Anak Suka Melawan Orangtua? Coba 3 Cara Ini Untuk Mengatasi Anak yang Suka Melawan Ucapan Orangtua


Pernah menghadapi situasi seperti ini?

“Dik, tidur siang yuk!”
“Emang kenapa harus tidur siang?”
“Kan biar sehat, Dik. Biar bobok malamnya nggak rewel,” si Emak masih berusaha menjelaskan alasan tidur siang.
“Aku kan sudah sehat. Nggak usah tidur siang.’
Emak mulai tahan napas nih!
“Kalau tidur siang, tubuh kita akan tetap sehat, Dik. Badan Adik juga nggak akan terasa lelah.”
“Nggak ah, aku sehat kok. Nanti kalau aku sakit, aku minum madu aja biar sehat lagi.”
Duh, Emak mulai garuk-garuk kepala yang sepertinya tidak gatal. Ini bocil baru empat tahun, tapi sudah bisa memberikan alasan beragam.
“Adik kalau nggak tidur siang malamnya pasti rewel. Kakinya nendang-nendang,” Emak masih berusaha, “yuk tidur siang sambil dibacain buku!”
“Adik nggak mau tidur siang!” lari deh tuh bocil main lagi sama temannya.

Itu kejadian nggak hanya sekali dua kali biasanya, bisa berkali-kali. Sebetulnya si anak tidak bermaksud melawan orangtua, tapi si anak hanya ingin mengasah negosiasi dirinya dengan si emak. Namun, terkadang kita sebagai ortu suka gemes-gemes gimana gitu ya, menganggap anak itu seolah melawan ucapan kita. Jika bertemu dengan anak model ini, kudu gimana nih?

Membantah/melawan ucapan orangtua bukanlah perbuatan yang baik, bisa jadi merupakan kebiasaan si anak yang awalnya dibiarkan saja oleh orangtuanya atau karena salah penanganan sehingga menjadi kebiasaan yang buruk. Bahkan ada orangtua yang menganggap sikap melawan ucapan orangtua akan hilang seiring umur si anak, sehingga akan cenderung membiarkan sikap anak yang membantah ucapan orangtua.

Padahal seiring berjalannya waktu, kita tidak bisa menunggu perubahan akan terjadi berdasarkan usia anak tanpa ada usaha pendisiplinan dari orangtuanya. Nggak kan? Jangan mimpi, Marimar!
Mengapa? Karena anak akan menganggap bahwa usahanya melawan ucapan orangtua merupakan acara bagi dia untuk mengungkapkan pendapatnya , sehingga sering dijadikan senjata oleh anak.

Lalu, apa dong yang harus dilakukan oleh orangtua untuk mengurangi kebiasaan anak yang suka membalas ucapan orangtuanya? Di bawah ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan:

1. Menangkap Waktu di Mana Anak Mulai Menunjukkan Sikap Membalas Ucapan Orangtua
Terkadang secara nggak sadar saat anak mengucapkan kalimat bantahannya dengan agresif, kita sebagai orangtua ikut terpancing ya. Alih-alih nggak mau kalah sama anak, tapi saat seperti ini justru membuat anak tambah agresif untuk melakukan perlawanan.

Namun, saat orangtua bersikap tenang menghadapi anak yang membantah, maka antusiasme anak juga akan menurun. Anak biasanya akan mengenali reaksi orangtua dan sudah bisa menebaknya. Jika orangtua menunjukkan respon santai dan tidak terbawa keinginan anak, maka anak akan terkejut. Ternyata orangtuanya tidak menunjukkan reaksi seperti yang diharapkan.

Dan ini merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan orangtua untuk mengurangi sikap anak melawan orangtua. Kita bisa menunjukkan empati kepada anak ketika ia mulai menunjukkan sikap membantah ucapan orangtua. Coba katakan padanya, “Oh, begitu ya,” lalu berikanlah saran kepada anak untuk mengatasi masalah bersama.

Pada saat anak dan orangtua melakukan percakapan atas dasar kesepakatan bersama, maka anak akan merasa dihargai ucapannya dan akhirnya anak mulai tidak menunjukkan sikap melawan ucapan dan berusaha mencapai target atau tujuan yang sudah ditetapkan.

2. Tetap Mengungkapkan Dengan Kalimat Positif

Ketika anak sering mendengar ucapan negatif dengan nada yang tinggi dari orangtua, hal itu menjadi penyebab utama anak akan melawan ucapan orangtua dibandingkan dengan anak yang tumbuh di tengah keluarga yang mampu memberikan ucapan positif. Hal ini sama seperti keluarga yang sering menunjukkan sikap langsung mendisiplinkan anak tanpa menunggu nya terlebih dahulu.

Anak yang sering mendapatkan pendisiplinan langsung dari orangtua akan cenderung tidak dapat menunggu orang lain yang sedang berbicara. Biasanya dia akan langsung mengucapkan apa yang ingin dikatakan.

Untuk itu gunakan ungkapan yang positif agar anak dapat melihat dan belajar dari orangtua.

3. Mendengarkan Ucapan Anak Setiap Saat

Terkadang kita lupa untuk mendengarkan ucapan anak, padahal anak juga memiliki pendapat sendiri. Dengan cara ‘melawan ucapan orangtua’ anak berharap ceritanya dapat dilihat dan didengar oleh orangtuanya.

Jika ingin anak tidak melawan ucapan orangtua, kita bisa menggunakan cara ini. Tunjukkan perhatian dan fokus mendengarkan ucapan anak saat dia bercerita.

Nah, tiga cara di atas bisa dilakukan oleh orangtua agar anak tidak lagi melawan ucapan orangtua. Sekali lagi, orangtua adalah model yang nyata untuk anak. anak akan mudah sekali meniru segala ucapan dan sikap kita sebagai orangtuanya. Untuk itulah kita perlu menunjukkan sikap dan ucapan yang patut dijadikan contoh untuk anak-anak. 

Baca juga:

Share:

2 komentar

  1. Pas sekali ini, anak saya juga susah sekali disuruh tidur siang, tapi kadang saya sedikit "kejam", haha.. saya suruh tidur siang, malah minta nonton tv, akhirnya saya biarin nangis sebentar dan saya alihkan dengan membacakannya buku sambil tidur2an, dan akhirnya dia tidur sendiri. Itu contohnya sih.

    Btw, tx infonya ya mba. Sangant bermanfaat.

    ReplyDelete
  2. Hahahaha gemeeesss.
    Tulisan ini sebagai pengingat banget, saya sering banget kesal kalau anak banyak tanya.
    Cereweeetttt minta ampun, padahal ya dia cerewetnya masih normal sih.

    Kalau disuruhpun mulai banyak membantah, disuruh mandi, bilang entar-entar, mamak langsung keluar tanduk hahaha.

    Duh sabaarrr, sabaarrr..
    Kadang gemas sama anak banyak melawan, tapi sekaligus juga kesal.
    Semoga Allah cukupkan selalu stok sabar :D

    ReplyDelete