07 Oktober 2017

Sepatu Impian Kurcaci Bani




Hasil gambar untuk gambar kurcaci

“Ah, sepatu ini sudah usang,” sungut Kurcaci Bani sambil melihat sepatunya. Sepatu biru milik Bani sudah penuh tambalan di sana sini. Ujungnya sudah membuka ketika digunakan berjalan. Bani ingin memiliki sepatu baru. Apalagi musim hujan sudah datang. Sepatu lamanya tidak akan mampu mengusir hawa dingin.

Bani Kurcaci merenung. Kemarin dia melewati sebuah toko sepatu. Sepasang sepatu berwarna merah menarik perhatiannya. Begitu indah dengan bulu domba. Pasti akan hangat dikenakan jika musim dingin. Bibir Bani tersenyum membayangkan dia akan memakai sepatu barunya.
Namun, seketika Bani menampakkan wajah sedih, setelah melihat angka yang tertera di label sepatu. Harga sepatu yang dia inginkan terlalu mahal untuknya. Sedangkan tabungannya tidak cukup.
Sepatu itu harus aku miliki. Bagaimana pun caranya, gumam Bani bertekad dalam hati.
Bani bergegas memakai sepatu lamanya. Dia bersiap diri untuk bekerja menjaga toko kue milik Nyonya Perito. Untuk mendapatkan sepatu merah yang dia inginkan, Bani akan bekerja lebih keras dari biasanya. Gaji yang dia dapatkan dari menjaga toko kue tidak akan pernah cukup untuk membeli sepatu merah itu. Bani berencana akan menjual kue ke taman kota sepulang bekerja dari toko kue Nyonya Perito. Malam harinya Bani akan membantu Nyonya Perito membuat adonan kue. Bani tidak ingin harapan memiliki sepatu bulu domba hanya menjadi mimpi.
***
Bani menjalankan rencananya. Dia bersiap memasukkan beberapa kue ke dalam keranjangnya untuk dijual ke taman kota.
Bani menawarkan kue yang dia jual kepada setiap kurcaci yang berkunjung ke taman. Malam harinya Bani membantu Nyonya Perito membuat adonan kue. Tengah malam Bani baru pulang.
Sudah seminggu Bani melakukan pekerjaan di luar pekerjaan rutinnya. Selama itu pula Bani selalu kehujanan sepulang menjajakan kue di taman kota. Tubuh Bani lelah, karena diforsir terlalu berlebihan. Bani begitu ingin mencari uang tambahan hanya untuk mendapatkan keinginan yang melebihi kemampuannya.
Ketika Nyonya Perito juga mengingatkan Bani agar tidak lagi membantunya membuat adonen kue pada malam harinya, Bani tidak memedulikan. Troy, tetangga Bani juga menegurnya.
“Kulihat akhir-akhir ini kamu bekerja terlalu keras, Bani. Pulang sudah sangat larut malam. Nanti kamu sakit,” kata Troy.
Bani hanya tersenyum, kembali tidak peduli dengan tubuhnya yanng sudah lelah.
***
Pagi ini Kurcaci Bani tidak bisa bangun dari tempat tidur. Tubuhnya menggigil kedinginan, tetapi suhu badannya  sungguh panas. Bani mengigau, menyebut sepatu bulu domba yang diimpikan. Kurcaci Troy yang tinggal di dekat rumah Bani hanya mampu mengelengkan kepalanya. Sejak tadi malam Troy sudah menjaga Bani, mengganti kain yang digunakan untuk mengompres Bani.
“Makan dulu buburmu, Bani! Aku sudah membuatkan bubur untukmu,” kata Troy mencoba membangunkan Bani.
Mata Bani terbuka perlahan. Bibirnya tampak pucat. “Mulutkku terasa pahit.”
“Kamu tetap harus makan, agar cepat sembuh.”
“Aku ingin pergi ke toko kue Nyonya Perito. Aku harus menjual kue ke taman kota.” Bani bersiap turun dari tempat tidur. Troy mencegahnya.
“Duduklah!” Troy menahan tubuh Bani yang lemah, “kamu sakit, Bani. Istirahatlah!”
“Sepatu bulu domba itu ....” lirih Bani menyebut keinginannya.
“Makanlah bubur ini agar tubuhmu kembali sehat,” kata Troy sambil menyuapi Bani.

***
Hari ini Bani bersiap untuk kembali bekerja. Dia sudah merasa sehat setelah berisitirahat selama tiga hari. Ketika Bani hendak menutup pintu rumah jamurnya, dia melihat Troy datang bersama Nyonya Perito.
Bani menyambut kedatangan Nyonya Perito. “Silahkan masuk, Nyonya!”
Nyonya Perito tersenyum, “Bani, aku datang ke sini ingin tahu kesehatanmu.”
“Saya sudah sehat, Nyonya,” jawab Bani.
Nyonya Perito mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dia bawa. Sepasang sepatu bulu domba warna merah. Bukan sepatu baru, tapi terlihat masih bagus. Mata Bani tak berkedip memandang sepatu tersebut. Sepatu itu mirip dengan yang dia inginkan.
“Aku ingin memberikan sepatu ini untukmu, Bani. Tapi maaf, bukan sepatu baru,” kata Nyonya Perito.
“Sepatu ini untuk saya, Nyonya?” tanya Bani masih tak percaya. Nyonya Perito menjawab dengan anggukan kepala.
“Kamu mau memakainya, Bani?”
“Tentu saja saya mau, Nyonya,” kata Bani dengan gembira. Bani memandang Troy sahabatnya. Troy mengangguk, dia ikut senang Bani memiliki sepatu untuk menggantikan sepatunya yang sudah usang. Bani langsung mencoba sepatu pemberian Nyonya Perito.
“Nah, sekarang, kamu tak perlu lagi menjual kue ke taman kota sepulang kerja. Kamu juga tak usah membantuku membuat adonan kue pada malam harinya,” kata Nyonya Perito.
“Bekerjalah menjaga toko kue ku saja,” tambah Nyonya Perito.
“Betul, Bani. Tubuhmu tidak kuat jika bekerja melebihi kemampuanmu,” tambah Troy.
Bani mengangguk, “Terima kasih, Nyonya.”
Nyonya Perito mengangguk. Bani melompat kegirangan mendapatkan sepatu dari Nyonya Perito. Dia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan melakukan hal yang melebihi kemampuannya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Oktober 2017
#OKT5

3 komentar:

Dian Restu Agustina mengatakan...

Keren Cernaknya Mbak :) Hebat!
Saya pernah kirim ke Lampung Post sekali nggak dimuat hihihi

Sakifah Ismail mengatakan...

Woww...kerenn

Anggarani Ahliah Citra mengatakan...

Senangnya Bani dpt sepatu baru... aku ngga bisa bikin cernak, mba. Ga pernah dpt feel nya :D

Posting Komentar