14 November 2016

Tanpa Nama

Hasil gambar untuk gambar ruang hampa
image:google


Alika

Ketika aku menitipkan hatiku kepadamu, sungguh aku percaya, engkau tak akan membuatnya retak. Tapi ternyata aku salah. Kau justru memecahkannya hingga hancur berserak...

Alika memeluk kedua lututnya dengan erat. Bahunya berguncang. Suaranya menggema di atas tebing. Menyerukan kepedihan atas luka hatinya. Tak peduli dengan tatapan aneh beberapa ekor burung yang melintas. Yang dia rasakan hanya ingin mengeluarkan sesa di dada agar hatinya menjadi lega. Duduk tanpa alas apapun, membiarkan vario hitamnya berdiri di seberang. Baginya ini adalah tempat yang pas. Tak akan ada orang yang mendengar jeritan tangisnya.

Mendongak ke bawah, terlihat aliran sungai yang jernih. Ada batu-batu besar yang menghambat aliran sungai. Di seberang tebing yang sama tingginya, berderet pohon dengan angkuhnya. Besar dan kokoh.

Alika masih tersedu, menghabiskan sisa kesedihan yang sudah ia pendam. Matanya menerawang jauh menembus langit yang mulai tertutup awan hitam. Sekali lagi Alika tak peduli.

“Kita putus saja, ya. Sepertinya kita mulai sering berbeda pendapat. Ada saja yang membuat kita harus berdebat dan berujung dengan pertengkaran. Maafkan aku.” bunyi whatsapp yanng dikirmkan untuk Alika.

“Oke, siapa takut!” balas Alika tak kalah sengit. Merasa tertantang usai debat kusir yang dilakukannya dengan seseorang di seberang telefon. Emosinya tersulut dengan cepat. Bereaksi atas sikap yang diterimanya.

“Terimakasih atas semuanya.” salam terakhirnya.

“Ya, aku tak akan mengganggumu lagi!” balas Alika.

Kemudia sepi menghampiri keduanya. Biasanya jika Alika emosi, tak pernah keluar kata-kata untuk putus. Hanya diam dan beberapa hari kemudian akan baik kembali. Hingga keesokan harinya, Alika tak mendapatkan chat seperti hari sebelumnya. Sedikit kecewa. Masih agak marah, namun coba diredam. Ditekannya tuts handphonenya mengucapkan kata maaf atas pertengkaran semalam. Terkirim, tapi tidak berbalas. Alika kembali merayu.

“Masih marah ya? Maaf...Udahan dong marahnya. Baikan lagi yuk!” kembali terkirim. Tetap hanya sampai dibaca saja.

Alika masih belum menyerah. Dikirimkan lagi chat dengan emot senyum. Hanya jawaban, “maaf” yanng tertulis.


Alika terdiam. Jawaban singkat dari lelaki yang dicintainya cukup membuatnya paham. Hubungan mereka memang harus berakhir. Alika masih belum begitu sedih. Karena kejadian sebelumnya juga sering. Mereka berdebat, diam, dan akan kembali menyapa setelah masing-masing merasa rindu. Alika memutuskan untuk menunggu hingga amarah yang sedang menguasai lelaki yang dicintainya reda.

Bersambung...

#OneDayOnePost

4 komentar:

Ciani L mengatakan...

Cusss selanjutnya...

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

cap cus 2

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Aduhhhh ... mbrebes mili neh iki engko Lis moco

HERU WIDAYANTO mengatakan...

Aduhhhh ... mbrebes mili neh iki engko Lis moco

Posting Komentar