3 Hal yang Menjadi Pertimbangan Sebelum Memasukkan Anak ke Sekolah Formal


Hasil gambar untuk gambar anak sekolah paud
pinterest.com
“Kok El belum dimasukkan TK, Mi?” tanya salah seorang tetangga yang melihat El masih belum masuk TK padahal usianya sudah 4 tahun.

“Nanti saja kalau sudah 5 tahun,” jawab saya.

Dan tetangga pun akhirnya menjelaskan panjang kali lebar tentang usia anak seharusnya masuk TK. Bahkan ke PAUD yang memang ada di dekat rumah pun saya tidak memasukkan El ke sana. Banyak pertimbangan saat itu kenapa saya tidak menyekolahkan El tepat ketika usianya 4 tahun. Tidak seperti duo kakaknya yang sudah sekolah ketika usianya 4 tahun. Tapi yang ini kan beda? Tiga bocil saya tentu saja tidak bisa disamakan.

Apalagi setelah membaca dan mengikuti kelas online dari School of Parenting, keputusan saya saat itu tepat. Kelas online ini diikuti oleh member School of Parenting dan diadakan pada hari Rabu, 26 Februari 2020 pukul 14.00 bersama mitra ahli Anggiastri Hanantyasari Utami, M. Psi., Psikolog

Lalu, usia berapa sih anak bisa dimasukkan ke sekolah? Apakah hanya berpatokan pada usia saja? Atau ada hal lainnya yang dijadikan pertimbangan untuk memasukkan anak ke sekolah? Tentunya setiap orangtua akan menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Baca juga:
1. Cara Mudah Mengajak Anak Kecil Berpuasa
2. Seni Menegur Anak
3. Bonding Dengan Buah Hati yang Perlu Dibangun Oleh Ibu Bekerja


Beberapa Hal yang Perlu Menjadi Pertimbangan Sebelum Memasukkan Anak ke Sekolah:

1. Kedua Orangtua Bekerja atau Salah Satu di Rumah

Jika kedua orangtua bekerja, maka memasukkan anak ke sekolah bisa menjadi pilihan. Dengan alasan anak bisa mendapatkan stimulus belajar di sekolah, dari pada tidak mendapatkannya di rumah. Tentu saja memilih sekolah formal yang memberikan stimulus sesuai dengan usia anak.

2. Kesiapan Anak
Nah, ini merupakan bagian penting yang harus diperhatikan sebelum memasukkan anak ke sekolah formal. Karena setiap anak belum tentu memiliki kesiapan yang sama. Kesiapan anak di sini meliputi kesiapan psikis dan fisik anak.

a. Kesiapan Psikis
Kesiapan Psikis meliputi kematangan emosi, sosial, dan intelektual.

Kematangan Emosi ditandai dengan:
• Hilangnya ketergantungan anak terhadap orangtuanya atau salah satu keluarga terdekatnya.
• Anak mulai mengenal konsep berbagi
• Anak mulai dapat mengekspresikan emosinya dengan baik, misalnya mampu menyatakan perasaannya tanpa ada tantrum
• Anak mulai berusaha melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain

Kematangan Sosial ditandai dengan:
• Anak mulai berinteraksi dengan orang yang ada di sekitar di luar keluarga dan pengasuhnya. Misalkan dengan tetangganya atau teman sebayanya yang ada di lingkungan sekitar
• Anak mulai mampu menyesuaikan dengan aturan yang berlaku, yaitu memaknai norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Contohnya anak sudah tahu tentang berbagi dan bergantian.

