17 Januari 2018

Rambu-rambu Menulis Dongeng Kontemporer


Eh, benar nggak ya, judulnya? Untuk sementara anggap saja benar ya.



Dongeng Kontemporer masuk ke dalam salah satu jenis dongeng yang menggunakan tokoh benda mati dalam penulisannya. Contohnya seperti film anak Tayo, Chugingthoon, Robocar Poli, dan beberapa film anak lainnya yang menggunakan tokoh benda mati hidup seperti manusia. Bahkan, dongeng ini menjadi favorit anak-anak. Lihat saja tayangan film Tayo, hampir semua anak mengenal film ini. Saya sendiri pun sampai sayang kalau melewatkan  menonton film ini.




Lalu, apakah menulis dengan tokoh benda mati dalam dongeng diperbolehkan? Apakah nantinya tidak akan mempengaruhi pikiran anak-anak?



Hmm ... Saya pribadi setelah berguru, menjadi lebih paham bagaimana aturan menulis dongeng dengan tokoh benda mati. Sah-sah saja kok, dan HALAL menuliskannya. Lantas, ada aturan apa untuk menulis dongeng jenis ini?



Pertama, (Ini pakem saya ya, bukan patokan secara umumnya. Pakem ini berdasarkan hasil perguruan saya bersama Cikgu keren. Tidak menggunakannya juga tidak masalah, wong tetap halal, kok!)

Ulang lagi, yang pertama: Ketika menulis dongeng dengan tokoh benda mati, (semua tokohnya benda mati ya) maka tokoh bisa bergerak atau berpindah tempat seperti manusia. Tentunya dengan setting negeri yang menjadi tokoh dalam dongeng tersebut. Seperti jika menggunakan tokoh boneka semuanya, maka saya menggunakan setting negeri boneka. Artinya semua tokoh yang ada dalam dongeng adalah benda mati dengan setting diperuntukkan benda mati tersebut.



Lalu, bagaimana jika dalam dongeng yang kita tuliskan ada tokoh manusianya?



Nah, jika memasukkan tokoh manusia, maka benda mati ini hanya memiliki nyawa dan mampu merasakan. Mereka tidak bisa berpindah tempat seperti manusia.



Maksudnya begini, jika kita menggunakan benda mati sebagai tokohnya dan ada tokoh manusia, maka saat benda mati ini bisa bergerak atau berpindah, itu karena ada unsur tokoh pendukung yang menggerakkannya, yaitu manusia. Misalnya seperti pada tokoh yang pernah saya buat. Dua buah sepeda yang merasa iri dengan pembagian kerja, kemudia mengusulkan untuk bertukar rute. Pada saat bertukar rute ini, mereka bisa berpindah karena sedang digunakan oleh tokoh pendukung yaitu pemilik masing-masing sepeda.



Atau seperti cerita yang ditulis oleh Pak Bambang Irwanto tentang Tuan Garam dan Nona Gula yang menambahkan tokoh manusia. Mereka ditempatkan dalam wadah, bisa berpindah wadahnya karena dipindahkan. Bukan bergerak sendiri.

Pixabay.com


Terus, bagaimana dengan percakapan yang dilakukannya? Tetap ada di dalam dongeng. Ingat, di awal tadi sudah saya katakan bahwa dongeng dengan tokoh benda mati itu membuat tokoh seolah-olah seperti manusia. Kita memberikan nama, nyawa, dan karakter pada tokoh agar hidup dalam cerita. Jadi, boleh dong tokoh benda mati ini hidup dan bisa bercakap-cakap seperti manusia.



Hehehe.... namanya juga dongeng, bukankah semuanya imajinasi? (sedikit ngeles kali ini...)

Yang nomor dua apa? Hahaha... ternyata hanya satu. (ngumpet kalau disampluk nih!) 


Setelah tahu rambu-rambu membuat Dongeng Kontemporer ala-ala saya, mari membuat dongeng dengan tokoh benda mati!

35 komentar:

Rina Adriana mengatakan...

Makasih ilmunya, mba Lisa. 😘

Meta Matuhah mengatakan...

Menarik ya dongeng anak sekarang. Anak saya juga sering nonton Tayo.

Kholifah Hariyani mengatakan...

Yaaah, mbak Lisa, event nulis dongeng kontemporernya udah lewat, rambu-rambunya baru keluar...
Dongeng kontemporer karyaku melanggar rambu-rambu ini gak ya... 🤔😆

Kholifah Hariyani mengatakan...

Yaaah, mbak Lisa, event nulis dongeng kontemporernya udah lewat, rambu-rambunya baru keluar...
Dongeng kontemporer karyaku melanggar rambu-rambu ini gak ya... 🤔😆

Dian Restu Agustina mengatakan...

