04 Januari 2019

Mitos atau Fakta, Posisi Duduk Menentukan Prestasi Siswa


Pixabay.com
Pernah nggak ikutan heboh seperti ini setiap tahun ajaran baru dimulai?

Sudah menjadi tradisi di Indonesia ya, pagi-pagi buta para orangtua sudah ada di kelas anaknya dan booking tempat duduk paling depan. Bookingnya dengan cara meletakkan tas sekolah milik anaknya. Bahkan ada yang rela menunggu sampai bel berbunyi agar tempat duduk yang sudah dibooking tidak diambil siswa lainnya. Katanya, jika anaknya berhasil duduk di deretan paling depan maka anaknya akan pandai. Kalau duduknya kebagian di belakang nggak akan jadi pinter. Weleh-weleh, segitunya ya.


Kenyataan yang ada di masyarakat kita memang memperlihatkan bahwa anak yang duduk di bangku depan adalah anak yang cerdas. Sedangkan anak yang duduk di bangku belakang adalah barisan anak yang senang membuat gaduh saat jam belajar berlangsung.

Kenyataan di atas berlangsung hingga bertahun-tahun dan bertahan hingga sekarang. Makanya diangggap wajar jika setiap tahun ajaran baru orangtua berebut bangku agar anaknya bisa duduk di depan. Padahal tradisi rebutan bangku ini bisa menimbulkan konflik yang kurang menyenangkan dengan sesama orangtua. Bisa saja saat proses mengamankan bangku depan itu terjadi salah paham antar orangtua hingga berujung pada pertengkaran. Maka dari itu, diperlukan pandangan baru agar acara rebutan bangku tidak berlarut-larut dan menjadi sebuah tradisi yang kekal abadi.

Secara logika, anak yang duduk di depan memang akan lebih memudahkan berinteraksi dengan gurunya. Lebih mudah bertanya jika dia mengalami kesulitan. Berbeda dengan anak yang duduk di deretan belakang. Keaktifan anak lebih sedikit untuk berinteraksi dengan gurunya, mereka lebih banyak berinteraksi dengan teman-temannya.

Apakah ada teori yang membenarkan logika tersebut?

"Chris Hakala dari Western New England University mengungkapkan bahwa sangat susah menafsirkan apakah memang benar posisi duduk menentukan prestasi. Duduk di barisan depan memang berpengaruh pada hubungan antara siswa dengan guru. Di sisi lain, Muh. Mansyur Thalib dari Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah, telah melakukan penelitian terhadap 60 mahasiswa pada tahun 2013 lalu. Penelitian tersebut menyatakan bahwa skor belajar mahasiswa yang duduk barisan depan sebesar 26.5, sedangkan mahasiswa yang duduk di barisan belakang hanya mampu mencapai skor 22.5 saja."

Dua pendapat di atas menyatakan bahwa posisi tempat duduk memang mempengaruhi prestasi anak. Padahal kalau kita melihat, anak yang mampu beradaptasi dengan baik di awal tahun ajaran baru tidak akan mengalami kesulitan dalam hal berinteraksi meskipun dia ditempatkan di bangku belakang. Sebaliknya, jika anak tersebut mengalami kesulitan dalam hal adaptasi dengan lingkungan baru, tetap saja dia akan sulit melakukan sosialisasi.

Sistem pembelajaran di kelas dan suasana kelas tentu saja ikut menjadi faktor prestasi anak disamping faktor dari dalam diri anak sendiri. Bahkan di sekolah tertentu sudah menerapkan pergeseran tempat duduk di kelasnya. Jadi, anak yang duduk di depan tidak selamanya akan di depan, dia akan berpindah duduk untuk bergantian dengan yang duduk di belakang.

Jadi, mitos atau fakta posisi duduk menentukan prestasi siswa?

Posisi duduk hanya faktor kecil dari keberhasilan prestasi siswa, karena masih banyak faktor yang mempengaruhi prestasi siswa. Jika orangtua tetap memaksakan anaknya untuk duduk di depan sedangkan anak sendiri merasa tidak nyaman, itu hanya akan memberatkan anak. Biarkan anak sendiri yang memilih tempat duduknya, orangtua tak perlu melakukan aksi “mengamankan” kursi setiap tahun ajaran baru.

Tulisan ini diikutsertakan dalam progaram ODOP bersama Estrilook Community

#ODOP
#EstrilookCommunity
#Day4

23 komentar:

alif kiky mengatakan...

