23 Oktober 2017

Aku Sayang Ibu


"Lha, kapan Ibu nyampe kontrakan? Kok nggak bilang kalau mau mampir sini? Bukannya baru semalam di tempat Mbak Mur?" tanyaku heran mendapati ibu tiba-tiba muncul mengetuk pintu kontrakan. Suamiku ikutan melongok di belakang punggungku.


Ibu hanya tersenyum masam tanpa menjawab pertanyaanku. Aku sudah hafal dengan tabiat ibu kalau sudah begini. Awalnya pamit akan menginap di tempat Mbak Mur dalam waktu lama, tapi baru semalam kok sudah ada di tempatku. Pastinya ada hal yang membuat ibu kesal dengan kakak sulungku.
"Ibu mau minum apa?" tanyaku menawarkan minuman. Ibu masih enggan menjawab pertanyaanku. Akhirnya tanganku meraih cangkir, teh tubruk, dan menuangkan air panas dari termos ke dalam cangkir. Membuatkan teh manis hangat mungkin bisa menghilangkan kejengkelan perasaan ibu.

"Diminum dulu, Bu," tawarku pada ibu. Ibu mengangguk dan meyeruput teh manis buatanku. Kekesalan di wajah ibu berganti dengan senyum.

"Ibu nginep sini ya? Besok mau ke tempat adikmu." Aku hanya mengangguk. Jawabanku tidak akan pernah bisa merubah keputusan ibu. Jadi aku mengiyakan saja permintaan Ibu.

***
"Ibu kamu apain sih, Mbak?" tanya Nuning adikku dari seberang telepon. Pasti ibu sudah sampai rumah Nuning dan bercerita hal aneh kepadanya.

"Memangnya Ibu cerita apa?" tanyaku setelah terdiam agak lama. Ibu masih saja belum berubah.

"Kata Ibu, Mbak Shan mengusir ibu dan meminta ibu agar segera menginap saja di rumahku. Katanya kontrakan Mbak Shan sempit kalau ibu datang. Kok Mbak Shan tega sih sama ibu?"

Aku terdiam sambil mengelus dada. Di tempatku ibu menjelekkan Mbak Mur, mengatakan telah diusir dari rumah Mbak Mur. Padahal Mbak Mur bilang, ibu yang ingin pergi ke tempatku. Aku juga tidak mengusirnya. Aku dan ibu asyik berbincang setelah ibu beristirahat. Aku juga ingat, bagaimana ibu membicarakan Nuning adikku.

"Di rumah Nuning tuh, besar, enak. Nggak seperti kontrakanmu yang sempit. Ibu betah di sana. Kalau di tempat mbakmu, ibu nggak betah sama anaknya yang nakal." cerita ibu yang aku tanggapi dengan senyum. Ibu memang tidak pernah senang jika berkunjung ke tempatku, karena aku masih mengontrak dan belum memiliki rumah. Bahkan ibu juga sering menjelekkan aku dan suamiku jika ibu berkunjung ke rumah dua saudaraku.

Sedih, tapi lama-lama aku terbiasa. Sejak bapak meninggal ibu memang ketus setiap berbicara denganku. Aku hanya dianggap seperti anak tiri. Lihatlah, dua saudaraku semuanya merasakan bangku kuliah dengan uang ibu. Aku cukup sampai tingkat SMA. Alasan ibu adalag tak ada biaya ketika aku ingin kuliah.

"Mbak Shan," panggil Nuning.

Aku terkejut mendengar panggilan Nuning.  Untungnya ponsel ini tidak terjatuh karena kagetnya.

"Iya, Dik," jawabku kalem.

"Mbak Shan tuh sesekali buat ibu senang gitu kalau beliau sedang berkunjung. Toh tidak setiap bulan, kan, Ibu Datang?" Kembali Nuning memberondongku dengan kesal.

"Iya, Dik, maafkan Mbak ya," kataku pelan. Mencoba membela juga tidak ada artinya. Kalau ingin membalas, rasanya ingin menceritakan juga bagaimana ibu menjelekkan anak bungsunya di depanku.

Dik Nuning menutup ponselnya tanpa menjawab salamku. Ada rasa sedih yang selalu muncul setiap kali ibu selesai berkunjung. Ibu seperti sengaja menjelekkan semua putrinya di hadapan putrinya yang lain. Dan dua saudaraku tidak pernah tahu, bahwa ibu pandai memutarbalikkan kenyataan swsungguhnya.

***

"Dik Shan, lekas pulang ya. Ibu memanggil terus namamu. Kami tak dianggap oleh ibu. Hanya namamu yang disebut. Dokter sudah pasrah, Dik," pelan Mbak Mur mengabarkan berita yang mengejutkan tentang ibu. Ibu terjatuh di kamar mandi dan langsung koma. Sudah tiga hari ibu hanya memanggil namaku.

Dan sekarang aku duduk menggenggam jari ibu, membisikkan ke ibu bahwa aku sudah datang. Ibu membuka matanya dan tersenyum sangat manis. Senyum yang tak pernah kulihat sejak kepergian bapak.

Bibir ibu seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi tersekat di tenggorokan. Ibu seolah sedang berhadapan dengan malaikat maut. Kubisikkan asma Allah di telinga ibu. Mulut ibu susah payah mencoba melafalkan.

"Aku tak pernah membenci Ibu. Aku sangat mencintaimu, Ibu," ucapanku berlomba dengan derai air mata yang tanpa sadar keluar. Ibu akhirnya pergi meninggalkanku.

#Flashfiction
#Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka program One Day One Post yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia

6 komentar:

Virgorini Dwi Fatayati mengatakan...

Ya ampun sesek bacanya😭😭😭

Dian Restu Agustina mengatakan...

Cerita di atas sering nyata ada..Orang terdekat saya mengalami hal yang sama. Dan pasti nyesek rasanya jadi si anak. Semoga kita sebagai ibu bisa mengambil nilai moralnya ya Mbak...Bahwa setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama, bgaimanapun kondisinya..

Novarina DW mengatakan...

Kasih ibu akan selalu abadi. Meskipun kadang ada sikap beliau yang kurang berkenan di hati. Doakan saja yang terbaik untuk orangtua.

lisa lestari mengatakan...

Hiks.. Hiks.. Iya mbak

lisa lestari mengatakan...

Benar, Mbak.

lisa lestari mengatakan...

Yap, Mbak Nova.

Posting Komentar