18 Oktober 2016

Celito

Rumah Paman Lato di atas pohon meranti. Pohon yang konon sudah berdiri sebelum ia lahir. Bahkan usianya lebih tua dari usia Paman Lato. Dahannya yang besar tak muat jika kedua tangan Celito memeluknya. Ia senang sekali bermain di dahan rumah pamannya ini, bergantungan sambil menikmati madu yang berhasil Celito dapatkan dari buruannya.

Hutan di wilayah Borneo ini sebenarnya adalah konservasi. Tidak hanya Celito dan keluarganya yang tinggal di sini. Ada pula buaya dan segerombolan monyet. Mereka menempati lahan yang sama seperti keluarga Celito. Di tanah yang luas, dengan pohon-pohon besar seperti Sengon, Meranti. Pohon yang besar dengan dahan yang kokoh untuk tinggal para beruang madu seperti Celito.

Dengan kukunya yang tajam pada bagian kaki depan, Celito bergegas memanjat pohon meranti, rumah paman Lato. Terlihat oleh Celito Paman Lato sedang asyik rebahan. Adik ayah yang satu ini jika sudah kenyang berburu madu, maka akan tiduran saja dengan mata merem melek menikmati semilirnya angin yang menyusup dari dahan pohon.

“Paman Lato,” dengan suara lirih Celito membangunkan pamannya. Berjalan mendekat dan duduk di dekat kakinya. Meletakkan madu yang diwadahi dalam batang kayu di sebelah tubuh paman Lato.

Paman Lato membuka matanya perlahan. Menatap pada suara yanng baru saja memanggilnya. Keponakannya datang dengan membawa madu yang ia berikan tadi pagi. Terlihat wajah Celito yang ketakutan.

“Ada apa, Celito? Kenapa madunya kamu kembalikan?”

“Ayah memintaku untuk melakukan sebuah pekerjaan agar aku pantas menerima madu dari Paman.”

Paman Lato menganggukkan kepalanya. “Baiklah, supaya madu itu bisa kamu bawa pulang aku ingin kamu membersihkan rumah Paman dari ranting-ranting yang jatuh. Bisa?”

Celito dengan semangat menganggukkan kepalanya. “Bisa, Paman!”

Dengan segera Celito turun dari rumah paman Lato. Dengan cekatan diambilnya ranting-ranting kecil yang berserakan di bawah rumah pamannya. Tidak butuh waktu lama Celito mampu menyelesaikan pekerjaan yanng diberikan. Terbayang sudah madu yang manis bisa ia nikmati setelah jerih payahnya membantu paman Lato. Dalam hati Celito berjanji, akan selalu ingat pesan ayah untuk tidak menerima barang jika belum melakukan apapun, karena itu sama halnya dengan korupsi.



#OneDayOnePost
#Sesaatsebelumseminarmulai

5 komentar:

Ciani L mengatakan...

Aahh ya ya... Bekerja lalu menikmati, baru terasa nikmat.

Vinny Martina mengatakan...

Ih. Keren celito

Ran Ran mengatakan...

celito tmennya chito ya k.. hehehe

Tran Ran

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

keren mbak ls, masih bersambung?

Ainayya Ayska mengatakan...

Ahaha si kaka langsung teringat ma chitonya...

Posting Komentar