09 Oktober 2017

Seperti Janji Senja


Hasil gambar untuk gambar senja

Rintik-rintik kecil mengiringi langkah kami saat menyusuri jalan sepanjang Malioboro sebelum matahari berganti perannya dengan bulan. Sesekali tangan kirinya menggapai lembut tangan kananku untuk sekedar memastikan tubuhku tidak tenggelam bersama lautan pejalan kaki lainnya. Aku yang mengekor di sampingnya hanya sekilas menatap dari samping, mengamati wajah yang masih sama setahun lalu.

“Dik Aisy, jalannya jangan sambil kesengsem lihat wajahku,” katamu sambil tersenyum. 

Aku yang ketahuan mencuri pandang hanya nyengir menutupi rasa panas yang tiba-tiba menjalar di pipiku. Berpura-pura membetulkan letak kaca mata, aku membantah, “Idih, geer kamu, Mas!”

Terkekeh dia membalasnya, “Ya sudah kalau nggak mau ngaku, aku memang ganteng kok!” 

Kutimpuk pelan lengan kirinya dengan koran yang sempat kubeli ketika menunggunya menjemputku di Stasiun Tugu.

“Mau ke mana kita?” tanyanya sedikit lantang, bersaing dengan ramainya suara pedagang memamerkan barangnya  .

Kuhentikan langkah kakiku, menepi agar aku bisa sedikit leluasa berbicara. “Aku ngikut deh, mau di bawa ke mana. Tapi ... sebentar lagi senja, Mas. Rintiknya juga tak lama lagi pasti akan berubah menjadi besar.”

Mas Ayub memandang langit dan mengangguk. “Tapi kamu nggak buru-buru pulang kan, Dik?” Gelengan kepalaku cukup menjawab pertanyaannya. 

Dia tersenyum. “Ya sudah, ikut saja ya, ke tempat ini pasti lebih asyik.” Berkata begitu tangan kirinya kembali menarikku. Menyeberang di tengah hujan yang mulai deras dan kami masuk ke sebuah mall. 

Aku mengikuti langkah panjangnya menuju lantai tiga. Dia membawaku ke toko buku. “Dik, ambil ya, mau beli novel apa. Habis bingung mau dibawa ke mana. Nggak apa-apa kan?”

Aku tersenyum. “Iya, Mas, di sini saja, lebih asyik. Bisa baca sambil ngobrol.”

Tubuh jangkungnya membiarkanku berjalan menyusuri rak tempat novel berderet. Sambil sesekali bertanya kepadaku tentang novel yang dilihat. Apakah aku sudah membacanya atau belum. Memintaku untuk menceritakan isi novel jika aku sudah membacanya. Ah, lelaki yang hanya senang mendengar ceritanya dariku, bukan membacanya sendiri.

 “Dik, jadi beli novel apa?” tanya mas Ayub melihatku menimang dua novel.

“Boleh ambil berapa nih?” tanyaku menggoda. Dalam hati, mumpung gratis, kalau boleh ambil lebih dari satu kan lumayan.

“Ambil sesukamu, asal dibaca. Nanti ceritakan ke aku ya,” jawabnya dengan kedipan menggoda. 

“Nggak mau, ah! Mas Ayub selalu pilih jadi pendengar.  Mosok setiap telepon aku terus yang cerita. Sesekali baca sendiri dong!” Aku menjawabnya dengan bibir manyun. Mas Ayub menyentil hidungku dan tertawa.

“Aku senang mendengar ceritamu, Dik, ramai seperti hujan yang ketika turun tak pernah sendirian. Dik Aisy mampu meramaikan hidupku. Jangan pernah lelah untuk terus bercerita kepadaku ya, meskipun nanti kita sudah bersama dalam satu kapal.” Mas Ayub berhenti sejenak. Aku masih dibuatnya bengong, tak menyangka lelaki yang biasanya miskin kata-kata mampu merangkainya dengan sederhana, tapi dalam maknanya.

“Aku ingin menjadikanmu ratu di kerajaan cintaku, Dik, selamanya,” lanjutnya.

“Bentar, Mas. Apakah kamu melamarku?” Masih agak bingung dengan apa yang terjadi. Bukan jawaban yang aku dapatkan, justru tertawa khasnya yang memamerkan deretan gigi putihnya. Tangannya menarik tanganku mendekati kaca, memintaku melihat ke luar. Di luar hujan masih setia membasahi bumi.

“Kamu adalah hujan bagiku, Dik. Hidupku akan penuh dengan pelangi karena ada kamu yang menjelma menjadi hujanku. Aku berjanji akan seperti senja, tak pernah lelah menghabiskan sisa umurku bersamamu”

Aku tak bisa berkata sedikit pun. Permintaannya untuk menjadikanku seorang istri dirangkai dengan kalimat yang sederhana. Bersama hujan dan janji senja yang tak pernah ingkar untuk menggantikan sore,  menjadi saksi bagaimana aku dan hujan menurutnya. Kuanggukkan kepalaku dengan mantap, bagiku ini adalah hal yang tak boleh ditolak. Cinta ini sudah tumbuh sejak kebersamaan dengannya di telepon. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia. 



3 komentar:

Dhika Suhada mengatakan...

jogja..senja dan hujan... romantissss

lisa lestari mengatakan...

Iya, Mbak. hehehehe...

Damar Aisyah mengatakan...

Ihirrrr, jadi inget pertama dilamar suami. wkwkwkwk

Posting Komentar