03 Desember 2017

Lebih Dekat dengan Fabel


Pernah mendengar fabel? Atau bahkan mungkin membacanya?
Yah, fabel adalah sebuah cerita dengan tokoh cerita berupa hewan atau binatang. Fabel sendiri bagian dari dongeng. Sebuah cerita fantasi yang melebarkan imajinasi penulis. Ada apa dengan fabel? 

Oh, saya hanya ingin mengulasnya sedikit berdasarkan apa yang sudah saya dapatkan bersama Pak Bambang Irwanto. Bagian kecil yang nantinya ada dalam tulisan ini, semata-mata hanya sebagai pengingat agar saya ingat terus dengan ajaran beliau. 

Dalam kelas yang saya dapatkan, fabel ternyata memiliki tiga versi dalam menulisnya. Tidak semata-mata pokoknya tokohnya hewan, lantas jadi fabel. Tidak! Ada beberapa hal yang perlu juga dipahami sebelum menulis cerita fabel. 

Versi fabel yang saya dapatkan adalah:
1. Versi Pertama
    Pada fabel versi ini, semua tokoh menggunakan hewan. Baik tingkah lakunya, cirinya, dan semua kegiatannya murni merupakan bagian dari hewan. Tidak dibuat seperti manusia. Tetap utuh sebagai hewan. Contohnya adalah serial katak, yang bersuara, lalu ada seekor katak yang minder karena suaranya jelek. Dengan berlatih akhirnya dia pun memiliki suara yang bagus. Nah, ini tetap menampilkan tokoh murni atau asli dari binatang katak. 
2. Versi Kedua
     Berbeda dengan versi kedua. Pada versi ini, tokoh hewan bertingkah seperti manusia. Mereka bersekolah, bekerja, atau melakukan kegiatan seperti manusia pada umumnya. Tetap menggunakan tokoh hewan ya, tidak memasukkan tokoh manusia. 
3. Versi Ketiga
     Nah, versi terakhir pada cerita fabel, kita boleh memasukkan tokoh manusia sebagai pendukung. Tapi ingat, manusia hanya mendukung dari cerita fabel yang dibuat. Tokoh hewan tetap sebagai tokoh utama. 

Selain pembagian versi di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat cerita fabel. Apa saja itu? 

* Meskipun tokoh cerita berupa binatang, tetap mengutamakan riset dalam membuatnya. Jangan sampai tokoh binatang yang kita buat kita tidak tahu dengan baik ciri dan karakternya. Atau bahkan tempat tinggalnya. Misalkan, kita ingin menuliskan tentang tokoh beruang kutub  sebagai tokoh utama, tapi lupa kalau beruang ini tinggalnya di hutan. Lantas ceritanya beruang kutub ini ada di hutan tropis. Nah, berarti nggak riset dulu sebelum menulis. 
* Unsur logika tetap diperhatikan yaaa. Jangan sampai mentang-mentang cerita fabel mengabaikan logika. 
* Ketika menuliskan fabel, ingat, harus tetap memerhatikan habitat hewan tersebut. Hewan yang kita gunakan sebagai tokoh harus dalam satu habitat. Nggak boleh berbeda-beda. Misalkan ingin menampilkan fabel versi dua, lalu memasukkan tokoh burung, jerapah, singa, penguin. Tokoh-tokoh ini memiliki habitat yang berbeda. 
* Tak kalah pentingnya saat membuat fabel, sebisa mungkin menggunakan pov 3. Nggak seru kan, membayangkan kita sebagai tokoh utama, yaitu hewan. 
* Ini yang penting, usahakan tidak ada unsur menerkam atau memangsa pada saat menuliskan fabel. Mengapa? Karena ini cerita buat anak, ketika tokohnya memangsa hewan lain kesannya akan menyeramkan bagi anak. Jadi, hindari ya! 

Nah, itulah hal-hal yang harus diperhatikan dalam menuliskan cerita fabel. Yuk, menuliskan kisah hewan di sekitar kita dengan bahasa yang menarik! Semangat menulis! 

4 komentar:

Bambang Irwanto mengatakan...

Keren, Mbak Lisa.
Hanya perlu diperjelas, tiga versi itu menurut saya ya. Jadi bukan versi yang sudah dipakemkan dalam penulisan fabel. Karena tiap penulis kan pasti berbeda.

Misalnya, ada fabel yang ditulis tokoh hewannya bisa berkomunikasi dengan tokoh lain, termasuk tokoh manusia. Kalau pakem saya, tokoh hewan tidak boleh berkomunikasi dengan manusia.

Tapi ini versi saya, dan bukan patokan. Jadi kalau ada cerita, hewannya bisa berkomunikasi dengan manusia, tentu saja tidak apa-apa.

Terus semangat menulis, Mbak Lisa.

Nia Kurniawati mengatakan...

Mba Lisa, mantap. Saya juga senang dengan cerita anak setelah belajar dengan Pak Bambang Irwanto.

lisa lestari mengatakan...

Yes, Bapak.

lisa lestari mengatakan...

Betul, Mbak Nia.

Posting Komentar