02 Oktober 2017

Sejarah di Sekolah Dasar


Sejarah dan Masa Lalu

Ada yang ingat dengan mesin waktu milik Doraemon? Sebuah mesin yang bisa mengembalikan kita ke dalam waktu yang diinginkan. Bahkan kita dapat memilih di tahun berapa kita bisa melihatnya kembali. Jika ada, asyik ya. Di dalam benak saya, dengan mesin waktu saya akan mengubah kesalahan yang dahulu pernah dilakukan menjadi hal yang lebih baik. Wah, seru pastinya ya.



Bicara mesin waktu seperti memperbincangkan sejarah. Sebuah peristiwa yang sudah terjadi atau terlampaui. Sejarah pastinya berkaitan dengan waktu dan peristiwa. Dan tentunya peristiwa yang sudah terjadi. Sekecil apa pun peristiwa itu, tetap dikatakan sebagai sejarah. Dengan sejarah, kita bisa belajar dari masa lalu.

Sejarah yang Membosankan



Bagaimana dengan pelajaran sejarah di sekolah dasar? Sejarah sudah tidak menjadi muatan pelajaran tersendiri seperti dahulu. Namun, anak masih bisa mengetahui sejarah bangsanya melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, walaupun tidak sebanyak ketika masih menjadi mata pelajaran tersendiri.

Belajar sejarah, asyik kah? Kalau saya pribadi, menyenangkan. Merupakan mata pelajaran yang saya sukai sejak SD. Imajinasi saya bisa berkelana ke tempat-tempat yang diceritakan oleh guru. Apalagi jika bercerita tentang sejarah kerajaan Hindu, Buda, atau Islam di Indonesia pada masa lampau.

Sayangnya, sekarang ini pelajaran sejarah dianggap kurang bahkan tidak menarik. Menurut anak-anak, mereka belajar hal yang sifatnya abstrak. Kejadian yang sudah tidak bisa diulang dan disaksikan sendiri. Alhasil ketika pelajaran berlangsung, akan terlihat wajah-wajah yang tidak tertarik. Ditambah hal yang diceritakan berkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Rasanya agak sulit membawa anak-anak menghayati peristiwa masa lampau dalam kehidupan saat ini.

Lalu, bagaimana caranya?

Ini merupakan PR bagi saya sebagai guru SD ketika menjelaskan tentang sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Diperlukan metode dan media yang berbeda dari mapel lainnya agar anak-anak memiliki jiwa heroik atau kepahlawanan setelahnya.

Misalkan, jika kita ingin mengenalkan anak dengan perjuangan Pangeran Diponegoro. Tidak hanya dengan bercerita yang mungkin membosankan. Sering saya menggunakan teknik bermain peran agar anak menjiwai sebagai tokoh yang sedang dipelajari. Bagaimana anak akan menghayati sebagai tokoh protagonis atau antagonis. Lalu selesai bermain peran, anak bisa menuliskan bagaimana perasaannya setelah menjadi tokoh yang dipilih.

Anak juga bisa mencari literasi dari berbagai sumber. Ensiklopedi atau dari internet tentang peristiwa yang terjadi. Kemudian anak bisa membuat garis waktu atau mind mapping yang dibuat semenarik mungkin dan ditempel sebagai diaplay kelas. Pasti akan menyenangkan sekali. Belajar sejarah menjadi sangate menyenangkan dan tidak membosankan.

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan ketikaa belajar tentang sejarah agar menjadi pelajaran yang menyenangkan. Dipadukan dengan berbagai permainan tentu menjadi alternatif kegiatan pembelajaran. Dengan banyaknya variasi dalam metode, diharapkan sejarah tidak hanya sekadar pelajaran saja, melainkan mampu menjadi sebuah ilmu  untuk bekal di kehidupan nantinya.

Nah, masih menganggap sejarah sebagai pelajaran yang embosankan?

#ODOPOkt1
#Tulisaninidipostingdalam rangkaonedayomepostuntuk BloggerMuslimahIndonesia

5 komentar:

Muyassaroh mengatakan...

Betul sekali, anak-anak sangat suka jika diajak bermain peran...

fajar herlambang mengatakan...

sejarah,pelajaran yang mengasyikan bagi yang hobi membaca mbak.waktu sd.
jadi kangen dengan masa sekolah dasar di kampung

lisa lestari mengatakan...

Betul sekali

Novarina DW mengatakan...

Membuat pelajaran sejarah tidak membosankan dengan membuat mind mapping? Kayaknya seru tuh :)

Anggarani Ahliah Citra mengatakan...

Misalkan, jika kita ingin mengenalkan anak dengan perjuangan Pangeran Diponegoro. Tidak hanya dengan bercerita yang mungkin membosankan. Sering saya menggunakan teknik bermain peran agar anak menjiwai sebagai tokoh yang sedang dipelajari.

___

Ini juga aku terapkan di rumah, mba. Anak lelaki lebih suka main perang2an jadi dia lebih mudah hapal nama pahlawan

Posting Komentar