Kematangan Intelektual ditandai dengan:
• Anak mulai dapat berkonsentrasi meski konsentrasinya masih mudah teralihkan
• Anak mulai menguasai banyak kosa kata
• Anak mampu menjawab pertanyaan yang sederhana
• Anak mampu mengungkapkan perasaannya secara verbal sesuai dengan konteks situasi
• Anak sudah mampu menyelesaikan permasalahan sederhana, misalkan memilih pakaiannya sendiri yang akan dipakai hari ini.

b. Kesiapan Fisik Motorik meliputi:
 Anak mampu mengontrol gerakan dan keseimbangan tubuhnya, misalkan anak sudah dapat berjalan di atas titian, anak dapat memegang alat tulisnya dengan benar
 Anak mampu memusatkan perhatiannya pada benda-benda kecil sebagai tanda mulainya muncul kemampuan mengkoordinasikan mata dan gerakan tangan.

3. Lingkungan Sekitar Anak yang Menyediakan Teman Bermain Seusianya atau Tidak

Lingkungan yang menyediakan teman bermain seusianya berfungsi untuk mengembangkan kemampuan sosial anak. Sedangkan akhir-akhir ini kita sering menjumpai bahwa lingkungan seperti ini sudah jarang bisa dijumpai untuk perkembangan kemampuan sosial anak. Nah, jika mendapatkan situasi seperti ini, memasukkan anak ke sekolah formal tentunya akan lebih baik. Tentu saja sekolah tersebut harus memiliki kurikulum yang mendukung kemampuan sosial anak dan tidak memberatkan anak dengan beban-beban akademik.

Jadi, setelah melihat beberapa hal yang dijadikan pertimbangan sebelum memasukkan anak ke sekolah formal baik itu PAUD atau TK, usia bukan menjadi patokan utama dalam memasukkan anak ke sekolah formal. Apalagi jika beberapa poin di atas masih menjadi PR bagi kita sebagai orangtuanya.

Meskipun begitu, kita sebagai orangtua harus tetap memberikan stimulus dan interaksi kepada anak secara langsung. Salah satunya adalah dengan membacakan dongeng kepada anak setiap harinya. Dan perlu diingat bahwa orangtua terlibat dalam proses pendidikan anak, karena hubungan kedekatan orangtua dengan anak akan membangun pribadi anak untuk memiliki mental yang baik dalam menghadapi setiap fase perkembangannya.

Cupilkan Q dan A dalam kelas online ini di antaranya:

School of Parenting

1. Marufi Isabelia
Sore, admin SOP & ibu Anggi, sy Upi. Kebetulan anak sy sdh observasi utk masuk PG tengah tahun nanti, observernya adalah guru TK. Dari hasil observasi, yg perlu dievaluasi yaitu anak sy blm bs memusatkan perhatiannya dlm jk wktu yg lama, msh terdistraksi oleh stimulus lain yg ada di ruangan (yaitu mainan); dan imajinasi yg masih dilibatkan setiap anak sy diberi mainan. Nah bu, dari hasil observasi tsb, apakah wajar dilakukan oleh anak yg usianya blm 3 tahun? Dgn hasil demikian, apakah anak sy sdh bs masuk PG? Terima kasih admin & ibu Anggi

Jawaban Mitra Ahli:
Anak Usia PG saya ibaratkan sekitar usia 3 tahun nggih. Pada dasarnya usia 1-3 tahun adalah masa dimana anak memiliki keinginan eksplorasi yang tinggi. Anak cenderung memiliki rentang fokus yang masih pendek-pendek memang karena ingin mencoba banyak hal. Jika anak masih dapat fokus kurang lebih lima menit pada satu aktivitas sebenarnya masih tergolong normal. Di satu sisi, usia ini memang masih masuk pada usia dimana anak aktif secara fisik sehingga kita sering kali mendapati anak sulit untuk diajak duduk dan melakukan aktivitas tertentu yang butuh fokus panjang. Paling ideal sebenarnya usia anak 1-4 tahun adalah banyak bermain dan melakukan interaksi timbal balik dengan orangtua sebagai pengasuh utamanya. Namun demikian jika tidak memungkinkan, menurut saya baik juga jika memasukkan anak ke PG, tidak masalah. Hanya saja kita perlu selektif memilih sekolah yang memfasilitasi anak sesuai dengan tahap perkembangannya. Tidak memaksa anak untuk melakukan hal yang jauh melebihi tugas perkembangannya.