Mbak Lisa.. Info yang menarik.. Siik asiikk.. Jadi tahu tentang dongeng kontemporer... Makacih

rina indrayani mengatakan...

Dongeng anak hrs educatif krn anak akan selalu mengingat apa yg didengar dan dilihat

Damar Aisyah mengatakan...

Nah, aku jadi kepikiran sama dongeng kontemporerku yg antologi kemarin. Hem, *mikir

lisa lestari mengatakan...

Sama sama mbak na

lisa lestari mengatakan...

Sama, Mbak. Tontonan favorit nih

lisa lestari mengatakan...

Hehehehe.. Nggak berani mbak, takut berbeda pakem. Beda suhu soale...

lisa lestari mengatakan...

Sama sama mbak, itu ala ala saya.. Hahaha

lisa lestari mengatakan...

Yes, betul sekali mbak

lisa lestari mengatakan...

Hahaha.. Itu hanya pakem ala ala saya mbak, bersama mentor pak Bambang

Bety Kristianto mengatakan...

Tayo dan Robocar Poli tontonan wajib di rumah tiap hari hehehe...

Dhika suhada mengatakan...

Tayo idola emak juga ternyata yaaa ����. Pengen bisa bikin dongeng yang kayak gini tapi setting Indonesia . Tapi menulis saja masih terseok seok..apalagi klo harus dengan animasinya.hehehe. tks infonya mba

indiRa mengatakan...

Waaahh jadi tahu kalau yang tiap hari ditonton itu namanya dongeng kontemporer.. Makasiiiii mbak Lisaaa, kapan-kapan mau baca dongengnya Mbak Lisa buat nemenin musa bobok

lisa lestari mengatakan...

Sama mbak, nggak boleh pindah cannel

lisa lestari mengatakan...

Ayo, bikin mbak. Pasti bisa

lisa lestari mengatakan...

Boleh mbak, silakan.

Roikhatuz Zahro mengatakan...

Wajib berguru neh ma mbak lisa masalah cernak. Setelah tahu penjelasannya jadi malu, kayaknya dulu pas nulis donheng kontemporer punyaku lha salah mbak. 😂 tutup muka...

Septia Khoirunnisa mengatakan...

Alhamdulillah dapet ilmu baru tentang dunia kepenulisan. Belum pernah buat dongeng kontemporer sih, tapi yang cukup buat otakku bilang "Oh" itu pas tau jika ada manusia di dongeng kontemporer maka benda memiliki nyawa dan rasa, cuma gak bisa gerak. Thanks Mba buat Sharingnya 🙏

Sabdapendhita mengatakan...

Iya sayapun melanggar mba.. 🙏😁

denik mengatakan...

Wah, jadi tambah ilmu. Boleh nih dicobalah kapan-kapan...hehehe

Sri Mulyani mengatakan...

Saya juga murid mas Bambang Irwanto loh..:D

Fatimah Alfi mengatakan...

Diimajinasi sering kebayang, pas mau dituliskan lewat kata-kata buyar. OMG, sepertinya bakat saya bukan menulis cerita seperti itu. 😢

Btw makasih mba, dapet ilmu baru.

qonita sinta mengatakan...

Wah, ternyata saya penikmat dongeng kontemporer juga kayak Tayo. Tapi proses kreatifnya yang punya pakem begini baru tahu, Mbak.

Makasih udah sharing ilmunya...😉

lisa lestari mengatakan...

Hahhaha.. Waktu itu jujur nggak berani pake pakem ini mbak, soalnya beda suhu.

lisa lestari mengatakan...

Sama sama mbak

lisa lestari mengatakan...

Xixixiixxi.. Itu hanya pakem saya lho mbak

lisa lestari mengatakan...

Ayo, mbak coba. Pasti bisa

lisa lestari mengatakan...

Wah, asyeeek, ketemu murid pak bambang. Tos mbak

lisa lestari mengatakan...

Hahahha.. Sama sama mbak.

lisa lestari mengatakan...

Iya mbak, ini hanya pekem yang saya dapatkan. Bisa berbeda dengan lainnya.

Yurmawita mengatakan...

Aku biasanya belajar dongeng sama anakku yang bungsu hehehe dia suka mendongeng kalau pulang sekolah apa saja yang dia ingat hehe

Novianti Islahiah mengatakan...

Dari kecil suka banget baca dongeng. Tapi sampai sekarang belum pernah cb nulis dongeng. Trimakasih ilmunya mba, bisa dipraktekkan. Dan saya jadi tahu ada jenis dongeng ini. Siap berimajinasi dg benda mati :)

Posting Komentar

 
Copyright © Dunia Lisa
Blogger Theme by BloggerThemes Sponsored by Busy Buzz Blogging