernyawa di tas kasur. Kaget dengan beban yang menindih, matanya terbuka. Suaranya tercekat di tenggorokan.  
matanya melotot menatap tubuh berwarna belang dan berambut tebal. Aumannya tepat di depan wajah. Liurnya menetes mengenai pipinya, tatkala lidahnya menjilat. Mulai ada perih yang dirasakan. Darah merembes dari kaos putihnya. Napasnya tersengal antara menahan takut dan sakit. 

"Apa yang kamu lakukan denga Belang terhadapku, De?" tanyanya terbata. 

Aku mendengus dengan napas kebencian. Ada rasa puas meraja di hatiku, melihatnya mulai kesakitan. 

"Aku hanya ingin melihatmu kesakitan. Seperti itulah rasa sakit yang telah kau hujamkan ke ulu hatiku. Maka aku bawa Belang untuk membantuku. Tenang, kau tidak akan dimakan olehnya. Aku hanya ingin kau merintih karena cakaran Belang."

"Luka yang kau timbulkan sangat membekas, Mas. Dan itu sulit sembuh. Hanya dengan cara ini sakitku terbalaskan." jelasku. 

Mulai terdengar rintihan makin keras. Belang makin dalam menancapkan kukunya. Kaki depannya sudah memberikan tanda pengenal dengan menggoreskan cakarnya ke dadanya. Terlihat daging putih menyembul di antara bekas luka dan darah. Wajahku makin puas menatap wajah pesakitan miliknya. 

"De...bu...nuh saja a...ku..."

"Tidak! Kalau kau mati terlalu cepat, kau tidak tahu rasanya sakit,  Mas. Hatiku lebih sakit dari pada luka yang digoreskan Belang, " kujawab rintihannya dengan amarah. 

"A...ku...minta...maaf...."

"Aku tak akan pernah memaafkanmu! " kataku penuh benci sambil kuminta Belang untuk mencabik tubuhnya. Teriakan kesakitan yang keluar dari mulutnya menjadi nyanyian indah di telingaku. Koyakan daging berserakan di mana-mana. Tembok coklat kamarnya penuh percikan darah. Wajahnya sudah tenang dengan mata tertutup sempurna. Tak kuhirukan lagi kerumunan orang berteriak di luar kamar. Aku puas tertawa, menyaksikan kebuasan Belang. Belang hanya menyisakan bagian wajah dengan senyum yang masih sama. Tubuh lainnya sempurna terkoyak.

#OneDayOnePost



4 komentar:

Muhamad Septian Wijaya mengatakan...

ishh ngeri..

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

wow..mbak lis keluar taringnya
keren..keren
aku tahu rasanya

lisa lestari mengatakan...

Weeehh.. Nggak aku post di grup, ada juga yg komen.. Lom bisa bikin pembaca tegang

Vinny Martina mengatakan...

Aku kebayang wajah mbak lisa saat marah dgn tokoh lelakinya. Hehhehehe

Posting Komentar