29 Maret 2017

Surat Cinta



Bolehkah aku menulis sepucuk surat cinta untukmu? Aku rindu saat seperti ini, membayangkan wajahmu tersenyum membaca surat cinta dariku.



Duhai kamu yang bertahta di kerajaan cintaku. Pernahkah sedetik waktu yang kamu lalui merasakan kerinduan terhadapku? Pernahkah sekali dalam gelisahmu kamu begitu membenciku? Karena terkadang aku menjadi sosok yang sangat menyebalkan bagimu.

Cintaku, ketahuilah. Aku sudah membingkaimu dalam hatiku. Menawan hatimu dengan segala cara yang aku yakini akan tetap membuat hatimu berlabuh padaku. Meskipun suatu saat aku pernah menjadi orang yang sangat menyebalkan bagimu. Menjengkelkan hatimu dan selalu membuatmu merasa bersalah.

Belahan hatiku, tak pernah aku bermaksud seperti itu. Menyudutkanmu dengan segala cerewetku. Tidak, Sayang. Sungguh marahku tak pernah bertahan lama denganmu. Cepat sekali menguap, dan sesudahnya aku pasti segera merindukanmu kembali.
Diammu yang terkadang membuat hatiku makin jengkel. Inginku, peluklah aku ketika aku merajuk. Pelukanmu mampu membuatku tersihir. Setelahnya, sila jelaskan padaku sederet alasan yang membuatku paham. Aku pasti akan sangat memahami kondisimu.

Ingat kan? Aku adalah wanitamu, yang tak pernah memintamu menjadi laki-laki sempurna. Aku mencintaimu apa adanya dirimu. Kehadiranmu melengkapi bagian yang kurang dariku. Dan aku sangat bahagia.

Kita memang keras kepala, tak pernah mau mengalah jika menginginkan sesuatu. Namun, kutahu, perasaanmu selalu dapat mengalahkan keegoanku. Jangan diam jika sedang marah denganku. Karena aku paling tersiksa mendapati kemarahanmu. Aku tak pandai merayumu.

Duhai sayang, terkadang aku meminta waktumu lebih dari yang lain. Aku ingin tetap istimewa di hatimu. Menjadi prioritasmu itu sungguh membuatku melambung tinggi. Seolah menempatkanku menjadi seorang ratu di hatimu. Tanpa ada selir mana pun yang berani mendekatimu.

Aku merindukan waktu berdua bersamamu. Memendekkan siang menjadi malam dan memanjangkan malam agar tak segera menjelma pagi. Kita bercengkerama dalam ruang rindu. Aku menunggu itu.

Jangan lelah mencintaiku, Sayang. Temani aku sepanjang hidupku, sepanjang hidupmu. Bersama kita selalu beriring, bergandeng tangan, dan saling menguatkan. Aku ada karena dirimu.

#BelajarRomantis

0 komentar:

Posting Komentar