07 November 2016

Penyesalan Bunga Matahari

Hasil gambar untuk gambar bunga matahari dan lebah
image: google
  
‘Hei, jangan sekali-kali kamu hinggap di bungaku yang cantik ini!” seru Bunga Matahari dengan suara lantang ketika seekor lebah hendak hinggap.

Lebah sejenak menghentikan kepakan sayapnya. Menatap Bunga Matahari dengan pandangan heran. “Kenapa?”

Tegak kepala Bunga Matahari menghadap Lebah. “Aku khawatir bungaku yang cantik akan rusak oleh kakimu nantinya. Bilang juga kepada temanmu lainnya.”

Lebah menatap penuh mengerti alasan Bunga Matahari. Meskipun hatinya sangat tertarik untuk mengisap nektarnya, ia menahan diri. Bukankah masih banyak Bunga Matahari lainnya yang akan dengan senang hati memberinya nektar?

Sejak saat itu Bunga Matahari yang berdiri paling depan tak ada yang menyentuh. Baik oleh lebah, kupu kupu, ataupun seekor capung. Awalnya hal tersebut tidak menjadi berita yang besar. Tetapi semakin hari perilaku Bunga Matahari yang menolak semua serangga untuk datang, menjadi perbincangan yang ramai.

Bunga Matahari memalingkan wajahnya. Melengos menghadap ke arah lain. “Bungaku sedang mekar dengan cantik. Kalau kalian datang dan menginjakkan kaki kalian, aku khawatir bungakku yanng cantik ini akan rusak. Aku hanya ingin menjadi bunga yang paling cantik di taman ini.” Begitu selalu alasan yang dikemukakan oleh Bunga Matahari jika ada yang baru datang mendekat.

Semakin hari Bunga Matahari yang bangga dengan kecantikannya merasakan hal aneh. Ketika teman-temannya yang berada dalam satu taman berhasil memiliki biji untuk penanaman berikutnya, ia tak menghasilkan apapun. Biji yang berhasil dihasilkan olehnya hanya ada beberapa. Itupun tidak berisi.

Seekor lebah mendekati Bunga Matahari tersebut. Melihat ada kesedihan dari wajahnya.

“Kenapa kamu bersedih? Bukankah sudah tidak ada lagi hewan yang berani menyentuhmu?” tanya lebah tanpa menapakkan kakinya di Bunga Matahari. Ia lebih suka hinggap di tangkai bunga yanng lain, meskipun sedikit lebih jauh tempatnya.

Bunga Matahari menatap wajah lebah yanng dahulu menjadi teman mainnya ketika bunganya belum mekar indah. “Aku hanya menghasilkan biji sedikit. Itu pun kosong.”

Lebah tersenyum. “Itu karena kamu tidak mengijinkan kami membantumu.”

“Maksudmu membantuku apa?” tanya Bunga Matahari tak mengerti.

Lebah terbang mendekat. “Kami para serangga membantu proses penyerbukanmu. Dengan kaki kami yang hinggap di bungamu. Kaki kami membawa serbuk sari kalian. Agar mudah bertemu dengan putik. Jadi kami tidak hanya mengambil nektarmu saja. Kami tahu kok, cara balas budi.”


Penjelasan Lebah membuat Bunga Matahari semakin tertunduk. Kesalahan besar sudah dibuatnya. Dan ia tak bisa memperbaiki kembali. Kini mahkotanya sudah berjatuhan. Tinggal rasa sedih dan penyesalan.

#OneDayOnePost

9 komentar:

Ciani L mengatakan...

ish... ish... sombong sekali bunga mataharinya..

Muhamad Septian Wijaya mengatakan...

ishhh aku selalu suka lah cerita bunda el, jadi terkenang waktu masih muda ahahaha...

lisa lestari mengatakan...

emang udah tua bang ian?

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Keren Mb Lis...

Irma Sari mengatakan...

Mba lisa selalu kereeen

Ran Ran mengatakan...

jadi inget sama film lebah kartun dulu .. hehe

Na mengatakan...

Hahahaha.. Ya ampuun, bang Ian.

Na mengatakan...

Setuju. Ini keren. Saya suka, suka, suka.

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Ah, kalau aku lebahnya, udah ....
heheee

Posting Komentar