2. Izzati Winda Murti
Selamat sore, saya winda. Anak saya skrg berusia 32 bulan. Keluarga menyarankan untuk memasukkan anak saya ke PG tahun ini karena kami kedua orangtuanya sama2 bekerja. Anak sy sebenarnya sudah dapat berkomunikasi 2 arah dg baik, memahami instruksi dg baik, bernyanyi dan berinteraksi dengan teman. Namun masih enggan berbagi. Dengan kondisi semacam ini, sy terdorong untuk mengikuti saran keluarga, namun apakah potensi bosan dan stress itu pasti muncul? Bagainana kami menghadapi kebosanan anak terhadap kegiatan sekolah dg baik seandainya hal itu terjadi? Atau bagaimana mencegahnya?

Jawaban Mitra Ahli:
Saya akan coba menjawab pertanyaan ini. Stimulasi untuk motorik pada usia 1-3 tahun pada dasarnya sudah tepat dilakukan mengingat kebutuhan anak usia ini memang dominan pada kemampuan motoriknya. Ini menjadi dasar perkembangan selanjutnya baik kemampuan berpikir, bahasa, sosial, maupun moral.
Mungkin ibu sekalian dapat melihat dalam bentuk seprti apa saja program pemberian stimulasi motorik ini diberikan pada anak. Variasi kegiatan yang dilakukan seperti apa.
Melakukan aktivitas "seru" di akhir minggu bersama ayah dan ibu bisa menjadi salah satu selingan bagi putra-putri menghadapi kebosanan.

3. Mardiana
Bagaimana ya caranya agar saya bisa observasi sekolah apa yang cocok untuk anak saya? saat ini anak saya berusia 2 tahun 5 bulan dan saya masih bingung akan memasukkan anak saya ke sekolah alam, sekolah agama atau homeschooling.. dan saya masih bingung sebaiknya anak saya masuk sekolah di usia berapa? saat ini anak saya memang sudah sangat tertarik untuk ikut sekolah namun saya tidak ingin terlalu terburu2 saya ingin memasukkan anak saya sekolah setidaknya di usia 5 tahun. Apakah keputusan saya tepat? terima kasih

Jawaban Mitra Ahli:
Selamat siang ibu Mardiana, ibu Hanifah, dan ibu Devina. Salam kenal dan terima kasih atas pertanyaannya.

Oiyaa... PAUD disini termasuk di dalamnya adalah TK ya ibu sekalian. Usia 0-6 tahun atau 7 tahun.

Sebelum beranjak pada apakah perlu masuk PG atau langsung TK, kita coba amati sejenak perbedaan antara PG dan TK. Untuk usia, PG biasanya ditujukan untuk anak usia 3-5 tahun sedangkan TK bagi anak dengan rentang usia 5 - 6 atau 7 tahun. Mengingat saat ini usia masuk sekolah dasar adalah 7 tahun. PG lebih pada pengenalan sekolah dan latihan bersosialisasi, sedangkan TK adalah tahap dimana anak disiapkan untuk memasuki jenjang sekolah dasar.

Seperti telah saya sampaikan di materi/ artikel terkait tema kita hari ini. Kita dapat mengamati dari beberapa hal:
a. apakah kedua orangtua bekerja dan tidak memiliki waktu untuk melakukan stimulasi sendiri pada anak
b. apakah anak sudah siap secara fisik dan psikis, seperti halnya telah mampu toilet training, sudah mulai berkurang ketergantungan pada figur lekatnya, mulai bisa mengekspresikan emosi, dan lain sebagainya
c. sudah menunjukkan minat untuk sekolah

Jika, orangtua merasa mampu memberikan stimulasi sendiri di rumah, ada tempat bagi anak untuk melatih kemampuan sosialnya, dan anak belum menunjukkan tanda-tanda tertarik pada sekolah... ditunda dan langsung memasukkan ke TK dapat menjadi alternatif

Share:

0 komentar