30 Juni 2017

Review Novel Teenlit


Kali ini, saya ingin mengulas sedikit tentang novel teenlit terbitan Grameia Pustaka Utama. Novel ini merupakan salah satu bacaan kesukaan saya, yang sudah saya baca sampai tiga kali. Wah, pasti isinya seru ya? Yang pasti, novel ini membuat hati saya terpikat.


Novel dengan judul a Little White Lie dengan penulis Titish Ak, ketebalan 20 cm dan jumlah halaman 272, merupakan cetakan yang kedelapan pada tahun 2011 ketika saya membacanya pertama kali. Entahlah, apakah masih ada di Gramedia atau tidak tahun ini.

Seperti novel teenlit pada umumnya, berkisah tentang kehidupan remaja di sebuah sekolah menengah. Kisah percintaan dan persahabatan.
Tokoh utama dalam cerita ini adalah Ocha, siswi kelas X. Menggunakan sudut pandang orang pertama.

Kisah Ocha bermula saat teman-temannya begitu mengidolakan seorang Adit. Setiap Adit lewat di hadapan teman ceweknya, semuanya bertingkah untuk berusaha mencari perhatian Adit. Hanya Ocha yang merasa tidak tertarik untuk ikut mengidolakan Adit. Baginya Adit adalah sosok yang menyebalkan, membawa sial buat Ocha.

Awal mula Ocha membenci Adit adalah ketika bola basket yang sedang dimainkan oleh Adit dan timnya mengenai kepala Ocha hingga dia menangis. Sejak saat itu setiap kali bertemu dengan Adit, Ocha selalu menjulurkan lidahnya hingga Adit merasa heran.

Kesempatan membalas dendam kepada Adit tersampaikan, ketika tidak sengaja Ocha mendapatkan nomor ponsel Adit. Berawal dari niat untuk menjual nomor Adit kepada penggemarnya,  Ocha justru memilih menyimpannya dan mulai ngerjain Adit dengan misscall ataupun sms menggunakan nama samaran.

Apakah Ocha nyaman dengan kebohongan yang dia lakukan? Lalu, bagaimana Adit bisa mengetahui bahwa yang iseng sms dan telepon adalah Ocha? Cewek yang dibuatnya menangis di lapangan basket dan telah merebut hati Adit.

Ceritanya seru, khas remaja yang berakhir dengan kisah cinta romantis. Tidak hanya menampilkan pacaran saja, tetapi juga memperlihatkan persahabatan antara dua orang.

Gaya cerita dalam novel ini pastinya khas remaja, yang terkadang membuat pembaca tertawa. Seolah membayangkan seperti ini juga ketika duduk di bangku sekolah. Enak dinikmati, tidak terlalu tebal, dan pastinya tidak membosankan, karena dari awal hingga akhir bahasanya ringan.
Ditutup ending yang manis, novel ini layak untuk dijadikan referensi bacaan untuk remaja atau anak gadis kita yang sudah ABG.

#reviewnovelteenlit

0 komentar:

Posting Komentar