Bangku depan meja guru biasanya yang belakangan kosong. Kalau tak beruntung, biasanya dapat bangku ini 😂

Nychken Gilang Bedy S mengatakan...

Di sekolah tempat bapakku ngajar masih ada bahkan ada yang bangkunya dipaku

Muhamad Septian Wijaya mengatakan...

Di (paling)depan itu karena emang nggak ada temam buat ngobrol kecuai ten seeh.dykepaksa fokus ke gurunya😂😂

innaistantina mengatakan...

aku paling deg-deg-an kalau dapet giliran duduk paling depan, berasa mau ditelan hidup-hidup sama guru yang baru ngajar, wkwkkw

lisa lestari mengatakan...

Ihihi..betuuul itu

lisa lestari mengatakan...

Samaaaa di sd tempatku ngajar

lisa lestari mengatakan...

Wkwkwkwk...tapi saya dulu selalu pilih bangku depan guru

lisa lestari mengatakan...

Aiisshhh..begitukah? Hahahha

Leila Niwanda mengatakan...

Malah baru tahu ada orang tua yang berupaya begitu, soalnya dulu waktu sekolah pun tidak merasakan demikian :D. Tapi kalau pergeseran tempat duduk tiap harinya, pernah sih waktu SMP.

Dwi mengatakan...

Kalau jaman aku dulu, ya anak2nya sendiri alias kita sendiri yang ngetekin tempat duduk, dateng pagi2, tapi juga gak mau paling depan sih paling deretan kedua

denik mengatakan...

Mitooooosss...hihihi

mutie adnu mengatakan...

Ada benernya juga yakk aku malah pilih duduk no 1 klo gk 2, soalny klo belakang gk keliatan hehe

Siwi Ragil mengatakan...

Aku termasuk penghuni tempat duduk belakang mba hahaa..tapi dari SD sampai SMA tempat duduk emang di rolling 1 minggu sekali jadi kebagian semua deh ngerasain duduk di paling depan, tapi tetep enak duduk di belakang hehhe

Dian Restu Agustina mengatakan...

Syukurlah di sekolah anakku diputar duduknya tiap sebulan sekali Mbak..Teman kiri kanan juga diganti. Jadi ya enggak ngaruh cari duduk paling depan atau enggak
Kalau aku dulu jaman sekolah memang duduk paling depan karena kalau di belakang sering ribut teman kiri kanan, ganggu konsentrasi jadinya hahaha #muridrajin

April Hamsa mengatakan...

Hahaha iya mitos. Tapi saya pribadi lebih suka duduk di depan mbak, krn saya suka gak konsen kalau yang duduk di depan saya ribut hhe. Jd tetep refer duduk di depan. Mungkin cocok buat anak2 yg gampang terdistraksi kyk saya :D

lisa lestari mengatakan...

Hihi...mungkin memang hanya di kampung ya yang seperti ini. Soalnya pas saya ngajar di kota memang nggak ada ortu model begini. Hihi

lisa lestari mengatakan...

Betul mbak, biasanya anak anak sendiri.

lisa lestari mengatakan...

Hahahaha....tos aahh

lisa lestari mengatakan...

Sama mbak, berhubung saya pendek saya juga nggak pernah berminat ambil duduk belakang

lisa lestari mengatakan...

Wah, iyakah, belum pernah nih duduk belakang. Gimana rasanya ya?

lisa lestari mengatakan...

Sama mbak, di kelas saya juga puter tempat duduk. Tapi namanya di kampung, saya pernah diomelin ortu karena anaknya kebagian belakang

Novia Syahidah Rais mengatakan...

Baru beberapa pekn lalu saya ngobrolin soal tempat duduk dengan walas anak saya. Saya mint duduknya di depan karena dia sulit fokus dan pandngan jauhnya juga bermasalah. Hehe belum tahu hasilnya, ntar dilihat dulu pas terima raport.

lita chan lai mengatakan...

haha...ibu2 sering tuh lakukan kaya gitu. bahkan sampe ribut demi dapatkan bangku terdepan.

pengalaman aku selama sekolah, emang sih duduk di depan itu fokus sama yg disampaikan guru, tp kadang suka kudet karena ga bisa lihat teman yg di belakang.

posisi yg bagus buat saya ada di tengah. bisa melihat dan mendengar dg jelas semua informasi

Posting Komentar

 
Copyright © Dunia Lisa
Blogger Theme by BloggerThemes Sponsored by Busy Buzz Blogging