22 Oktober 2016

Pendusta Kecil


Kue itu berwarna hijau dengan hiasan kelapa parut. Berbentuk bulat dengan lubang di tengah. Dimasak dengan cara dikukus. Orang menyebutnya putu ayu. Wangi dan menggoda mata untuk menikmatinya. Hanya ada satu tergeletak di atas piring kecil. Aroma pandan sudah menyebar ke seluruh ruangan. Menggoda hidung setiap yang melihat. 

Kaki kecilnya melangkah mengendap-mengendap. Kedua retinanya menatap seluruh ruangan. Kepalanya celingukan. Raut wajahnya menunjukkan ketakutan dan tegang. Ada sesuatu yang akan ia lakukan tapi tak ingin diketahui oleh orang lain. Jantungnya berdegup keras. Jika didengarkan dengan alat stetoskop pasti akan nyaring sekali seperti bunyi genderang perang yang sedang ditabuh. Kedua tangannya diletakkan di belakang punggungnya.

Langkah pelannya mengantarkan ia sampai di meja. Tinggal satu tangkapan, maka putu ayu itu akan berpindah dalam mulutnya. Sekali lagi matanya tajam mengitari ruangan. Masih sepi. Hanya ada dia dan kue hijau ini. Hati kecilnya mengatakan sebuah kebaikan. 

“Itu kue bukan milikmu. Jangan pernah makan barang haram!” bisikan itu halus terdengar dari hatinya.

Kakinya terhenti. Membenarkan kata hatinya. Perutnya berontak.

“Aku lapar. Dari kemarin perutku kosong. Kapan akan kau penuhi agar cacing di dalamnya berhenti berontak?”

Tangan mungilnya mengelus perut ratanya. Sangat kempis. Rasa sakit melilit sudah tidak lagi mempan baginya. Kalah tersingkir oleh keadaan yang memaksa.

Kedua kaki telanjangnya tanpa juga terhenti. “Jangan kau lakukan. Berhentilah! Usah lanjutkan langkahmu hanya untuk menambah dosa.”

Mata hitamnya menatap dua ujung pada kakinya. Kuku panjang berwarna hitam menandakan jarang dirawat. Jempol kakinya bergerak atas bawah. Mempertimbangkan kata hati, perutnya, dan kakinya.

Setelah yakin kondisinya aman, kedua tangannya yang mungil berniat untuk mengambilnya. Terhenti ketika tangannya menjerit. “Tangan mungilmu akan berdosa lagi. Mengambil makanan yang bukan milikmu.”

Peduli amat, kata kepalanya. Rasa laparnya sudah membesar. Tak bisa lagi dikempiskan. Dengan gerakan secepat kilat, putu ayu sudah berpindah ke mulutnya. Satu kali suapan. Dikunyah dengan terburu-buru. Khawatir ada orang yang akan masuk. Tersedak sesaat. Tapi tidak dihiraukan. Tetap mengunyah dan akhirnya tertelan, masuk meluncur ke dalam lambungnya.

Tak ingin minum, bergegas akan melangkah keluar ruangan. Mendadak muncul  tubuh besar berjalan masuk dalam ruangan. Wajahnya langsung pias. Tangan dan kakinya gemetar. Kedua matanya menatap tubuh mungil dengan pandangan curiga.
“Sedang apa kau?”

“Ti...ti...dak apa-apa.” Tergagap menjawab.

“Kau ingin mencuri?” tanya wanita bertubuh besar.

“Tidak!” kali ini mulut mungilnya menjawab dengan tegas. Hati kecilnya mengeluh. "Kau kembali berbohong. Padahal baru saja kau mencuri makanan di atas meja."

Perut ratanya membela. "Biarkan saja, daripada kelaparan. Hanya kue putu ayu kecil, satu pula!"

Kedua kaki tanpa alas berlari menjauh. "Sudah, ayo kita pergi saja! Sebelum pertanyaan tak bisa lagi kau jawab!"


#OneDayOnePost

6 komentar:

Vinny Martina mengatakan...

Ih... ini kisah kucing yah.. keren banget.

Na mengatakan...

Kreatif banget mba.

Ainayya Ayska mengatakan...

Wah... Kucing lagi. Pandailah bun lisa bikin cerita anak, hehe

Na mengatakan...

Kreatif banget mba.

Ciani L mengatakan...

Wahhh keren... Mau dong putu ayunyaa....

Muhamad Septian Wijaya mengatakan...

kucingkah??? masa kucing doyan jue hehehe

Posting Komentar